BEDAH BUKU - KPU Sulteng meluncurkan sekaligus bedah buku di kantor KPU Sulteng, Jalan S Parman, Palu, Selasa 29 Juni 2021. (Foto: Dok. KPU Sulteng)
  • KPU Sulteng Luncurkan dan Bedah Buku

Palu, Metrosulawesi.id – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sulawesi Tengah mengajukan enam rekomendasi untuk meningkatkan partisipasi pemilih di Sulawesi Tengah di masa yang akan datang. Pada pemilihan gubernur dan wakil gubernur Sulawesi Tengah tahun 2020, partisipasi pemilih hanya 74,53% atau tidak mencapai target nasional.

Rekomendasi dituangkan dalam buku yang diterbitkan KPU Sulawesi Tengah berjudul “Partisipasi Politik dan Perilaku Pemilih, Dinamika Partisipasi Pemilih pada Pemilihan Serentak 2020 di Sulawesi Tengah”. Buku ditulis oleh Sahran Raden (Anggota KPU Sulteng), Intam Kurnia (akademisi Untad) dan Randy Atma R Massi (akademisi IAIN Palu).

Buku tersebut diluncurkan sekaligus dibedah di kantor KPU Sulteng, Jalan S Parman, Palu, Selasa 29 Juni 2021. Bedah buku dilaksanakan secara virtual atau dalam jaringan (daring), diikuti sekitar 80-an peserta.

Enam rekomendasi yang ditujukan kepada penyelenggara. Pertama, dalam upaya membangun kesadaran secara sosiologis, psikologis dan rasional bagi pemilih, diperlukan upaya membangun paradigmatik, lebih kreatif dan produktif dari KPU provinsi dan KPU kabupaten kota.

Selain itu, upaya sosialisasi dan pendidikan politik yang dilakukan oleh peserta pemilihan lebih massif dalam melakukan pertukaran gagasan visi, misi program pasangan calon.

Kedua, perlu mendesain strategi sosialisasi dan pendidikan pemilih secara massif melalui tatap muka, penggunaan teknologi informasi dengan konten kreatif berbasis internet dan media sosial.

Ketiga, sosialisasi dan pendidikan pemilih melibatkan adhoc PPK dan PPS. Keempat, mendesain program pendidikan pemilih secara berkelanjutan selama siklus pemilu.

Lima, pembuatan kerangka hukum pemilu melalui peraturan sosialisasi, pendidikan pemilih dan partisipasi masyarakat yang lebih inklusif. Dan keenam, mendesain program sosialisasi yang bebasis digital.

Sahran Raden mengemukakan, pada pemilihan tahun 2020 sebanyak 2.037.819 pemilih terdaftar. Tapi, yang menggunakan hak pilihnya hanya 1.518.821 atau 74,53%. Artinya, tingkat partisipasi tidak mencapai target nasional yakni yakni 77,5%. Meski begitu, lebih tinggi jika dibandingkan dengan partisipasi pemilih pada pilkada 2015 yang hanya 69,71%.

“Mengalami peningkatan, dimana tingkat partisipasi pemilih antara pemilihan tahun 2015 dengan pemilihan tahun 2020 sebesar 4,82%,” ungkap Sahran Raden.

Ada enam daerah yang tingkat partisipasi pemilihnya tidak mencapai target pada Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Tengah tahun 2020 yakni Buol, Donggala, Banggai Kepulauan, Palu, Morowali, dan Parigi Moutong. Dua yang terendah yakni Morowali yang hanya 51,95%, dan Palu 63,06%.

Penulis dalam buku ini membagi dua faktor partisipasi pemilih yakni internal dan eksternal. Faktor internal yakni keraguan pemilh terhadap kemanfaatan dari hasil yang diterima dari pemilihan; aspek kesibukan pekerjaan; dan aspek ketidakpedulian atau kurangnya kesadaran.

Sedangkan eksternal yakni aspek teknis penyelenggraan; aspek administrasi kependudukan; aspek politik; dan aspek pandemi Covid 19.

Terkait dengan perilaku pemilih, penulis buku membaginya dalam tiga bagian yakni karakter Sosiologi, karakter psikologis, dan pilihan rasional. Dijelaskan, karakter sosiologi yang dimaksudkan adalah preferensi memilih yang menempel pada diri individu berupa nilai agama, kelas sosial, etnis, daerah, tradisi keluarga.

Sedangkan perilaku pemilih model psikologi adalah adanya keterikatan psikologi yang membentuk orentasi politik seseorang dengan kandidat dan partai politik. Adapun pemilih rasional adalah memilih karena alasan visi, misi, dan program.

Namun, dari beberapa faktor tersebut penulis buku tidak menyebutkan yang lebih dominan mempengaruhi tingkat partisipasi pemilih.

“Kami tidak mengukur faktor mana yang paling dominan terhadap partisipasi pemilh,” kata Sahran Raden menjawab pertanyaan peserta.

Penulis lainnya, Randy Atma R Massi mengemukakan, faktor yang menyebabkan pemilih tidak menggunakan hak pilihnya di Pilgub Sulteng, salah satunya karena figur.

“Faktor figur menjadi alasan pemilih tidak menggunakan hak pilihnya di TPS,” ujarnya.

Oleh karena itu, kata dia ke depan figur harus yang sesuai keinginan masyarakat.

“Kalau figur yang diinginkan, maka walaupun terjadi pandemi Covid-19 akan tetap menggunakan hak pilihnya,” jelasnya.

Reporter: Syamsu Rizal
Editor: Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas