Home Artikel / Opini

Pak Ikram dan Dana Hajinya

SETELAH menunggu puluhan tahun, akhirnya nama Pak Ikram masuk dalam daftar resmi yang akan berangkat menunaikan ibadah haji pada 2020.

Dia pun melengkapi syarat teknis sebagai calon jemaah haji: pelunasan dana haji, pemeriksan kesehatan lengkap, mengurus paspor, dan mengikuti manasik haji.

Saat jadwal pengambilan koper haji diumumkan, tiba-tiba Pak Ikram lunglai, lemas, lantaran di saat itu pemerintah mengumumkan pembatalan. Alasannya, negerinya pada tahun 2020 tidak memberangkatkan calon jemaah haji karena pandemi covid-19 mengganas. Juga, pihak Arab Saudi tidak mengizinkan calon jemaah haji masuk di negerinya. Alasannya sama, pandemi mengganas.

Pak Ikram mendapat penjelasan dari pemerintah bahwa bukan pihaknya tidak berniat memberangkatkan calon jemaah haji ke tanah suci, namun sangat beriziko perjalanan religius ini bila dipaksakan, karena itu tadi, wabah corona terus mengintai mangsanya, yakni manusia.

Seorang ulama ternama di kotanya juga mendatangi Pak Ikram di rumahnya.

“Sabar, Pak Ikram. Bapak tidak gagal naik haji. Hanya untuk tahun ini batal. Insya Allah tahun depan 2021, Pak Ikram akan berangkat naik haji. Yakinlah itu. Pemerintah itu selalu berpikir baik kepada rakyatnya, juga demi kesehatan Pak Ikram sendiri.”

Berangsur, Pak Ikram dapat menerima pembatalan ini. Perasaan kecewa dengan fisik yang lunglai dan lemas itu, perlahan, semangat hidupnya mulai tumbuh kembali.


TAHUN 2021 tiba. Janji naik haji pun tiba. Pak Ikram menggelar syukuran di rumahnya. Sejumlah kerabat dan temannya hadir. Usai tamunya menikmati lezatnya berbagai macam makanan, Pak Ikram hendak menyampaikan tahapan keberangkatannya ke tanah suci. Eh… tiba-tiba dia pingsan, bukan lagi lunglai dan lemas, seperti pada 2020, tapi kali ini pingsan. Ternyata penyebabnya: Pak Ikram–saat siap-siap bicara pada tamunya–melihat Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas di televisi swasta mengumumkan pembatalan calon jemaah haji tahun 2021 ini. “Bagaimana mungkin secepat itu. Bukankah pemerintah Arab Saudi belum mengumumkan tentang boleh atau tidak calon jemaah haji masuk di negaranya. Ini namanya keputusan sepihak.”

“Bagaimana kalau Pak Ikram meminta kembali dana hajinya, daripada menunggu tak ada kepastian?” tanya seorang kerabatnya, satu hari setelah Pak Ikram Pingsan.

“Dana apa yang mau diminta kembali?” tanya balik Pak Ikram.

“Ya, dana hajinya yang sudah disetor pelunasannya itu.”

“Katanya, dana haji sudah tidak ada. Entah dipakai apa…”

“Ah, siapa bilang, Pak Ikram?”

“Tuh, Pak Rizal Ramli.”

“Pak Ikram percaya cerita Pak Rizal Ramli?”

“Iyalah, Pak Rizal Ramli itu kan Menko rezim Gus Dur dan rezim Joko Widodo. Artinya, dia itu manusia cerdas dan berani, yang terakhir ini yang berat.”

“Maksudnya, Pak?”

“Di negeri ini banyak orang cerdas, tapi tidak berani. Pak Rizal ini memiliki keduanya.”

“Tidak juga, Pak Ikram.”

“Berani ndak pemerintah mengundangnya untuk membuktikan argumennya soal dana haji itu?”

“Kita lihat saja perkembangannya, Pak Ikram.”

“Boleh, tapi perkembangannya bukan berarti Pak Rizal Ramli harus ditangkap, kan?’

Kerabat Pak Ikram itu pergi sembari tersenyum simpul. (#)

Ayo tulis komentar cerdas