Home Palu

Kesenjangan Pendidikan Masih Menggelayut Kota Palu

BELAJAR - Keceriaan para siswa SDN Inpres 2 Kawatuna saat melakukan pembelajaran pada Puskesmas di Dusun Uwentumbu, Kelurahan Kawatuna, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu. (Foto: Metrosulawesi/ Muhammad Faiz Syafar)
  • Pemerataan tak Sentuh Dusun Uwentumbu

Palu, Metrosulawesi.id – Suasana haru berbalut sendu kala menyambangi pedalaman Dusun Uwentumbu, Kelurahan Kawatuna, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu.

Jika penasaran, ada tepatnya merasakan suasana itu sebelum matahari berada  tepat di pucuk kepala. Dusun itu akan menampakkan visual maupun potret perjuangan anak-anak usia 6-7 tahun dalam memaknai seragam putih merah.

Adalah mereka, siswa-siswi Sekolah Dasar (SD) Inpres 2 Kawatuna dengan kedua kaki mereka tak kenal lelah berusaha memaknai apa arti memakai pakaian itu.

Pandangan penulis usai bertemu dengan para siswa ini, makna itu terbilang sederhana, meraup ilmu pengetahuan dari  delapan guru SD Inpres 2 Kawatuna yang tak peduli jarak, waktu, atau bahkan mungkin penghasilan mengabdikan dirinya bagi pendidikan di sekolah itu.

Para siswa yang umumnya Suku Kaili berdialek Ledo ini tinggal di ketinggian kawasan gunung Bulu Masomba, Kelurahan Kawatuna dan sekitarnya. Jarak belasan kilo dengan medan yang cukup ekstrem dan harus melalui empat anak sungai untuk ke sekolah bagi para siswa ini adalah arena bermain yang menyenangkan. Bagaimana tidak, sisi kanan jalan berdiri bukit terjal yang kapan pun bisa longsor, jalur sungai lengkap dengan aliran air yang sewaktu-waktu bisa banjir berada di sisi kiri jalan menyimpulkan sulitnya medan pendidikan mereka.

Serba sederhana, merupakan pola hidup pada tiap rumah peserta didik ini. Mayoritas sumber pundi-pundi rupiah orang tua mereka berasal dari sepetak dua petak kebun tertanam kemiri dan beberapa jenis sayuran lainnya yang dijual di Pasar Lasoani. Itu pun bukan saban hari orang tua mereka mengantongi uang, mengingat jadwal buka Pasar Lasoani hanya Rabu dan Sabtu.

Gambaran hiruk pikuk peserta didik ini diungkapkan langsung oleh Plt. Kepala SD Inpres 2 Kawatuna, Abiazid.

Abiazid mengungkapkan, untuk mendekatkan akses pendidikan kepada anak didiknya, dirinya ditemani 8 gurumemaksimalkan sebuah Puskesmas bermodel Bantaya sebagai kelas di pedalaman Dusun Uwentumbu.  Juga alasan pagebluk virus corona yang membatasi para siswa bersekolah tatap muka sejak setahun lalu yang membuat pihaknya memutuskan untuk tidak mengaktifkan gedung SD Inpres 2 Kawatuna.

Pertimbangan lainnya, kata Abiazid, ketidakmampuan dan keterbatasan tenaga Guru jika menyambangi satu per satu rumah para siswa nan jauh di pelosok gunung demi jadwal pembelajaran. Abiazid pun memilih Puskesmas yang difungsikan sebagai kelas sementara bagi siswa kelas 1 sampai kelas 6.

“Apalagi sangat tidak mungkin kami lakukan pembelajaran daring (dalam jaringan) kepada anak-anak, karena memang sinyal internet tidak ada di sini. Sedangkan untuk sinyal telepon saja harus naik ke ketinggian gunung supaya lancar suaranya (telepon),” ucap Abiazid kepada Metrosulawesi.

Di momen tersebut, terbilang sekitar 20 siswa-siswi telah menempuh jauhnya berjalan kaki dari rumah menuju Puskesmas itu.Sebagian siswa pun tampak tegang menjawab soal ujian semester dua di hadapan salah satu gurunya. Sementara yang lain, sedang asik bermain, ribut namun ceria, tak ada keluh kesah yang tampak.

Abiazid menuturkan, hampir 10 siswanya bermukim paling jauh  dari sekolah, kurang lebih 10-15 km atau dua jam jalan kaki.

Nyatanya, di tengah getolnya persaingan meningkatkan kualitas infrastruktur dan maraknya promosi pemerataan pendidikan di Kota Palu, terpampang nyata situasi dan kondisi yang jauh tertinggal di SDN Inpres 2 Kawatuna.

Abiazid yang telah 18 tahun berprofesi sebagai Guru di SDN Inpres 2 Kawatuna itu mengaku sejak 2017 pihaknya sangat minim menerima bantuan dari pihak Dinas Pendidikan Kota Palu.

“Jadi sekarang yang kami andalkan hanya dana BOS, dana BOS kami yang paling kecil di seluruh sekolah di Kota Palu. Kemarin pascabencana saja kami terima bantuan sepatu dari Dinas Pendidikan Kota Palu, sebelum dan setelah itu tidak ada. Kami pernah ajukan untuk pengadaan televisi, laptop, dan infocus, kalau tidak salah itu 2019, sampai pernah Kepala Dinas Pendidikan Kota Palu ke sekolah kami menanyakan apa yang kami perlukan, namun hingga saat ini bantuan itu tidak ada”.

“Bangunan SDN Inpres 2 Kawatuna ini dari 1986, baru satu kali direhab, plafonnya saja. Jadi ini bangunan tua, yang merupakan hibah, luasnya kurang lebih 1 hektar, akta hibahnya ada. Perpustakaan tidak dapat kami fungsikan lagi karena rusak akibat gempa, temboknya lepas dari tiang. Kenapa kemarin kami minta juga pengadaan televisi? Karena anak didik kami kalau jam istirahat, mereka lari ke rumah warga sekitar sekolah untuk nonton televisi, karena mereka memang sangat jarang sekali nonton televisi. Jadi kalau sudah jam masuk kelas lagi, kami jemput mereka ke rumah warga itu,” ungkapnya sambil tersenyum.

Idealnya, kesenjangan pendidikan yang tersaji di Dusun Uwentumbu, Kelurahan Kawatuna yang merupakan bagian dari Ibu Kota Provinsi Sulawesi Tengah tidak terjadi. Kota Palu adalah etalase pendidikan di Sulawesi Tengah, seharusnya hal ini segera disikapi. Hemat penulis, pemerataan pendidikan yang digaungkan oleh Pemerintah Kota Palu tidak terjadi di Dusun Uwentumbu.

Reporter: Muhammad Faiz Syafar
Editor: Yusuf Bj

Ayo tulis komentar cerdas