Home Palu

Menolak Relokasi karena Mata Pencaharian

HUNTARA - Seorang berjalan di kompleks hunian sementara di Kelurahan Lere. (Foto: Metrosulawesi/ Fikri Alihana)
  • Dua Tahun Lebih Bertahan di Hunian Sementara

Sudah dua tahun lebih pascabencana melanda Kota Palu dan sekitarnya pada 28 September 2018 lalu. Di Kelurahan Lere, masih ada sekitar 50 kepala keluarga yang tetap bertahan di hunian sementara (huntara). Mereka menolak direlokasi ke hunian tetap (Huntap). Kenapa? Berikut laporan singkatnya.

Laporan: Fikri Alihana

PETAK-PETAK kecil beratap biru tampak berjajar rapi di salah satu gang sempit di Kelurahan Lere, Palu Barat. Dinding rumah terbuat dari bahan asbes. Bubungan rumahnya tidak tinggi, sehingga ujung atapnya menyamahi bahu orang dewasa. Satu petak ditinggali satu kepala keluarga dengan beragam jumlah jiwa. Rumah kecil ini dibangun sebagai hunian sementara untuk warga yang kehilangan tempat tinggal di Kelurahan Lere.

Ditemui di Huntara, Sakir, salah satu warga Kelurahan Lere mengungkapkan, dirinya bersama 50 kepala keluarga (KK) sudah dua tahun lebih tinggal di huntara itu. Mereka memilih bertahan di hutara karena alasan mata pencaharian sebagai nelayan.

“Tidak mungkin semua keinginan pemerintah diikuti masyarakat. Kami ini hanya nelayan begini, mau direlokasi otomatis kita tolak. Karena warga di sini sebagian kecil saja memiliki pekerjaan tetap seperti PNS,” ungkapnya.

Sakir mengaku, dia dan rekan-rekannya menolak direlokasi ke tempat jauh dari pantai. Ia mengatakan, tetap ingin tinggal di Kelurahan Lere.

Beberapa waktu lalu, katanya, Ia dan penyintas lainnya mendapat informasi bahwa Pemkot Palu berencana membangun hunian tetap yang tidak jauh dari pantai. Yaitu di lokasi eks rumah susun (Rusun) yang ada di Kelurahan Lere. Tetapi hingga kini belum terlihat.

“Pemerintah janjinya dibangunkan rumah untuk kami khusus nelayan, dan warga sudah isi formulirnya waktu itu. Tapi sampai sekarang tidak ada reaksi, apakah jadi atau tidak pembangunan hunian tetap yang dikhususkan bagi warga Lere,” tuturnya.

Selain di Kelurahan Lere, penyintas di Kelurahan Balaroa pun sebagian belum mendapatkan huntap. Sekitar puluhan KK warga Balaroa, kini masih bertahan di Huntara di Kelurahan Duyu karena belum mendapatkan huntap.

Salah satunya, Kiki Sahria Gobel yang merupakan warga Perumnas Balaroa korban gempa bumi dan likuifaksi. Dirinya pun hanya berharap semoga perhatian dari pemerintah terhadap para korban bisa secepatnya direalisasikan.

“Sebenarnya banyak keluhan kami selama tinggal di Huntara. Tapi mau bagaimana lagi, kalau kita ambil kontrakan pasti bayar. Sedangkan, pekerjaan suami saya hanyalah buruh. Apalagi ditambah kondisi sekarang pendapatan tidak menentu,” ungkapnya.

Bahkan saat terjadi bencana 28 September 2018 silam, dirinya juga kehilangan enam anggota keluarga, termasuk anak pertamanya. Mirisnya lagi, ia tidak terdaftar untuk mendapatkan uang santunan duka. (**)

Ayo tulis komentar cerdas