Gubernur Sulawesi Tengah H Longki Djanggola menandatangani dukungan atas peluncuran Klinik Ekspor Sulawesi Tengah pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulawesi Tengah, Sabtu, 5 Juni 2021. (Foto: Metrosulawesi/ Pataruddin)

Palu, Metrosulawesi.id – Gubernur Sulawesi Tengah H Longki Djanggola mengatakan meski menjadi satu dari tiga daerah penyelamat ekspor nasional dari produk nikel pada 2020 masa pandemi, ternyata tidak membuatnya bangga.

“Saat ini, kami pemerintah daerah tidak cukup berbanga karena komoditi unggulan daerah dari sektor pertanian, perkebunan, perikanan dan kehutanan masih memiliki peran yang kurang signifikan dalam realisasi ekspor daerah,” kata Longki Djanggola ketika meluncurkan Klinik Ekspor Sulawesi Tengah di Kantor Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulawesi Tengah, Sabtu lali.

Menurut Longki, tentunya kita semua perlu kerja keras untuk meningkatkan peran komoditas-komoditas tersebut ke depannya dengan bersinergi bersama stakeholder berkepentingan dan berpengaruh pada peningkatan ekspor.

Saat bertemu Menteri Perdagangan dan Perindustrian Muh Lutfi beberapa hari lalu di Jakarta, menteri mengapresiasi pertumbuhan positif Sulawesi Tengah dan menyelamatkan wajah Indonesia.

“Betul pak. Tapi kami tidak bangga karena kami tidak mendapatkan apa-apa sebagai dampak dari regulasi, kecuali Dana Bagi Hasil (DBH). “Itupun tidak diberikan sekaligus atau dicicil dan lama,” kata Longki.

Sebelumnya, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulawesi Tengah Richard Arnaldo pernah membeberkan nilai ekspor Sulteng di 2019. Nilai ekspor Sulteng 2018 sebesar USD 3.633 juta meningkat pada 2019 menjadi USD4.774 juta dan terjadi peningkatan sekitar 110 persen. Selain itu, di antara provinsi di Indonesia yang meningkat nilai ekspornya di atas 100 persen hanya dua provinsi, yakni Sulteng dan Maluku Utara.

“Sampai 2019, nilai ekspor Sulteng sudah signifikan di atas target yang ditetapkan. Sulteng berada di posisi ketiga setelah Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan,” ujarnya.

Sementara, data Januari sampai Mei 2020, kata dia, terjadi peningkatan nilai ekspor dari tahun sebelumnya sebanyak 30 persen. Artinya, dampak pandemi Covid-19 di Sulteng bisa dikatakan untuk pertumbuhan ekspor itu tidak terlalu berpengaruh secara serius.

“Meski sudah signifikan namun perlu ditingkatkan lagi. Dengan data tersebut, saya berharap para IKM dan pelaku usaha bisa terpicu dan mudah-mudahan bisa menjadi bahan bagi para calon eksportir, kita harus menghasilkan produk-produk yang bisa diterima oleh masyarakat secara luas, nasional maupun internasional karena ada banyak potensi untuk ekspor di Sulteng,” jelasnya.

Reporter: Pataruddin – Fikri Alihana

Ayo tulis komentar cerdas