Home Donggala

Mulai Dikejar Parang hingga Insentif Belum Dibayar

dr Kristiani. (Foto: Metrosulawesi/ Tamsyir Ramli)
  • Suka Duka Tenaga Kesehatan dalam Menangani Pasien Covid-19

Sudah dua tahun berjibaku dengan penanganan Covid-19. Tim medis tetap memberikan pelayanan dengan penuh keikhlasan, meninggalkan keluarga hingga mempertaruhkan keselamatan jiwa. Di tengah kerja ikhlas itu sebagian mereka belum menerima insentif.

ADALAH dr Kristiani, salah satu tenaga dokter yang sehari-harinya bekerja di Puskesmas Donggala-Sulawesi Tengah. Dia mengaku belum menerima insentif penanganan Covid dari pemerintah.

“Itu sudah tugas kami pak memberikan pelayanan, tetapi hingga kini kami belum menerima insentif,” kata dr Kristiani kepada Metrosulawesi, Kamis 3 Juni 2021.

“Kami juga belum mengetahui kendalanya apa sehingga insentif belum ada, pastinya kami hanya menerima uang kegiatan saja pengganti uang transpor,” sebutnya lagi.

Dokter yang sudah bekerja 1 tahun 2 bulan ini, menjelaskan suka dukanya selama menangani pasien Covid-19. Ia banyak bersentuhan langsung dengan berbagai karakter masyarakat. Bahkan dirinya pernah dikejar parang oleh keluarga yang terkonfirmasi Covid-19.

Selain itu, stigma miring terhadap tim medis atau dokter menjadi santapan sehari-harinya. Ada anggapan di masyarakat katanya, dengan meng-covid-kan orang, dokter akan mudah mendapatkan dana puluhan juta.

“Kami ini dokter sudah bekerja maksimal, meninggalkan keluarga bahkan nyawa kami taruhannya membantu masyarakat, tetapi kami sering tidak diterima baik di masyarakat. Saya pernah dikejar parang di salah satu kelurahan, bahkan jika kami turun sering dianggap mencari uang jika mengcovid-kan orang,” tambahnya.

Koordinator lapangan Tim covid-19 Donggala, Sahdan mengatakan persoalan belum terbayarkan insentif dokter dikarenakan proses administrasi yang berbelit untuk mengklaim insentif dokter dari kemenkes.

“Administrasinya yang ribet pak, buat SPJ (surat pertanggung jawaban) waktunya mepet. Coba konsultasi ke dinas saja pak, yang ada hanya uang kegiatan saja untuk dokter” sebutnya.

Disinggung besaran insentif dokter jika nantinya akan dibayarkan, Sahdan menjawab berdasarkan juknis setiap dokter harus menangani 4 pasien untuk memperoleh dana insentif sebesar Rp5 juta.

“Untuk mengklaim insentif harus tangani 4 pasien besarnya itu Rp5 juta, itu tadi kendalanya buat SPJ,” tutupnya.

Persoalan insentif dokter yang menangani Covid tidak hanya dirasakan oleh dokter di Kabupaten Donggala. Di Kota Palu pun demikian. Hanya saja tidak separah yang dialami dokter di Donggala. Sebagian dokter di Kota Palu sudah menerima insentif dari penanganan Covid.

Plt Ditektur RS Anutapura, drg Herry Mulyadi mengatakan, insentif dokter dan perawat yang menangani pasien Covid-19, di rumah sakit yang dipimpinnya itu untuk bulan lalu sudah dibayarkan. Saat ini tinggal menunggu insentif yang April dan Mei.

“Menurut informasi sementara proses di Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Kota Palu, untuk penagihan atau klaim pembayaran sudah kami setor ke BPKAD yang bulan April dan untuk Mei akan menyusul. Sehingga saat ini tinggal menunggu proses pembayaran,” katanya.

Herry mengungkapkan, proses untuk insentif ini perlu melalui beberapa proses verifikasi, dan membutuhkan waktu berminggu-minggu. Sebab pertama verifikasi dari Rumah Sakit, Dinas Kesehatan, baru dibawah ke BPKAD untuk dicairkan.

“Jadi dicek dulu apakah betul dokternya hadir periksa pasien, begitupun perawatnya. Jadi bukan sembarangan tiap bulan terima, tetapi melalui verifikasi ketat, kalau misalnya mereka harusnya masuk 10 hari, tetapi tenaga kesehatan itu masuknya hanya 7 hari dipotong,” ujarnya.

Olehnya itu, kata Herry, pembayaran insentif itu sesuai hasil kerjanya, karena ada tim verifikator untuk memeriksa kelengkapan berkas klaim dari dokter dan perawat yang tangani Covid-19.

Selain itu Herry mengatakan, di Dinas Kesehatan juga diperiksa karena dihindari adanya fiktif, misalnya teryata dokter yang tidak masuk minimal harus sesuai Juklak dari Pusat.

“Kalau insentif Covid itu banyak sekali yang dilalui, karena harus ada barang bukti bahwa dokter itu datang periksa, karena kalau tidak ada pasiennya bagaimana mau dibayar. Jadi beda itu insentif biasa, kalau insentif Covid sangat ketat pemeriksaanya,” katanya.

Kata Herry, dana insentif itu sudah ada tinggal menunggu, kalau lalu itu sedikit repot karena anggaranya dari pusat. Tetapi sekarang daerah masing-masing refocusing sehingga seluruh anggaran APBD dipotong untuk dana insentif.

“Alhamdulillah insentif di RSU Anutapura berjalan lancar, pembayaran tidak ada dipersulit hanya saja memang lambat karena banyak melalui proses, saya ucapkan terimakasih kepada Wali Kota dan Wakil Wali Kota yang menginstruksikan agar pembayaran insentif segera dibayar,” ujarnya.

Herry mengatakan, tim medis Covid RSU Anutapura bisa menerima kondisi keuangan dan kemampua Kota Palu.

“Olehnya itu intinya adalah kami akan terus berusaha sekuat tenaga melayani pasien Covid maupun pasien umum. Alhamdulillah kondisi pasien covid saat ini terus menurun,” ungkapnya.

Reporter: Tamsyir Ramli – Moh. Fadel
Editor: Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas