Home Artikel / Opini

Mimpi Konservasi di Tengah Maraknya Bom Ikan

EKSOTIS - Salah satu tempat wisata di pulau Togean, Touna. (Foto: Metrosulawesi/ Sulapto)

Praktik bom ikan masih terus terjadi di kawasan Cagar Biosfer Kepulauan Togean. Aparat payah menghadapinya.

Laporan: Syamsu Rizal

INDRAWIJAYA Laborahima (32) menemukan longsoran pada dinding karang setinggi 15 meter. Beberapa ekor ikan hancur berserakan di antara terumbu karang yang patah-patah.

“Pasti karena bom. Kami temukan ikan yang hancur. Ada yang masih bergerak-gerak. Karang juga patah-patah dan ada longsoran,” kata Indrawijaya, Ketua Ampana Dive Community kepada Metrosulawesi, Selasa 31 Mei 2021.

Saat itu, Indrawijaya sedang menemani enam penyelam dari Jakarta untuk berwisata menikmati keindahan terumbu karang, Jumat, 21 Mei 2021. Mereka menyelam di Tanjung Apollo, Pulau Unauna. Sekitar pukul 11.00, terdengar dentuman di dalam laut. Tapi, belum diketahui sumber dentuman tersebut.

“Sekitar jam tiga, kami menyelam lagi di spot Artemis masih di sekitar Pulau Unauna, di situlah kami lihat karang bekas bom yang rusak dan ikan mati. Pelakunya sudah tidak ada,” kata Indrawijaya.

Ada dua tempat tidak berjauhan tampak kontras di wall (dinding karang) di antara karang yang masih bagus.

“Kemungkinan dua kali bom,” katanya.

Padahal, lokasi pengeboman ikan itu masuk dalam kawasan Cagar Biosfer Kepulauan Togean. Kawasan seluas 362.605 hektare itu telah ditetapkan sebagai Cagar Biosfer dalam sidang ke-31 International Coordinating Council of the Man and the Biosphere Programme (ICC-MAB) UNESCO Meeting di Head Quarter UNESCO, Paris, Prancis pada 19 Juni 2019.

Kepulauan Togean di Kabupaten Tojo Unauna, Sulawesi Tengah adalah World Coral Triangle atau representasi dari wilayah Indonesia dan lima negara lain yang memiliki tingkat keanekaragaman terumbu karang tertinggi di dunia.

Pengeboman ikan yang ditemukan Indrawijaya adalah cerita panjang yang tak kunjung berakhir. Pada tahun 2018, sudah ribuan hektar tutupan karang yang rusak di kawasan dimana terdapat karang endemik, Accropora togeanensis. Salah satu penyebabnya adalah praktik destruktive fishing (DF).

Destruktive fishing adalah menangkap ikan dengan cara yang tidak ramah lingkungan, merusak sumber data kelautan dan perikanan. Dua jenis DF di laut yakni blast fishing (bahan peledak) dan cyanide fishing (racun atau bius).

“Setiap 250 gram bom bisa menghancurkan 5,3 meter persegi karang,” kata Kepala Bidang Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sulawesi Tengah, Agus Sudaryanto menjelaskan tentang daya rusak bahan peledak ditemui Metrosulawesi di kantornya, Rabu 5 Mei 2021.

Bom ikan juga membahayakan pelakunya seperti yang terjadi di Perairan Tanjung Uting Desa Kabalutan Kecamatan Talatako pada 17 Maret 2017 silam. Saat itu, seorang nelayan meninggal dunia diduga karena terkena serpihan bom yang meledak saat akan digunakannya. Begitu pula bius atau racun berbahan potasium sianida lebih berbahaya dibanding bom ikan.

Penelusuran Metrosulawesi, sepanjang tahun 2017 sampai dengan 2021, puluhan kasus DF yang ditangani Dinas Perikanan Tojo Unauna dan Dinas Kelautan dan Perikanan Sulteng serta kepolisian. Begitu juga yang ditangkap oleh Balai Taman Nasional Kepulauan Togean. Tapi, dari Sistem Informasi Penelusuran Perkara Pengadilan Negeri Poso, hanya empat yang ditemukan putusannya dalam rentang waktu tersebut.

Agus Sudaryanto meyakini, pelaku yang tidak tertangkap lebih banyak dibandingkan yang ditangkap dan diproses hukum. Seperti kejadian yang diceritakan Indrawijaya saat menyelam di Pulau Unauna. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Tojo Una-Una pernah menginventarisir, terdapat 25 dari 90 spot diving dalam kondisi buruk.

42 Persen Karang Rusak

Maraknya praktik DF di Kepulauan Togean menjadi penyebab utama kerusakan terumbu karang di kawasan itu. Balai TNKT bekerjasama dengan Universitas Hasanuddin Makassar menginventarisasi terumbu karang pada 2018.

Dilaporkan, tutupan karang hidup tahun 2018 rata-rata 32,28 persen atau turun dibandingkan tahun 1998 yang rata-rata 41,97 persen. Karang rusak bertambah dari 8 persen pada tahun 1998 menjadi 42 persen tahun 2018. Sedangkan karang bagus pada 1998 masih 29 persen juga menurun menjadi 25 persen pada 2018.

Koordinator Program Inventarisasi Terumbu Karang di Kepulauan Togean, Oktovianus mengatakan, saat ini dari semula 13.000 hektar tutupan karang di Kepulauan Togean, terdapat 8.000 hektar di antaranya yang sudah rusak. Selain karena bom dan bius/ racun, karang rusak disebabkan peristiwa bleaching atau dimangsa oleh Acanthaster planci (populer dengan nama bulu seribu, salah satu bintang laut perusak karang).

Luasan kerusakan itu tidak sebanding dengan transplantasi yang dilaksanakan Balai TNKT.

“Transplantasi kami targetkan sekitar satu hektar satu tahun,” kata Oktovianus  yang Kepala Subbagian Tata Usaha Balai TNKT ditemui di kantornya, Jumat 28 Mei 2021.

Balai TNKT selaku pengelola kawasan mengidentifikasi sejumlah lokasi yang kerap terjadi praktik destruktive fishing. Bahkan ditemukan kerusakan terumbu karang seluas 1,75 kilometer persegi di sekitar Desa Pulau Enam. Kerusakan tersebut akibat penangkapan ikan yang tak ramah lingkungan.

Menurut Kepala Balai TNKT, Bustang meskipun pengungkapan pelaku kasus DF kini sudah berkurang, namun terumbu karang telanjur rusak. Bustang mengatakan, karena kerusakan itu pihaknya telah melakukan transplantasi karang atau rehabilitasi terumbu karang yang rusak sebanyak 4.185 substrat dengan 73.060 total fragmen karang.

“Sejak 2012 sampai sekarang. Kalau dikonversi sekitar 3 hektar,” kata Bustang kepada Metrosulawesi, Kamis 20 Mei 2021.

Koordinator Nasional Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia Moh Abdi Suhufan mengatakan, secara ekologis, praktik bom dan bius ikan sangat berdampak pada karang dan perikanan. Terumbu karang akan hancur dengan patahan yang ekstrem. Rumah ikan akan hancur sebagai tempat bertelur dan berkembang biak ikan.

Dampak lanjutannya adalah rantai makanan hilang dan stok ikan di wilayah tersebut akan berkurang dan mungkin akan hilang. Selain itu, ikan yang ditangkap dengan hasil bom secara fisiologis akan mengalami kerusakan seperti pendarahan dalam daging dan keretakan tulang.

Kewalahan Atasi Pelaku DF

Kepala Dinas Perikanan Tojo Unauna, Rahmat Basri ditemui di kantornya, Kamis  27 Mei 2021 mengatakan, saat ini pengawasan perikanan 0-12 mil menjadi kewenangan pemerintah provinsi. Hal ini berdampak pada alokasi anggaran di dinas yang dipimpinnya. Sementara, biaya sekali operasi Rp6,5 juta sampai Rp10 juta hanya untuk BBM.

Kepala Bidang Pengelolaan dan Penyelenggaraan TPI Dinas Perikanan Tojo Unauna, Muzamil mengungkapkan, selain soal kewenangan, kebijakan refocusing anggaran akibat pandemi Covid-19 juga telah berpengaruh terhadap intensitas operasi penindakan kasus DF. Tahun ini hanya sekali melaksanakan patroli laut.

“Tahun ini anggaran kami dipangkas lebih dari 50 persen. Tapi, kami tetap bekerja maksimal,” kata Muzamil yang polisi khusus di Dinas Perikanan Tojo Unauna.

Selain karena besarnya biaya operasional, wilayah pengawasan perairan Sulawesi Tengah sangat luas. Dari 11 Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) di Indonesia, empat  di antaranya berada di Sulawesi Tengah. Kepulauan Togean yang terletak di Teluk Tomini termasuk WPP RI-715. Sementara personel pengawas perikanan hanya 33 orang, 15 di antaranya di provinsi dan 15 di kabupaten. Begitu juga Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) hanya 12 orang se Sulteng, enam di antaranya di provinsi dan hanya satu di Dinas Perikanan Tojo Unauna. Polisi khusus hanya lima orang, satu di provinsi, dua di Tolitoli dan dua di Tojo Unauna.

“Ini tidak akan mampu menjangkau seluruh perairan wilayah Sulawesi Tengah,” ujar Agus Sudaryanto. (ke halaman 2)

Ayo tulis komentar cerdas