Home Artikel / Opini

Mengganjal Ganjar

TAK usah risau. Tak usah sedih. Tak usah marah. Tentu, tentu, Bung Ganjar–Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah–paham bahwa ganjal-mengganjal dalam dunia politik itu biasa.

Di sana tak ada dosa seperti yang selalu didengungkan para pengkotbah. Di sana tak ada kawan dan lawan. Boleh jadi di sana juga tak ada rasa malu. Di sana hanya ada kepentingan. Demi sebuah tujuan–kekuasaan–tak ada urusan dengan hakikat kawan dan lawan.

Lantaran itu jangan kaget bila kawan tiba-tiba menjadi lawan. Juga jangan skeptis bila lawan menjelma menjadi kawan. Semua menjadi biasa, meski rakyat kadang sakit dibuatnya. Begitulah kalau rakyat dibutuhkan hanya pada saat pemilu. Selesai menyerahkan kursi untuk aktor-aktor politik, rakyat kembali menjadi korban, korban janji dan perasaan. Itulah sifat kekuasaan, minimal terlihat kini, di negeri ini. Lihatlah buruh turun jalan memerjuangkan haknya yang dikebiri. Lihatlah rakyat menginginkan KPK diperkuat, tapi justru diperlemah. Dengarlah suara-suara sumbang para kritikus yang dibungkam. Dipedulikah mereka? Sudahlah!

Aktor politik, kawan dekat Ganjar, Bambang Wuryanto alias Bambang Pacul yang Ketua PDI Perjuangan Jawa Tengah sekaligus Ketua Bidang Pemenangan Pemilu DPP PDI Perjuangan itu, kini seakan mewakili kebesaran partai moncong putih dan Mbak Mega untuk memusuhimu, Ganjar! Mengganjalmu. Meremehkanmu. Menyetop pengaruhmu. Banyak kata-kata tak elok–bahkan kasar–dari bibirnya untuk memvonismu bahwa Ganjar adalah manusia tak tahu diri. Melampaui batas. Melupakan asal dan perjalanannya hingga diberi kesempatan menjadi gubernur, dua periode.

Karena itu jangan kaget, saat Puan Maharani–perempuan berwajah santun itu–menggelar pertemuan dengan tokoh-tokoh berpengaruh PDI Perjuangan di Jawa Tengah, Anda, Ganjar, tak diundang. Padahal wilayah itu adalah wilayah kekuasaanmu sebagai Gubernur Jawa Tengah.

“Semua tokoh PDI Perjuangan diundang hadir, kecuali Ganjar. Dia sudah kelewatan. Sangat berambisi menjadi Presiden RI. Melupakan siapa dirinyaā€¦.,” kata Bambang Pacul, dengan aroma mewakili Mbak Mega. Mungkin.

Ada kegeraman memandang Ganjar yang selalu mendapatkan pilihan terbaik untuk Pilpres dari sejumlah lembaga survei. Namanya selalu muncul dalam tiga besar: Prabowo Subianto, Anies Baswedan, Ganjar Pranowo.

Bagaikan bunga, Ganjar terus memupuk namanya hingga terus tumbuh mekar. Diam-diam ada yang cemburu melihat pertumbuhan bunga itu.

“Pertumbuhan ini tak boleh dibiarkan karena membuat bunga yang lain yang akan dijagokan pada Pilpres mendatang menjadi layu. Tak mekar.” Boleh jadi begitu pikiran orang yang kini mengganjal Ganjar.

Bunga yang lain itu, Puan Maharani. Nama yang indah. Meski lembaga survei tak mengunggulkannya, namun trah Soekarno–tampaknya–memfokuskan tekad agar dia yang kini dipercaya sebagai Katua DPR Republik Indonesia, sudah saatnya menikmati lezatnya istana. Seperti kakeknya, dulu. Agar perjalanannya mulus, Ganjar wajib diganjal. Bunganya dimatikan. Energinya sebagai kader PDI Perjuangan dialihkan untuk memekarkan nama Puan. Bisakah?

Gentarkah Ganjar diganjal? Hati-hati, bukankah ganjalan dapat menukik namanya menjulang tinggi ke angkasa, lalu partai-partai–selain PDIP–memburu untuk memetiknya. Tak ada kawan dan lawan, Bung! (#).

Ayo tulis komentar cerdas