Home Sulteng

Bom Ikan Merusak Sebagian Besar Ekosistem Bawah Laut Togean

KARANG RUSAK - Kepala Sub Bagian Tata Usaha Balai TNKT Oktovianus memperlihatkan gambar terumbu karang yang rusak. (Foto: Metrosulawesi/ Tahmil Burhanuddin)
  • Butuh 8.000 Tahun Pulihkan Terumbu Karang

Palu, Metrosulawesi.id – Lebih dari 8.000 hektare area tutupan karang di Kawasan Taman Nasional Kepulauan Togean (TNKT) telah rusak. Jumlah itu lebih dari setengah jumlah lokasi tutupan karang di TNKT yang luasan keseluruhannya hanya sekitar 13 ribu hektare.

Penyebab utama kerusakan ekosistem terumbu karang di kawasan Kepulauan Togean itu akibat aktivitas distracting fishing (DF) atau penangkapan ikan ilegal. Jenis penangkapan ilegal yang paling merusak adalah pengeboman ikan, kemudian pembiusan ikan yang juga berdampak pada kerusakan terumbu karang.

“Jadi yang rusak itu sudah 8.000 hektare. Semuanya akibat bom dan bius. Itu data tahun 2017 sampai 2018,” ungkap Kepala Sub Bagian Tata Usaha Balai TNKT Oktovianus kepada wartawan saat ditemui baru-baru ini.

Jumlah itu bisa saja meningkat, melihat masih adanya aktivitas DF yang kerap terjadi. Meskipun sejumlah pelaku telah berhasil ditangkap, tapi masih banyak pula pelaku yang berhasil lolos dan terus melakukan aktifitas penangkapan ikan dengan cara melanggar hukum tersebut.

Untuk menjaga ekosistem bawah laut di wilayah TNKT, Balai TNKT pun melakukan berbagai upaya, salah satunya dengan melakukan transplantasi terumbu karang.

Namun karena keterbatasan, baik anggaran maupun personel, pihak TNKT hanya mampu melakukan upaya pemulihan seluas 1 hektare per tahun.

“Ya, pertahun sekitar 1 hektar kita berhasil lakukan pemulihan ekosistemnya,” ungkap Okto.

Jika melihat luasan terumbu karang yang rusak, dan kemampuan TNKT saat ini dalam upaya melakukan pemulihan terumbu karang, mereka setidaknya butuh waktu 8.000 ribu tahun untuk memulihkan seluruh lokasi terumbu karang yang telah dirusak oleh pelaku bom ikan.

Olehnya, pihak TNKT berharap agar peran serta seluruh pihak dapat dilakukan untuk menjaga ekosistem bawah laut yang terancam punah akibat aktivitas ilegal.

“Keterlibatan masyarakat harus pro aktif menjaga yang sudah kita lakukan penanaman ulang (transpalasi),” jelas dia.

Di Kawasan TNKT terdapat begitu banyak jenis terumbu karang. Namun pihak TNKT memilih jenis karang acropora dalam melakukan transplantasi. Karang jenis acropora sendiri merupakan jenis karang keras yang diharap bisa bertahan sebagai upaya menjaga ekosistem terumbu karang bawah laut di kawasan yang banyak dikunjungi wisatawan asing maupun lokal itu.

Reporter: Tahmil Burhanuddin
Editor: Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas