Simon Antolis. (Foto: Istimewa)

Palu, Metrosulawesi.id – Berdasarkan data yang dikemukakan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Parigi Moutong (Parmout), Simon Antonis dalam webinar yang digelar BPS Sulteng, Kamis (27/5/2021).

Hal ini cukup disayangkan mengingat kabupaten tersebut dalam pemaparan Kepala BPS Parigi Moutong merupakan daerah dengan pemiliki rumah burung walet terbanyak di Sulteng. Apalagi, kata Simon, produksi sarang walet di Parigi Moutong sudah mencapai 47 ton setahun pada 2020, meningkat 10 ton dibanding 2019 sebanyak 37 ton.

“Tahun 2019, PAD yang dihasilkan hanya sebesar Rp43.930.000, sementara 2020 hanya sebesar Rp31.610.000. Ini  tidak optimal, seharusnya lebih banyak dari ini, kemarin ada hearing dari DPRD Parigi Moutong dan KPK, dari 1.019 petani sarang burung walet, hanya 45 orang yang membayar pajak,” kata Simon.

Diungkapkan, berdasarkan data BPS pada 2018 kurang lebih ada sebesar 1.221 rumah walet atau memiliki sumbangsih 36,27 persen dari total jumlah rumah walet di Sulteng yang sebanyak 3.366 rumah walet.

“Paling besar dibanding daerah lain di Sulteng.  Kasimbar paling banyak sebanyak 327 rumah walet, kedua Torue sebanyak 293, Toribulu sebanyak 248 rumah walet,” ungkapnya.

Dirinya mengakui, untuk menghimpun data akuran dari potensi sarang burung walet, pihaknya masih mengalami kesulitan. Namun, kata dia, sepanjangan jalur pantai, potensi sekali sarang burung walet sangat tinggi. Hampir rerata memiliki sarang burung walet di desa-desa di Parigi Moutong.

“Gambaran untuk Sulteng sebenarnya kami agak kesulitan menggambarkan data akurat walet. Namun itu masih berpotensi lebih karena banyak petani sarang walet langsung menjual ke pembeli yang datang langsung, tidak melewati jalur-jalur yang terdeteksi dalam hal ini Balai Karantina Hewan Kelas II Palu. Tapi gambaran ini yang bisa kita gambarkan,” katanya. 

Dikatakannya, Pemerintah Parigi Moutong telah menetapkan tarif pajak sarang burung walet yang ditetapkan yakni Peraturan Bupati Parigi Moutong no.10 tahun 2017 tentang Pemungutan dan Pengelolaan Pajak Sarang Burung Walet sebesar 10 persen dari produksi.

“Harganya ini ada dikisaran Rp12 juta sampai Rp14 juta per kilogram (kg) kalau pembeli membeli langsung ke petani,” kata Simon.

Reporter: Fikri Alihana
Editor: Pataruddin

Ayo tulis komentar cerdas