Home Poso

Sempat Dua Bulan Istirahat, Untung ada Pra Kerja

MENGAIS REZEKI - Abu, tukang sol sepatu yang buka praktik di Jalan Pulau Kalimantan searah Poso. (Foto: Metrosulawesi/ Saiful Sulayapi)
  • Kisah Penjahit Sepatu Mengais Rezeki di Tengah Wabah Covid 19

Pandemi Covid 19 yang telah berlangsung selama 15 bulan telah berdampak pada aktivitas ekonomi warga. Salah satunya adalah penjahit sepatu yang ada di Kota Poso. Berikut kisahnya.

DAMPAK perekonomian begitu terasa bagi masyarakat. Apalagi bagi seseorang yang mengais rezeki hanya untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari bagi seluruh keluarganya.

Abu, warga Poso yang kesehariannya berprofesi sebagai tukang jahit sepatu di ruas jalan Pulau Kalimantan searah jembatan Poso, merasa betah dengan pekerjaannya meskipun bagi dirinya, Covid 19 membuat pendapatan keseharian berkurang.

“Mau dibilang bagaimana lagi. Semua sudah ditakdirkan Sang Maha Pencipta yang mendatangkan Covid 19. Kita harus terima dan segera ikhtiar dalam mengurangi jumlah korban Covid 19. Dianjurkan Pemerintah untuk selalu memakai masker, mencuci tangan serta menjaga jarak adalah cara paling ampuh agar kita tidak terjangkit virus Covid 19,” ujar Abu sambil tersenyum.

Ditanya seberapa banyak warga atau pelanggan menjahit sepatu atau sendal dalam setiap harinya? Abu yang warga Bonesompe ini mengatakan, saat ini kondisinya mulai ramai. Berbeda beberapa bulan sebelumnya begitu sepi.

Abu mengaku sudah menggeleti pekerjaannya sebagai penjahit sepatu sudah cukup lama. Dia akan tetap bekerja sebagai tukang sol sepatu hingga akhir hidupnya.

“Susah cari kerjaan lain, apalagi musim corona, jadi tetap menjahit sepatu saja, kalau rejeki tidak akan kemana pak,” papar Abu sambil mengerjakan salah satu sepatu milik pelanggannya.

Sebelum pandemi Covid, dalam sehari Abu mengaku mendapatkan dana Rp200 ribu dari hasilnya menjahit sepatu.

“Itu pun kalau pelanggan sepi,” katanya.

Pada bulan Ramadan menjelang lebaran kemarin kata Abu, dia mendapatkan banyak orderan. Saking banyaknya, ia terpaksa membawa sendal dan sepatu yang akan disol ke rumah.

Di masa pandemi, Abu konsisten mengikuti protokol kesehatan dengan tetap menggunakan masker saat jemarinya asik membenamkan jarum khusus pada sol sepatu dengan rangkaian benang untuk membenahi sepatu kulit milik pelanggannya.

“Kalau tidak pakai masker biasa ditegur sama pelanggan, dan ada Pol PP yang sering datang. Dan memang dari dulu kita pakai masker. Sebelum Corona pun pakai masker, karena kita jahit sepatu biasa bau dan ada debunya, jadi harus pakai masker,” jelasnya.

Penghasilannya dari menjahit sepatu, kata warga asli Poso bersuku Gorontalo ini, sudah bisa membiayai hidup keluarganya. Hanya saja di tengah pandemi saat ini, penghasilnya jauh berkurang dari masa sebelum pandemi.

Para pelajar dan mahasiswa termasuk ASN adalah pelanggan yang paling banyak menghampiri lapaknya sebelum pandemi Covid-19.

“Kalau dulu banyak mahasiswa dan anak sekolah yang sepatunya sering rusak, sekarang sudah tidak ada lagi, tidak ada sekolah kan, jadi kurang pendapatan karena biasanya sepatu anak sekolah dan mahasiswa yang banyak rusak,” terang pria yang sudah melakoni pekerjaan sebagai penjahit sepatu sekitar 12 tahun itu.

Dia juga mengisahkan pada awal-awal pandemi dirinya kehilangan penghasilan karena suasana yang sepi dan masyarakat tidak berani keluar rumah.

“Hampir dua bulan tidak menjahit waktu awal-awalnya corona, karena pasar sepi, orang tidak ada yang keluar rumah. Untungya ada pra kerja yang bisa tambah-tambah penghasilan dan bantuan sembako dari pemerintah dan dari orang-orang yang kasih sumbangan,” jelasnya.

Menjadi penjahit sepatu kata Abu memang bukan pilihan hidupnya, namun menurut dia pekerjaannya itu sudah bisa menghidupi keluarganya selama belasan tahun ini.

“Kita mau kerja apa lagi dulu pernah coba merantau tapi kembali lagi karena jauh dari keluarga, makanya tetap menjahit, banyak teman-teman sudah tidak menjahit lagi karena corona, tapi bagi saya kalau rejeki tidak akan kemana pak,” ungkapnya.

Meski di tengah pandemi Covid-19, Abu tetap optimis bisa mendapatkan pelanggan untuk bisa bertahan hidup.

“Sekarang sudah mulai ramai pasar, ada saja yang datang pak jahit sepatunya, walaupun tidak sebanyak sebelum Corona, biasanya sendal dari ibu-ibu atau bapak-bapak,” paparnya.

Dirinya berharap pandemi Covid-19 segera berakhir agar pelanggannya kembali seperti sebelumnya.

“Semoga cepat berakhir, anak sekolah bisa sekolah lagi, mahasiswa bisa kuliah lagi, dan kita bisa dapat penghasilan lagi yang banyak,” harapnya.

Reporter: Saiful Sulayapi
Editor: Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas