Home Palu

Diskominfo Rekrut Mahasiswa Relawan TIK

Hasyim. (Foto: Metrosulawesi/ Michael Simanjuntak)
  • Program Literasi digital

Palu, Metrosulawesi.id – Dinas Komunikasi, Informatika, Persandian, dan Statistik (Diskominfo) Provinsi Sulteng merekrut mahasiswa menjadi relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) guna menyukseskan literasi digital, program nasional yang diluncurkan Presiden Joko Widodo secara virtual dari Jakarta, baru-baru ini.

“Untuk proses pembelajaran literasi digital, kami menggunakan relawan TIK. Tujuannya kita agar literasi digital ini sampai ke masyarakat melalui mahasiswa,” ungkap Kepala Bidang Pengelolaan Informasi dan Saluran Komunikasi Publik Diskomifo Provinsi Sulteng, Hasim, di Palu, Jumat, 28 Mei 2021.

Dia mengatakan selain relawan TIK, pihaknya juga akan mengencarkan pembentukan Kelompok Informasi Masyarakat (KIM), yang juga untuk menyukseskan program literasi digital. Untuk relawan TIK ditarget bisa merekrut sebanyak 50 orang mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi berlatar belakang TIK di Kota Palu yaitu Fakultas Teknik Untad, Unismuh, STMIK Adhi Guna dan STMIK Bina Mulia .

“Kami ditarget bersama-sama Diskominfo kabupaten/kota untuk membentuk satu kecamatan, satu KIM. Nantinya lewat KIM juga kita lakukan sosialisasi kepada masyarakat,” ujar Hasim.

Hasim menjelaskan Diskominfo sengaja merekrut relawan TIK dari unsur mahasiswa karena sudah tidak asing lagi dengan media sosial. Sebab media sosial menjadi fokus utama sasaran literasi digital.

Itu karena saat ini terdapat berbagai platform media sosial yang disalahgunakan untuk menyebarluaskan berita dan informasi hoaks. Dalam posisi tersebut relawan TIK harus hadir memerangi hoaks di media sosial.

“Tidak bisa dipungkiri sekarang ini beredarnya hoaks di tengah masyarakat banyak melalui media soial. Jadi misalnya ada 1.000 hoaks, maka kita juga harus menyebarkan 1.000 konten untuk melawan hoaks itu,” ucap Hasim.

Diskominfo dikatakan saat ini ingin masyarakat bukan hanya tahu menggunakan media sosial, tapi juga harus tanggap dan tangguh. Tanggap dalam artian harus cermat mendeteksi kebenaran informasi yang didapat melalui media sosial. Sementara tangguh dalam hal memanfaatkan media sosial untuk mendapatkan informasi mitigasi bencana.

“Kalau dahulu hanya sekadar tahu, sekarang harus tanggap dan tangguh. Jadi ketika dia (masyarakat) membaca konten berita/informasi di media sosial harus diberi pengetahuan cara mendeteksi apakah termasuk hoaks atau tidak, salah satu caranya melalui cek fakta,” tandas Hasim.

Reporter: Michael Simanjuntak
Editor: Yusuf Bj

Ayo tulis komentar cerdas