Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS-LB) PT Bank Sulteng yang dilaksanakan di salah satu hotel di Kota Palu. (Foto: Metrosulawesi/ Pataruddin)

Palu, Metrosulawesi.id – Dalam pelaksanaan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS-LB) yang diselenggarakan PT Bank Pembangunan Daerah (Bank) Sulteng) membahas terkait dengan perubahan dana setoran modal inti.

Demikian hal tersebut diungkapkan langsung oleh Gubernur Sulawesi Tengah, H Longki Djanggola kepada sejumlah awak media usai kegiatan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS-LB), Selasa (25/5/2021).

Longky juga menuturkan bahwa jajaran komisaris, direksi, dan pemegang saham merancang agenda utama tentang usaha kelompok bank (KUB). Sebab, lanjut dia, itu harus disahkan karena setoran yang dari pihak Mega Corpora belum diakui dan sebagainya.

“Makanya kita bahas di sini (RUPS-LB). Termasuk nanti saya punya yang Rp63 miliar, tapi belum disetor sekarang kemungkinan triwulan ke IV dan itu diakui di RUPS yang akan datang lagi tahun 2022. Kemudian, membahas soal kepengurusan direksi,” tuturnya.

Dijelaskan, beberapa kepala daerah ada yang mengusulkan segera mengganti jajaran Direksi dan Komisaris PT Bank Sulteng. Namun, Longky selaku Gubernur Sulawesi Tengah yang masih menjabat menilai untuk jabatan tersebut wajib diperpanjang karena berdasarkan masa transisi.

“Biarlah nanti tinggal pimpinan baru, pak Cudi ganti yang lain-lain. Kalau Hidayat Lamakarate dipastikan masuk dalam anggota Komisaris biasa dan bukan komisaris independen,” jelasnya.

Adanya sorotan Kemendagri terkait modal inti Bank Sulteng yang hingga kini tidak mampu memenuhi target sebesar Rp3 triliun. Pihaknya hanya bisa memutuskan dan berharap masuk dalam kelompok usaha bank (KUB) yang dipayungi oleh Mega Corpora.

“Jadi nanti ke depan modal inti Rp3 triliun itu sudah tanggung jawab Mega Corpora 26% sebagai ketua KUB. Kami sekitar 36% pempov Sulteng selaku pemegang saham pengendali tidak akan pernah tergerus dan kabupaten/kota kalau tidak salah sekitar 35%,” katanya.

Dirinya pun menjamin bahwa modal inti Bank Sulteng yang ditetapkan sebesar Rp3 triliun tersebut bisa mencapai sesuai dengan harapan. Ia mengungkapkan hal itu tidak akan beresiko karena sudah memiliki aturan ketentuan dari lembaga Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Reporter: Fikri Alihana
Editor: Pataruddin

Ayo tulis komentar cerdas