Home Artikel / Opini

Tragedi Poso Seperti Dongeng

TRAGEDI Poso yang terus memakan korban, kisahnya seperti dongeng. Mau tak percaya, tapi nyata. Mau percaya, tapi tak masuk akal.

Segelintir manusia “berhati hitam” di hutan, sewaktu-waktu ke luar mencari “mangsa” sesama manusia di kampung-kampung. Usai memangsa dengan cara sadis–tak berperikemanusiaan sedikit pun–mereka lalu membiarkan mangsanya tergeletak berdarah tak bernyawa. Tragedi berdarah itu–baru saja terjadi–beberapa hari lalu. Empat warga yang berprofesi sebagai petani–tak berdosa dan tak tahu apa sebenarnya yang terjadi di Poso ini–ditemukan mayatnya dengan luka mengenaskan. Bahkan mengerikan.

Usai menjalankan misi misterinya itu mereka pun berlari. Berlari kencang. Kembali ke rimbanya. Ke markasnya. Di sana, di hutan lebat itu, mereka hidup aman dari kejaran pihak keamanan negara. Hal itu mereka lakukan rutin. Tak pernah berhenti. Seakan mengucapkan ancaman kepada polisi dan tentara: he… kami hadir lagi!

Hingga kini sudah hampir sepuluh tahun terus menaburkan ketakutan dan kecemasan yang teramat dalam bagi warga yang bertani dan berkebun di wilayah pinggiran Poso. Korban-korbannya kian banyak. Meninggalkan tangis, kepedihan, dan penderitaan bagi keluarga korban seumur hidupnya.

Diamkah negara? Tentu, tentu, tidak! Ratusan hingga ribuan polisi dan tentara dihadirkan memburu para penjegal yang sesungguhnya itu. Ya, penjegal yang sesungguhnya. Para petugas pemberani, terlatih, dan bersenjata lengkap itu dikerahkan untuk memburu mereka yang jumlahnya tak lebih dari sepuluh orang. Bertahun-tahun, ya bertahun-tahun, perburuan itu dilakukan, namun tak mampu membersihkan hutan Poso dari orang-orang yang bergelar teroris itu.

Akal sehat kita pun bertanya-tanya, mengapa aparat keamanan tak bisa menjangkau mereka? Tak bisa menghabisi mereka. Tak bisa menumpas mereka. Apakah lantaran medan hutannya yang sulit ditembus? Dengan kemampuan hebat yang dimiliki aparat kita, sepertinya sulit dipahami kalau hanya dengan alasan medan hutan–tempat persembunyian teroris itu–lalu mereka tak bisa ditumpas habis.

Setiap teroris beraksi–mengeksiskan diri–setiap itu pula Presiden Joko Widodo, dengan raut wajah marah, tampil, mengatakan: negara tak boleh kalah. Tak ada tempat teroris di negeri ini!

Negara kalah, tentu tidak. Tapi bahwa para teroris tak punya tempat di negeri ini, kita pun bertanya: Ah… masa? Bukankah para teroris punya markas, sebutlah misalnya di hutan Papua dan hutan Poso.

Suatu hari aku bertanya kepada seorang sahabat yang tinggal di kota Palu: apa hebatnya Ali Kalora, sang komandan teroris di Poso itu?

“Hebatnya, ribuan polisi dan tentara yang memburunya hingga kini belum mampu menangkapnya,” jawab sahabat itu. (#)

Ayo tulis komentar cerdas