Home Hukum & Kriminal

Pembantai Warga Kalimago Lima Orang

Foto Daftar Pencarian Orang (DPO) tindak pidana terorisme. (Foto: Ist)
  • FKPT Minta Aparat Keamanan Bekerja Keras

Palu, Metrosulawesi.id – Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Sulawesi Tengah mengemukakan aparat keamanan yang tergabung dalam Satuan Tugas Madago Raya harus bekerja keras menuntaskan pelaku aksi teror terhadap warga di Kabupaten Poso.

“Tidak ada jalan lain kecuali aparatur keamanan untuk menuntaskannya,” ujar Ketua FKPT Provinsi Sulteng Muhd Nur Sangaji, di Palu, seperti dikutip dari Antara, Kamis 13 Mei 2021 lalu, menanggapi aksi teror yang dilakukan oleh Mujahidin Indonesia Timur (MIT) di Poso.

Aksi teror terhadap petani di Desa Kalimago, Kecamatan Lore Timur, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah terjadi pada Selasa 11 Mei 2021 lalu. Empat petani yang menjadi korban adalah MS (52), SS (61), P dan L.

FKPT Sulteng, kata Muhd Nur Sangaji, menilai aksi teror itu merupakan kejahatan luar biasa yang sangat merusak kesucian bulan suci Ramadhan, dengan tindakan membunuh orang yang tidak bersalah.

“Ini tantangan sekaligus ujian reputasi yang mau tidak mau harus dihadapi,” ujarnya pula.

Akademisi Universitas Tadulako Palu itu mengatakan sesuai dengan ajaran Tuhan yang Maha Esa bahwa perilaku membunuh orang lain tanpa alasan yang benar dan berdasar, sangat tidak dibenarkan.

“Pesan yang turun dari langit, barang siapa yang menghilangkan satu jiwa tanpa alasan yang benar, sama dengan membunuh seluruh umat manusia,” katanya lagi.

Aksi teror itu, menurut dia, menunjukkan bahwa kelompok garis keras hingga saat ini masih eksis dan memberikan ancaman terhadap kerukunan, kebersamaan dan keberlangsungan hidup manusia serta ancaman kepada negara.

“Kejadian ini sekaligus menunjukkan bahwa aksi terorisme itu masih eksis dan mengancam kehidupan manusia di mana pun di bumi ini,” ujar dia.

Motif yang dilakukan oleh kelompok tertentu itu bermacam macam, mulai dari alasan ideologi, politik, ekonomi, budaya, etnik hingga penyimpangan pemahaman keagamaan.

“Ini peristiwa luar biasa atau extra ordinary yang antikemanusiaan. Hal luar biasa ini tentu tidak salah dikutuk. Tapi tidak cukup dengan hanya mengutuk semata,” kata dia.

Ia menyarankan harus ada langkah kolektif dari semua elemen bangsa, pemerintah, aparatur keamanan, dunia pendidikan, tokoh masyarakat dan tokoh agama, masyarakat dan orang tua.

Diharapkan, sinergitas dari semua elemen ini menjadi daya tangkal preventif dan kuratif untuk jangka pendek maupun jangka panjang, katanya pula.

Terpisah, Kabid Humas Polda Sulteng, Kombes Pol Disik Supranoto SIK, pembunuhan terhadap keempat petani itu diduga dilakukan oleh kelompok teroris MIT Poso.

Didik juga menjelaskan bahwa, menurut keterangan saksi yang sempat melarikan diri, melihat ada lima Orang, dan salah seorang dari lima orang tersebut, saksi mengenali dan mirip dengan kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT), yang bernama Qatar, yang sama seperti gambar DPO yang disebar oleh Kepolisian.

“Menurut saksi yang sempat lari, dalam kelompok yang berjumlah lima orang itu, salah satunya adalah Qatar alias Farel, asal Bima,” ucapnya.

Penulusuan wartawan Metrosulawesi, terkait dengan sosok Qatar alias Farel, yang dalam kejadian terakhir menurut versi Kepolisian, namanya muncul dalam aksi kekerasan terhadap warga di wilayah kabupaten Poso, dan semenjak meninggalnya pimpinan MIT Poso Santoso alias Abu Wardah, telah terjadi beberapa rangkaian pembunuhan secara sadis, dan diduga kuat Qatar alias Farel, sebagai inisiator aksi tersebut.

Dari berbagai sumber yang dihimpun, Qatar dengan nama lengkapnya Muhardi alias Qatar alias Farel, merupakan pria yang berusia 31 tahun, yang merupakan warga Manggarai Provinsi NTT.

Muhardi alias Qatar alias Farel, pernah mengenyam pendidikan, kuliah di STKI Bima, namun tidak sampai selesai.

Pria yang diketahui saat ini berumur 31 tahun itu, terdeteksi pernah bergabung di kelompok radikal Bima sejak tahun 2011–2012, dan selanjutnya menjadi ikhwan JAT (Jamaah Ansharut Tauhid) Bima sejak tahun 2011.

Keberadaan Qatar di kabupaten Poso, diketahui sejak September 2012, dan telah mengikuti latihan militer bersama dengan Santoso alias Abu Wardah, di Pegunungan Biru, Kabupaten Poso, dan Muhardi alias Qatar alias Farel, diketahui memiliki kemampuan untuk membaca peta dan GPS.

Jaminan Keamanan

Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Antonius Benny Susetyo meminta, pasca kejadian tersebut pemerintah harus menjamin rasa aman penduduk lokal di sana.

“Kita berharap pemerintah segera memberikan jaminan rasa aman. Rasa aman sehingga penduduk bekerja lagi di ladang mereka,” ucap Benny seperti dikutip dari laman Liputan6.com, Ahad 16 Mei 2021.

Dia meminta agar semua aparat keamanan, termasuk Densus 88 Antiteror, segera menghentikan kekerasan dan membongkar jaringan terorisme di Poso.

Benny menyarankan agar aparat keamanan dapat memotong jalur logistik kelompok teror tersebut.

“Kita percaya dengan kemampuan Densus untuk memutus jaringan terorisme dan mengembalikan rasa aman bagi masyarakat Poso. Kita yakin negara tidak boleh kalah dengan terorisme,” tegasnya.

Ia menilai tragedi pembunuhan terhadap empat petani tersebut melukai rasa kemanusian setiap umat beragama.

“Apa yang dilakukan jaringan terorisme bertentangan nilai Pancasila karena menghancurkan martabat kemanusian,” pungkas Benny.

Sebelumnya, Kantor Staf Kepresidenan (KSP) juga mengutuk keras atas tindakan tersebut. KSP memastikan aparat keamanan akan melakukan pengejaran dan penindakan terhadap kelompok teroris MIT.

“Sebagaimana disampaikan oleh Presiden Joko Widodo pada awal April lalu bahwa tidak ada sedikitpun tempat bagi terorisme di Tanah Air, pemerintah akan menindak tegas pelaku dan organisasi teroris di Indonesia, baik di Poso, Papua dan tempat lain di Indonesia,” kata Deputi V Kepala Staf Kepresidenan, Jaleswari Pramodhawardani, dalam keterangannya, Rabu 12 Mei 2021 lalu.

Jaleswari menyatakan kekejian yang dipertontonkan oleh para teroris MIT di tengah bulan suci Ramadhan serta situasi pandemi Covid-19, menunjukkan watak dan perilaku para teroris yang sama sekali tidak memiliki nilai-nilai agama serta tidak memiliki nurani kemanusiaan. (edy/ant/bs)

Ayo tulis komentar cerdas