Home Palu

Boleh Salat Id Tapi Prokes Diperketat

Taufik Abdul Aziz. (Foto: Metrosulawesi/ Moh Fadel)
  • Kemenag Palu Tunggu SE Wali Kota Palu

Palu, Metrosulawesi.id – Kepala Seksi Urusan Agama Islam dan Bimbingan Syariah, Kanwil Kemenag Sulteng, Taufik Abdul Aziz, mengatakan, belum lama ini telah dilakukan rapat koordinasi dengan Kepala Kantor Kemenag kabupaten dan kota se-Sulteng membahas tentang Surat Edaran (SE) Menag RI Nomor 04 tahun 2021 terkait panduan ibadah selama Ramadan dan Idul Fitri 1442 H.

“Dari laporan masing-masing Kepala Kemenag kabupaten/kota bahwa mereka telah menyosialisasikan SE Menag RI dengan perangkat yang ada, di antaranya penghulu dan penyuluh telah turun ke semua daerah. Bahkan mereka hingga ke desa-desa dalam memberikan pemahaman tentang kondisi pandemi yang melanda Sulteng,” kata Taufik, saat dihubungi Metro Sulawesi, Kamis, 6 Mei 2021.

Olehnya itu kata Taufik, Kemenag berusaha untuk menyosialisasikan itu lewat penyuluh dan penghulunya ke masjid-masjid, bahkan Kepala Kantor Kemenag juga ikut turun melakukan sosialisasi di lapangan, salah satunya Nasruddin L Midu, Kakankemenag Kota Palu.

“Untuk pelaksanaan Salat Idul Fitri (Id) itu dibolehkan, namun harus menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Dalam rapat koordinasi beberapa Kepala Kemenag kab/kota mengaku bakal melaksanakan salat Id, kecuali Kota Palu sebab menunggu surat edaran dari Wali Kotanya karena Pemkot Palu kemarin memberikan warning terkait kasus Covid-19,” ujarnya.

Kata Taufik, jika kasus Covid-19 di Kota Palu semakin meningkat, menurut informasi Pemerintah Kota Palu tidak akan menggelar salat Id, tetapi Kemenag Kota Palu menunggu SE Wali Kota Palu.

“Kami berharap kasus Covid-19 di Palu menurun, sehingga pelaksanaan salat Id tetap berjalan dengan menerapkan prokes yang telah ditentukan oleh pemerintah,” ungkapnya.

Taufik mengatakan, sesuai SE Menag RI bahwa prokes ini sangat penting dilaksanakan, sehingga pelaksanaan salat Id baik di masjid atau di lapangan tetapi mematuhi prokes ketat. Bahkan sesuai SE itu kalau di masjid hanya 50 persen saja jemaah di dalamnya, kemudian harus mengatur jarak dan menggunakan masker.

“Kita berharap kepada masyarakat agar besama-sama memutus matarantai penyebaran Covid-19, sehingga tidak ada klaster baru dari masjid. Bagi yang sakit agar menahan diri di rumah untuk tidak pergi ke Masjid. Mari kita patuhi bersama SE Menag RI demi kemaslahatan kita bersama,” ujarnya.

Reporter: Moh. Fadel
Editor: Yusuf Bj

Ayo tulis komentar cerdas