Home Artikel / Opini

Konsep Memaafkan dalam Pembinaan Masyarakat

7
Ilustrasi. (Foto: Istimewa)

Oleh: Zen Ibrahim*

DARI ‘Abdullah bin Zubair radhiyallahu ‘anhuma; Allah memerintahkan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wassalam agar memaafkan akhlak manusia. (Al-Bukhari)

Al-‘afwu (memaafkan) maknanya bersikap terpuji pada manusia lebih dari yang dia inginkan atau memberikan sesuatu melebihi yang dia butuhkan. Melakukan perbuatan baik kepada manusia dengan kebaikan berlapis-lapis seperti seseorang menuangkan air ke gelas hingga meluber. Firman Allah: “Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: al-’afwu.” (Al-Baqarah: 219)

Yaitu memberikan sedekah lebih dari yang mereka butuhkan yaitu tidak menghitung-hitung pemberian tetapi justru malah meluapkannya.

Demikianlah Allah ta’ala memerintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam dalam berinteraksi dengan masyarakat. Masyarakat tidak akan membuka penerimaan kecuali mereka mendapat keluasan kehidupan. Mereka adalah orang-orang yang tidak terbina siap menerima penderitaan. Jika terdapat sedikit kehimpitan, mereka akan segera lari dan menjauh.

Allah ta’ala memberikan pahala bagi manusia, bahkan Allah menambah kebaikannya dengan melipatgandakan pahala amal shalih hamba. Allah hanya memerintahkan untuk beriman dan bertakwa. Allah tidak akan mengambil harta hamba-hamba-Nya. Allah ta’ala berfirman: “Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman dan bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu. () Jika Dia meminta harta kepadamu lalu mendesak kamu (supaya memberikan semuanya) niscaya kamu akan kikir dan Dia akan menampakkan kedengkianmu.” (Muhammad: 36-37)

Allah ta’ala adalah Rabb semua makhluk dan Dia memiliki hak diibadahi oleh semua lapisan masyarakat. Sebab itu Allah memerintahkan untuk memberikan al-’afwu pada masyarakat yaitu memberikan lebih dari yang ia butuhkan.

Kita berikan pada masyarakat waktu kita, harta, kemampuan, ilmu dan sebagainya lebih dari yang mereka butuhkan.

Penguasa yang adil akan dibenci oleh sebagian rakyat, lalu bagaimana dengan penguasa diktator yang hanya menuntut ketaatan? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam memerintahkan kita untuk menjaga dan memuliakan harta masyarakat dengan sabdanya: “Berhati-hatilah terhadap harta yang mereka sayangi.” (Muttafaq alaih)

Hadits dari Abdullah bin Zubair radhiyallahu ’anhu menjadi wasiat berharga bagi para pemimpin, ulama dan dai dalam melakukan tarbiyah bagi masyarakat. Karena perjalanan yang akan ditempuh sangat jauh. Tekanan pada masyarakat yang dilakukan oleh orang-orang shalih justru akan membuat mereka berbalik, marah dan memberontak.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Amalan yang paling dicintai oleh Allah ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” (Al-Bukhari)

Sebaik-baik amalan yang dikerjakan secara konsisten meskipun sedikit. Sedangkan orang-orang yang membuat susah manusia, Allah akan balik membuat susah mereka. Cukuplah kesusahan bagi mereka ketika mereka mendapat permusuhan dari masyarakat dan umat mereka sendiri.

Sikap rahmah pada masyarakat dan hanya memberikan pembebanan sesuai dengan kemampuan akan membuka pintu rahmah dan kenyamanan. Masyarakat akan mencintai kita dan dengan sebab tersebut Allah pun akan mencintai kita. Sebab orang-orang yang rahim akan disayangi oleh Ar-Rahman: “Para penyayang itu akan disayangi oleh Yang Maha Penyayang Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi. Sayangilah makhluk yang ada di bumi, niscaya yang ada di langit akan menyayangi kalian..” (Abu Dawud, Tirmidzi, Ahmad)

(*Dosen Perguruan Tinggi Tahfizhul Quran dan Entrepreneur Insan Karima Klaten Jateng)

Ayo tulis komentar cerdas