Home Artikel / Opini

Loloskah Azis?

10

USAI salat tarawih malam ini aku menuju kedai kopi langgananku. Aku janjian bertemu dengan seorang teman. Saat aku masuk kedai yang dindingnya penuh dengan pajangan piring-piring antik itu, ternyata teman itu sudah duduk santai di depan kopi hitamnya. Seperti biasa kami selalu memilih meja di samping jendela dekat kasir. Embusan angin lewat kisi-kisi jendela kayu itu selalu menawarkan kesejukan.

Setelah membincangkan pentingnya memperbanyak ibadah-ibadah di sepuluh malam terakhir bulan suci ramadhan, tiba-tiba teman itu menyinggung dugaan kasus yang melibatkan Azis Syamsuddin, Wakil Ketua DPR RI.

“Azis termasuk berani,” kata teman itu.

“Maksudnya?” Aku bertanya ingin mengetahui lebih dalam tentang keberanian Azis itu.

“Coba bayangkan, rumah dinasnya sebagai Wakil Ketua DPR dijadikan tempat pertemuan transaksi suap antara Walikota Tanjung Balai, M. Syahrial dengan Penyidik KPK, Ajun Komisaris Stepanus Robin Pattuju. Dalam transaksi itu, M. Syahrial meminta kepada penyidik KPK itu agar kasus jual-beli jabatan yang ditangani KPK, dihentikan. Akhirnya permintaan itu dikabulkan, namun ada syaratnya.”

“Syaratnya apa?”

“Sang Walikota harus membayar Robin 1,5 milyar melalui seorang pengacara, teman Robin, yang bernama Maskur. Praktik suap ini tercium oleh KPK, akhirnya ketiga orang ini: Robin, M. Syahrial, dan Maskur, kini sudah tersangka dan menikmati pengapnya sel sempit.”

“Lalu dimana keberaniannya Azis?”

“Bukankah sebuah keberanian kalau Azis–sang pejabat–itu menjadikan rumah dinasnya sebagai tempat transaksi suap dan menyuruh ajudannya yang polisi itu untuk memanggil penyidik Robin segera datang ke rumahnya untuk berjumpa dengan M. Syahrial?”

“Tetapi Azis tidak tersangka. Berarti dia tidak terlibat dalam kasus suap ini.”

“Melihat skenario terungkapnya kasus ini, banyak kalangan menilai Azis akan tersangka. Apalagi KPK sudah menggeledah ruang kerjanya di gedung DPR, rumah dinasnya, dan rumah pribadinya. Dan terakhir KPK sudah mencegalnya ke luar negeri.”
“Masih adakah jalan Azis lolos dalam kasus ini?”

“Entahlah. Soalnya, Azis itu termasuk wakil rakyat yang “cerdas” untuk keluar dari tuduhan-tuduhan keterlibatan yang pernah dialamatkan kepada dirinya.”

“Oh, kasus apa saja itu?”

“Misalnya saat dia dilaporkan ke MKD atas dugaan suap dalam pengesahan Dana Alokasi Khusus (DAK) di Lampung Tengah. Juga dalam persidangan mantan Kepala Korps Lalu Lintas, Inspektur Jenderal Djoko Susilo. Nama Azis selalu disebut-sebut keterlibatannya dalam beberapa kasus, bahkan sudah dilapor, namun selalu saja lolos.”

“Apakah kasus suap di rumah dinasnya akan mengulang ketidakterlibatannya?”

“Menurut keyakinanku, kali ini Azis tak mampu lagi lolos dari kasus ini. Tanda-tandanya sudah terbaca: sejumlah tempat sudah digeledah KPK, surat pencegalan ke luar negeri sudah keluar, dan sejak kasus ini mencuat Azis “hilang” entah ke mana.”

“Hebat juga analisamu, teman…”

“Analisa gaya kedai kopi, hahaha…”

Jam antik di dinding kedai sudah menunjukkan pukul sebelas, kami pun pamit setelah saling mengingatkan untuk salat tahajud sebelum makan sahur. (#)

Ayo tulis komentar cerdas