Home Artikel / Opini

Seni Kepemimpinan dan Pembinaan Masyarakat

10
Ilustrasi. (Foto: Istimewa)

Oleh: Zen Ibrahim*

DARI Abu Musa Al-’Asy’ari radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam mengutusku dan Muadz ke negeri Yaman dan beliau berpesan: “Mudahkanlah (urusan) dan jangan dipersulit. Berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari dan bekerja samalah kalian berdua dan jangan berselisih.” (Al-Bukhari)

Masyarakat muslim adalah masyarakat yang memiliki karakter lembut dan gemar memberi. Kreativitas, kesemangatan beramal dan perbuatan ihsan keluar dari jiwa yang wajahnya selalu bersinar dan tersenyum. Dalam jiwanya memiliki tekad kuat yang kemudian di transfer kepada orang lain dengan cinta, kelembutan dan pemberian.

Inilah ruh masyarakat dan kaum muslimin dalam berinteraksi pada sesama. Ruh itu seperti perasaan jiwa manusia, bisa tumbuh berkembang atau layu meranggas dan bisa pula bahagia maupun bersedih. Perasaan ini tergantung bagaimana sikap manusia terhadapnya terutama mereka yang mendapat amanah kepemimpinan dan amanah anggung jawab tugas apapun itu.

Namun ruh yang digenggam dengan pemaksaan, penindasan, kekejaman dan kekerasan akan mengakibatkan kekuatan inisiatif amalnya akan menyusut dan memudar. Bahkan apabila penindasan terus berlangsung dalam jangka waktu lama, ruh tersebut akan merasakan keputusasaan.

Hanya masyarakat yang saling mengisi, saling menguatkan dan memiliki persamaan tenggang rasa serta keterbukaan, simpati dan cita-cita yang mampu melakukan inisiatif amal. Sehingga kaum muslimin menjadi bangsa yang kuat dan berkarya untuk memakmurkan bumi.

Hadits mulia ini menjadi konsep kepemimpinan dalam Islam. Bagaimana seorang pemimpin bersikap dan berlaku pada orang-orang yang dipimpin. Kepemimpinan dalam ranah negara hingga keluarga atau siapapun yang mendapat amanah.

Demikianlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam memberikan panduan konsep kepemimpinan kepada Abu Musa Al-Asy’ari dan Muadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma bagaimana membina masyarakat Yaman. Sehingga dengan konsep kepemimpinan dan pembinaan teritorial ini, masyarakat Yaman menjadi masyarakat muslim yang tangguh dan menghasilkan berbagai macam karya serta sumbangsih di dunia Islam.

Selayaknya pemimpin yang sukses akan memberikan tugas-tugas yang mudah dan tidak membebani dengan tugas yang berat di luar kemampuan mereka. Pemimpinan juga tidak akan mempersulit orang-orang yang dipimpin dengan mengambil dana sedekah yang memberatkan, mengambil zakat di luar nishab dan juga tidak melakukan tekanan serta penindasan. Karena tekanan dan penindasan hanya akan membuat orang-orang melakukan konspirasi, penipuan dan pengkhianatan pada pemimpin.

Para pemimpin mulai dari sultan dengan rakyatnya atau ibu dengan anak-anaknya tidak akan lurus pengaturannya dan langgeng kecuali dengan cara bersikap mudah dengan orang-orang yang mereka bimbing. Karena kehidupan itu panjang, sehingga konsep memudahkan ini membuat perjalanan amal mereka akan konsisten pada tujuan.

Tarbiyah dan pembenahan itu bukan satu atau dua hari tetapi terus berlanjut sepanjang kehidupan. Sebab itu untuk menjaga keberlangsungan amal diperlukan berbagai macam penyikapan dengan konsep memudahkan.

Memudahkan saja itu tidak cukup untuk menjaga keberlangsungan amal islami, diperlukan tabsyir (Penghargaan) untuk mendukungnya. Karena memudahkan adalah penugasan amal, maka dalam perjalanannya pasti terdapat prestasi juga kesalahan-kesalahan baik ringan maupun fatal. Di sinilah seorang pemimpin memberikan tabsyir melalui lisan agar orang-orang tersebut menjadi terus semangat melakukan amalan. Prestasi yang di raih akan menjadi semakin baik dan kesalahan-kesalahan yang dilakukan diperbaiki.

Dengan prinsip kemudahan akan diperoleh konsistensi dan dengan tabsyir akan diperoleh kesemangatan dalam beramal. Ia akan semakin banyak memberi dengan mencurahkan lebih banyak lagi tenaga dan pikiran.

Tabsyir adalah penghargaan dan pujian pada amal yang dilakukan para pelaksana tugas atau masyarakat. Tetapi apabila prestasi penugasan dan amal ihsan masyarakat tidak diberikan tabsyir akan muncul kebekuan dalam beramal. Prestasi dan amal akan melemah. Apalagi bila terdapat kesalahan-kesalahan yang kemudian malahan dicaci dan dicela, akibatnya jiwa itu akan jatuh mental.

Orang itu akan mundur apabila tidak ada yang memberitahu kebaikan usaha amalannya dengan pemberian penghargaan. Posisi ini sama seperti tidak adanya orang yang mengoreksi kesalahannya akhirnya dia terus jatuh dalam kesalahan.

Memberitahu kebaikan usaha seseorang dan memberikan penghargaan bukan merupakan riya’ karena riya’ adalah beramal untuk selain Allah. Riya’ adalah beramal agar dilihat oleh manusia bukan dilihat oleh Allah dan kampung akhirat.

Sedangkan jiwa yang bahagia melihat usahanya dihargai manusia yang amalan tersebut dilakukannya untuk mencari wajah Allah maka ini banyak dikisahkan oleh orang-orang terdahulu dan sahabat. Siapa beramal shalih agar wajah saudaranya berseri-seri maka dia orang mukmin karena asal perbuatannya adalah cinta Allah dan benci karena Allah.

Tabsyir adalah menyebut kebaikan dan kabar gembira yang merupakan juga wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam pada umatnya. Wasiat bagi pemimpin, ulama, komandan yang umat tidak bisa lembut kecuali dengannya. Banyak sekali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam menyebut keutamaan para sahabatnya dan menunjukkan kegembiraan ketika mengetahui prestasi kebaikan dan ini banyak disebut dalam hadits. Akhirnya dengan adanya tabsyir tersebut mereka berlomba-lomba meraih kebaikan untuk mencapai cintanya, kasih sayangnya dan kegembiraan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam.

Kalimat: “Dan bekerja samalah kalian berdua dan jangan berselisih.”

Kaidah ini merupakan pencegahan dari munculnya api fitnah, kelemahan, hilangnya kewibawaan serta kekuatan. Tidak akan bisa tercapai kecuali dengan setiap orang menaati sahabat dalam tugasnya dan melihat perkataan sahabatnya lebih utama dari perkataanya.

Akhlak paling buruk dan merusak yang memecah persamaan adalah prinsip “kaku dalam berpendapat” dan “keras kepala”. Merupakan pintu kerusakan dan setan, bukan wujud keberanian atau keteguhan pendirian. Orang yang memahami hikmah adalah orang yang terus bergerak, berkembang belajar melalui perkataan-perkataan serta pemikiran orang lain.

Kekuatan tindakan dalam beramal adalah mengenal prinsip perkataan saudaramu dan melihat wajah mulianya serta kebenarannya sebagaimana kamu melihat prinsip perkataanmu sendiri, kebaikan dan kebenarannya. Orang kecil adalah yang melihat hanya pada dirinya sendiri dan tidak mempercayai kecuali pada perkataannya sendiri walaupun namanya besar dan jabatannya tinggi. Orang besar adalah yang menyertai manusia, bersabar mengikuti mereka,mendengar mereka dan menghargai pendapat-pendapat mereka.

Persatuan merupakan hal terpenting yang wajib dilakukan. Karena persatuan merupakan syarat utama dalam mewujudkan kemaslahatan Islam dan tujuannya.

(*Dosen Perguruan Tinggi Tahfizhul Quran dan Entrepreneur Insan Karima Klaten Jateng)

Ayo tulis komentar cerdas