JANGAN kaget ketika aku menyebut lelaki itu telah “sukses” membawa misinya sebagai penyusup pada lembaga resmi negara. Ini bukan fiksi seperti dalam film detektif, tetapi nyata. Lelaki itu ada dan lembaga penting itu ada. Tentu kisah nyata ini menarik untuk difilemkan. Adakah sutradara film yang berani mengangkatnya menjadi film layar lebar? Sebuah tantangan.

Apakah kita sepaham bahwa lelaki itu benar penyusup? Tergantung sudut pandang kita masing-masing. Baiklah, sekilas, kukisahkan. Lelaki itu bernama Lukius Y. Matuan. Lahir di kota Wamena pada 1997. Lantaran tubuhnya berisi, tinggi, dan tegap, dia pun merasa terpanggil menjadi prajurit TNI Angkatan Darat. Setelah melalui tahapan tes yang panjang dan ketat, akhirnya dia diterima sebagai anggota TNI pada 2015. Pada awalnya masuk anggota prajurit YON Infanteri 400 Raider yang berada di bawah naungan Kodam IV/Diponegoro.

Entah pertimbangan apa, pimpinan TNI, beberapa bulan lalu, menugaskan tentara berpangkat Pratu, lengkapnya Pratu Lukius Y. Matuan, ke wilayah Intan Jaya, Papua. Di wilayah inilah “musibah” itu terjadi.

Suatu hari di bulan Februari 2021–tiga bulan lalu–sejumlah tentara yang bertugas di Intan Jaya tiba-tiba geger lantaran Pratu Lukius Y. Matuan meninggalkan pos jaganya tanpa pemberitahuan kepada komandannya. Dia pun dicari ke mana-mana, namun sosok tentara–putra daerah Papua–itu tak kunjung ditemukan.

Pencarian terus dilakukan. Apalagi “kepergiannya”, meski tak membawa senjata, namun dia mengambil 2 magasin dengan isi 70 butir amunisi 5,56 milimeter.

Lebih menggegerkan lagi, di saat pencarian digalakkan, muncul informasi mengagetkan dan mencemaskan dari pihak OPM yang bersekutu dengan KKB–Kelompok Kriminal Bersenjata–bahwa Lukius Y. Matuan telah membelot bergabung dengan KKB Intan Jaya yang dipimpin Sabinus Waker.

Adakah bergabungnya Lukius Y. Matuan di KKB yang kini telah dicap sebagai pengkhianat negara Republik Indonesia lantaran bergabung dengan musuh negara itu, tragedi di Papua–akhir-akhir ini–makin menampakkan ulahnya dengan membunuh sejumlah tentara, polisi, guru, dan rakyat biasa?

Boleh, kan, aku menerka-nerka. Jangan-jangan si Lukius ini–sejak remaja–memang bersimpati dengan OPM, Organisasi Papua Merdeka, yang terus membuat kekacauan di wilayah Papua, hingga kini. Untuk memahami kekuatan dan peta rahasia yang dimiliki pihak TNI, maka si Lukius ini bersiasat ingin menjadi prajurit tangguh untuk membela negara ini dari pengacau, termasuk pengacau di daerah leluhurnya, Papua, lalu dia pun berjuang untuk masuk TNI, dan lulus. Bila demikian, pantaskah dia disebut penyusup selain pengkhianat?

Apa pun itu, yang mencemaskan bukan hanya soal 2 magasin dengan isi 70 butir amunisi 5,56 milimeter yang dibawa, tetapi ilmu ketentaraannya sebagai orang terlatih bertahun di TNI yang dibawa ke medan musuh. Lantaran itu, pihak TNI tidak cukup mencapnya sebagai pembelot dan pengkhianat, tetapi wajib menjadikannya sebagai buronan kelas kakap! (#)

Ayo tulis komentar cerdas