Ilustrasi. (Foto: Istimewa)

Oleh: Zen Ibrahim*

DARI Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata, bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Wahai Mu’adz, tahukah kamu apa hak Allah atas para hamba-Nya dan apa hak hamba atas Allah?” Aku menjawab: ‘Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu’. Beliau bersabda: “Sesungguhnya hak Allah atas para hamba adalah beribadah kepada-Nya dan tidak mensyirikkan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan hak hamba atas Allah adalah Dia tidak menyiksa hamba yang tidak mensyirikkan-Nya dengan sesuatu apapun.”

Hadits ini mengandung fiqih yang agung bagi hati yang memiliki kepekaan karena menerangkan tentang sebab adanya kehidupan di alam semesta ini dan nilai yang paling mendasar bagi manusia. Siapa yang memperhatikan hadits ini dengan sungguh-sungguh dia telah sukses dan selamat tetapi barang siapa yang mengacuhkannya dia akan menjadi penghuni jahanam, kita berlindung dengan rahmat Allah dari neraka.

Kandungan hadits mengisyaratkan bahwa orang musyrik tidak mendapatkan hak selamat dari siksa walaupun dia melakukan amal shalih. Supaya orang-orang beriman mengenal rendahnya nilai orang-orang musyrikin yang mati dengan membawa amal shalih.

Hak wajib pada Allah yaitu beribadah pada Allah ta’ala semata dan meninggalkan kesyirikan. Ibadah merupakan hak Allah yang harus murni dipersembahkan semuanya pada Allah, tidak boleh sedikitpun dialihkan pada selain-Nya. Tauhid merupakan syarat diterimanya ibadah bahkan tauhid itu menjadi ibadah yang paling inti dan tertinggi. Tauhid menjadi amalan teragung bagi hamba.

Siapa yang menunaikan tauhid, dia telah menunaikan hak ibadah dan dia memiliki hak pada Allah untuk tidak mengazabnya. Siapa yang meninggalkan tauhid maka dia telah menelantarkan hak-hak paling agung sehingga dia berhak mendapat azab.

Pemahaman dari hadits ini, hamba berhak mendapat azab atas sebab syirik karena dia meninggalkan hak Allah ta’ala. Pemahaman ini didukung oleh banyak dalil lainnya, yaitu tujuan pencitaan makhluk tiada lain untuk mentauhidkan Allah.

Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Beribadah kepada-Nya dan tidak mensyirikkan-Nya dengan sesuatu apapun.”

Menerangkan tentang syarat tauhid sebelum beramal dan ketika beramal, karena Allah tidak menerima amalan kecuali dia seorang muwahid (bertauhid). Allah tidak akan menerima amalan kecuali amalan itu hanya ditujukan pada Allah semata. Jadi tauhid merupakan asas, tidak ada bangunan apapun yang mampu berdiri tanpa adanya pondasi. Amalan yang ditujukan hanya bagi Allah semata merupakan syarat mendapatkan pahala atas amal shalih yang dia perbuat.

Lalu apakah orang kafir dan musyrik mendapatkan pahala atas amal shalih yang dia lakukan? Orang-orang kafir dan muysrik kadangkala beramal shalih bertujuan untuk dipersembahkan pada Allah seperti shalat, haji sedekah atau lainnya dengan tetap dalam kondisi kesyirikan dan kekafirannya. Allah ta’ala berfirman mengenai orang-orang seperti ini: “Sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata. (Mereka berkata):”Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur”. (Yunus: 22)

Ayat mulia ini menerangkan keikhlasan orang musyrik ketika berdoa pada Allah saat kondisi kritis, menunjukkan orang musyrik dapat melakukan amal shalih sesuai syarat yaitu tauhid dan ikhlas tetapi dalam bersamaan dia melakukan kesyirikan dalam masalah lainnya. Maka kondisi mereka yaitu:

  1. Hak Allah untuk meringankan siksa mereka sesuai dengan amalan yang dilakukannya. Hal ini merupakan keadilan Allah, hikmah-Nya dan rahmat-Nya.
  2. Tidak mendapatkan hak untuk masuk surga meskipun dengan keberadaan amal shalihnya, sebab yang berhak masuk surga hanya orang-orang muwahidin (bertauhid).

Ketika seorang dapat menunaikan hak Allah yaitu mentauhidkannya dan tidak melakukan kesyirikan, maka dia akan menyandarkannya pada keutamaan Allah ta’ala. Mereka adalah orang-orang yang memuji pada Rabb mereka di dunia dan juga nanti di surga penuh kenikmatan. Pujian pada Allah ta’ala di awal dan di akhir. Memuji-Nya ketika melihat kebenaran janjinya; yaitu janji hak Allah yang tidak akan mengazab mereka.

Setiap bertambahnya kenikmatan yang datang, semakin meluap hati mereka dengan pujian pada Allah sampai kemudian Allah membangkitkan mereka bersama pemegang Panji Pujian yang dikhususkan pada hamba-Nya yang paling mulia yang telah Allah beri nama; Ahmad dan Muhammad (terpuji).

Sedangkan asas kekufuran yaitu menyandarkan nikmat pada selain Allah ta’ala seperti firman Allah: “Dan jika Kami merasakan kepadanya sesuatu rahmat dari Kami sesudah dia ditimpa kesusahan, pastilah dia berkata: ‘Ini adalah hakku.’” (Fushilat: 50)

Maksudnya mereka mengatakan, “Akulah yang berhak atas nikmat ini.” Seperti kata Qorun: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”. (Al-Qashash: 78)

Yaitu, “Aku mendapatkan nikmat ini karena usaha dari diriku sendiri.”

Asas tauhid adalah melihat hakikat kenikmatan pada semua hal yang tercurah pada manusia dari kebaikan dan keutamaan. Mengingat nikmat dan memuji Allah atas nikmat tersebut menjadi sebab bertambahnya kenikmatan serta barakahnya. Syukur itu melanggengkan nikmat dan menambahnya. Allah ta’ala berfirman: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu.” (Ibrahim: 7)

(*Dosen Perguruan Tinggi Tahfizhul Quran dan Entrepreneur Insan Karima Klaten Jateng)

Ayo tulis komentar cerdas