Home Mutiara Ramadan

Membaca Al-Quran dalam Salat Amalan Teragung Ramadan

10
Ilustrasi. (Foto: Istimewa)

Oleh: Zen Ibrahim*

KEAGUNGAN suatu amalan bisa dari jenis amalan tersebut. Dari sononya memang ditetapkan sebagai amalan yang agung, misalnya puasa. Allah telah menetapkan puasa sebagai ibadah yang agung dalam hadits Qudsi: ”Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh anak Adam akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah ta’ala berfirman: Kecuali amalan puasa. Amalan tersebut untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalas puasanya.” (Muslim)

Ulama mengatakan, ibadah puasa menjadi satu-satunya ibadah yang tidak bisa terbelokkan kecuali pasti lurus untuk Allah. Agama-agama lain juga memiliki puasa tapi hanya menjadi sekedar ritual atau untuk alasan kesehatan atau tujuan lainnya. Mereka tidak menemukan pahala atas kelelahan mereka melakukan puasa.

Hanya dalam Islam yang menempatkan puasa sebagai bentuk peribadatan. Umat sebelum kita juga diwajibkan untuk puasa sebagai bentuk peribadatan taqarub kepada Allah, firman-Nya: ”Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu.” (Al-Baqarah: 183)

Pengetahuan ini penting sebagai pengantar, bahwa puasa merupakan ibadah yang secara asal dicintai Allah azza wa jalla. Kedudukannya sama dengan tilawah Al-Quran, secara asal juga dicintai oleh Allah.

Imam Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah mengatakan: ”Ibadah paling agung di sisi Allah adalah tilawah Al-Quran dalam Salat.”

Sebagian ahlul ilmi berpendapat: ”Para ulama sepakat, membaca Al-Quran dalam Salat adalah ibadah yang teragung.”

Jadi dapat disimpulkan, level ibadah tertinggi adalah tilawah Al-Quran dalam Salat, level kedua adalah tilawah Al-Quran di luar Salat, level ketiga puasa sedangkan level keempat adalah zikir.

Lalu bagaimana bila seseorang melakukan tilawah dalam Salat saat dia puasa? Tentu saja dia mendapatkan kenikmatan yang sangat-sangat agung karena mengumpulkan berbagai macam ibadah teragung dalam satu waktu di bulan Al-Quran.

”Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran.” (Al-Baqarah: 185)

Para sahabat sangat mengenal bulan Ramadan sebagai bulan Al-Quran. Mereka membersamai Rasulullah shalalallahu alaihi wassalam yang melakukan setoran hafalan kepada Jibril alaihissalam ketika i’tikaf. Bahkan saat Ramadan terakhir sebelum beliau shalalallahu alaihi wassalam wafat, Jibril memeriksa bacaan Nabi sebanyak dua kali.

Kebiasaan para sahabat, mereka mengkhatamkan Al-Quran selama sepekan. Inilah martabat sahabat. Selain mereka, martabat seseorang mengkhatamkan Al-Quran berbeda-beda. Ada yang khatam selama sepuluh hari sekali, sebulan dua kali khatam dan sebulan sekali.

Para ulama membenci mengkhatamkan Al-Quran lebih dari empat puluh hari. Di antara mereka yang memiliki pendapat tersebut adalah Ishaq bin Rahawiyah dan Imam Ahmad. Bahkan Imam Ahmad mengatakan, sesorang yang selama empat puluh hari tidak bisa khatam, dia akan lupa pada hafalannya.

Menurut kebanyakan ulama, lupa ayat merupakan salah satu kabair (dosa besar). Disebut dalam kitab Al-Kabair dan Az-Zawajir an Iqtiraf Al-Kabair karya Ibnu Hajar Al-Haitamy.

Maka amalan paling agung di bulan suci ini adalah membaca Al-Quran dan keadaan yang paling agung ketika membacanya dalam Salat. Keadaan teragung dan yang paling agung saat qiyamullail seperti dalam hadits:
“Barangsiapa yang berdiri (Salat) Ramadan (dalam kondisi) keimanan dan mengharapkan (pahala), maka dia akan diampuni dosa-dosa yang telah lalu”. (Muttafaq alaih)

Menurut Imam Asy-Syafii rahimahullah, waktu paling afdhal qiyamullail setelah bangun tidur. Setelah Salat isya, pulang ke rumah tidak ikut Salat terawih berjamaah untuk tidur. Di malam hari dia bangun untuk Salat malam, namanya tahajud.

”Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu.” (Al-Isra: 79)

Tahajud merupakan ibadah qiyamullail yang paling agung. Qiyamullail inipun bertingkat-tingkat martabatnya sesuai dengan waktu. Martabat paling tinggi adalah qiyamullail Nabi Dawud: ”Beliau biasa tidur di pertengahan malam dan bangun pada sepertiga malam terakhir dan beliau tidur lagi pada seperenam malam terakhir.”

Selain itu ada waktu lain, yaitu qiyamullail di akhir sepertiga malam dan tidak tidur supaya tidak terlewat sahur. Martabat qiyamullail paling rendah adalah Salat malam antara waktu maghrib dan isya. Setelah Salat maghrib dia mengerjakan qiyamullail. Sebagian ulama memperbolehkan hal ini dengan hujah, setelah maghrib sudah masuk waktu malam.

”Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” (Al-Baqarah: 187)

Maksudnya, sempurnakan puasa sampai malam. Al-Quran menyebut waktu maghrib berbuka sudah masuk waktu malam dan bila telah masuk malam Salatlah termasuk qiyamullail. Dalil yang lainnya: ”Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam.” (Az-Zariyat: 17)

Sebagian salaf menafsirkan dengan Salat malam antara maghrib dan isya. Dari sini bisa dipahami, waktu qiyamullail sangatlah panjang. Mulai dari bada Salat maghrib hingga azan subuh. Sebab itu janganlah seseorang tertinggal dari Salat malam meskipun hanya membaca empat puluh ayat, seperti yang dilakukan oleh Imam Syafii.

Beberapa ahlul ilmi saat ditanya tentang orang yang tidak Salat malam menjawab: Orang tersebut tidak akan bisa menghafal Al-Quran.

Jadi, banyak dilalaikan orang-orang. Mayoritas mereka membaca Al-Quran sambil duduk di luar Salat. Terbaik yaitu, duduklah di atas kursi jika susah berdiri lalu Salatlah. Baca Al-Fatihah sambil berdiri kemudian duduk baca Al-Quran terserah mau berapa hizb, sesuai dengan waktu kita. Berarti kita membaca Al-Quran dalam Salat bukan di luar Salat.

(*Dosen Perguruan Tinggi Tahfizhul Quran dan Entrepreneur Insan Karima Klaten Jateng)

Ayo tulis komentar cerdas