Home Mutiara Ramadan

Hanya Amalan Puasa yang Tidak Digugurkan Maksiat

16
Ilustrasi. (Foto: Istimewa)

Oleh: Zen Ibrahim*

PERBUATAN dosa maksiat dapat terhapus dengan perbuatan amal shalih yang dilakukannya, meskipun dia tidak meminta ampun dengan istighfar. Sehingga amal shalih memiliki fungsi menggugurkan perbuatan dosa. Semakin banyak amal shalih yang hamba lakukan semakin banyak dosa yang akan digugurkan, seperti firman Allah: “Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.” (Hud: 114)

Dalam ayat di atas, Allah menetapkan dengan rahman dan rahim-Nya, pengampunan dosa jika si hamba melakukan perbuatan baik. Sebagian dosa itu otomatis akan digugurkan Allah ta’ala.

Sebaliknya, perbuatan maksiat juga dapat menggugurkan sebagian amal shalih. Pahala atas perbuatan baiknya bisa terhapus akibat perbuatan dosa yang dia lakukan. Dalam hal tersebut Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari.” (Al-Hujurat: 2)

Allah ta’ala memperingati para sahabat untuk tidak meninggikan suara melebihi suara Nabi shalallahu alaihi wassalam. Larangan mengeluarkan suara yang lebih keras dari suara Nabi shalallahu alaihi wassalam. Siapa yang melanggar larangan ini maka dia mendapatkan dosa.

Hanya karena perbuatan maksiat dengan meninggikan suara melebihi suara Nabi salalallahu alaihi wassalam menjadi penyebab hilangnya amal. Maksudnya, sebagian amal kebaikannya akan terhapus karena perbuatan maksiatnya.

Pemahaman ini dikuatkan dalil lainnya misalnya hadits yang mengatakan: “Siapa yang meninggalkan shalat Ashar, maka amalnya akan gugur.” (Al-Bukhari)

Rasulullah shallallahu alaihi wassalam menyatakan gugurnya amalan kebaikan seseorang karena maksiat meninggalkan shalat asar. Lalu bagaimana jika dia meninggalkan seluruh shalat rawatib lima waktu?

Kedua dalil di atas menunjukkan, amal kebaikan seorang hamba bisa terhapus karena perbuatan maksiat yang dilakukannya. Namun amal kebaikan yang terhapus hanya sebagian tidak seluruhnya. Perbuatan dosa yang dapat menghapus seluruh amal hanyalah syirik dan kekufuran seperti firman Allah: “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu.” (Az-Zumar: 65)

Kemudian dalam hadits keutamaan puasa, Sufyan bin Uyainah rahimahullah, meriwayatkan dari perkataan Asy-Syafii rahimahullah tentang makna kalimat hadits: “Kecuali amalan puasa. Amalan tersebut untuk-Ku.”

Kalimat tersebut adalah firman Allah ta’ala hadits hadits Qudsi berikut: “Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh anak Adam akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah ta’ala berfirman: Kecuali amalan puasa. Amalan tersebut untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalas puasanya.” (Muslim)

Sufyan bin Uyainah menjelaskannya dengan: Perbuatan maksiat seseorang tidak bisa menghilangkan amal puasa.

Seluruh jenis amal shalih bisa gugur karena perbuatan maksiat kecuali amalan puasa, dia tidak dapat terhapus akibat dosa. Sebab Allah berfirman: “Amalan tersebut untuk-Ku.”

Di hari kiamat nanti, kebaikan seseorang akan diambil sebagai ganti dari perbuatan dosanya. Misalnya, seorang pembunuh, pencuri atau pengghibah. Kebaikannya akan diambil dan diletakkan di atas mizan untuk menimbang kezhalimannya. Namun amal puasa tidak dapat diambil untuk menggantikan kelalimannya. Inilah keistimewaan ibadah puasa.

(*Dosen Perguruan Tinggi Tahfizhul Quran dan Entrepreneur Insan Karima Klaten Jateng)

Ayo tulis komentar cerdas