Home Mutiara Ramadan

Meluruskan Niat

17
Ilustrasi. (Foto: Istimewa)
  • Oleh: Zen Ibrahim*

RASULULLAH shalallahu alaihi wassalam bersabda: “Barangsiapa yang puasa Ramadhan karena iman dan karena ingin mendapatkan pahala, maka dia diampuni dosanya yang telah lewat”. (Muttafaq alaih)

Makna hadist di atas (karena iman dan karena ingin mendapat pahala) merupakan bentuk niat puasa. Maksud dari hadits tersebut, “Barang siapa yang puasa ramadhan DENGAN NIAT ingin mendapatkan pahala…..”

Niat perkara esensial bagi seseorang, sebab itu dia harus serius memperhatikan niatnya. Termasuk dalam puasa, setiap orang hendaknya mereview niat puasanya.

Untuk mempermudah memahami hadits mengenai niat puasa ini, sejenak kita belajar pada Imam Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah imam wara yang mengajarkan umat ilmu wara kepada umat.

Beliau rahimahullah pernah ditanya apa yang diniatkan seseorang ketika hendak shalat? Pertanyaan sederhana ini hampir-hampir tidak pernah diajukan seorangpun hari ini. Orang sudah tidak peduli lagi, apa niatnya saat hendak takbir. Padahal niat itu banyak, bukan hanya satu saja.

Kita bila shalat hanya meniatkan untuk melakukan suatu bentuk ibadah, atau niat untuk memperoleh pahala. Hanya satu itu saja yang kita niatkan untuk shalat. Padahal di sana ada niat-niat yang agung yang banyak.
Imam Ats-Tsaury rahimahullah menjelaskannya saat menjawab pertanyaan orang tersebut.

Beliau menjawab: “Niatkan untuk munajat pada Rabbnya!”

Lihatlah, ini merupakan niat lain ketika akan shalat selain niat ibadah, yaitu niat bermunajat pada Allah. Munajat dari kata najwa artinya bisikan atau berbicara pelan untuk merahasiakan pembicaraan agar tidak didengar orang lain.

Maknanya, dia shalat dengan niat bermunajat pada Allah, berbisik pada Allah, berbicara dengan lembut dengan Allah dan mendengarkan apa yang dikatakan oleh Allah padanya.

Ketika shalat, dia membaca firman-firman-Nya melalui lisan lalu dia dengar firman tersebut melalui telinganya. Dia baca dengan lirih, perlahan dan halus. Dia berdiri tunduk dengan adab dan khasyiah. Lalu dia tunduk dengan rukuk dan merebah sujud bersimpuh di hadapan-Nya. Inilah munajat yang dia niatkan untuk shalat.

Dari penjelasan imam besar tersebut, kita bisa menyeret untuk memahami niat puasa kita. Bila shalat saja bisa kita niatkan untuk munajat, maka puasa bisa juga kita niatkan untuk berbagai tujuan.

Sebab itu, miliki niat agung pada puasa kali ini minimal dua niat yaitu:

Niat pertama:

Kita niat puasa untuk menjalankan ketataan pada Allah azza wa jalla, melaksanakan perintahnya. Niat ini bentuk niat paling agung karena mengandung makna ubudiyah (peribadatan) dan praktek ketundukan kita pada perintah Allah ta’ala:

“Diwajibkan atas kamu berpuasa.” (Al-Baqarah: 183)

Niat kedua:

Niat memperoleh pahala yang dijanjikan oleh Allah azza wa jalla, dibatalkan dosa masa lalu dan memanen pahala unlimited. Dengan niat ini kita berharap bisa masuk janah melalui pintu Ar-Rayan.

Nama Ar-Rayan majas hiperbola dari Ar-Ray (situasi yang baik penuh kenikmatan). Siapapun yang sampai pada pintu Ar-Rayan akan merasakan situasi dan lingkungan yang sangat nyaman penuh kenikmatan sebagai balasan dari ketaatan pada Allah. Taat menjauhi jimak, makan, minum, menahan lisan serta larangan lainnya.

Setidaknya dua niat esensial inilah yang harus kita tanamkan dalam hati dalam menjalankan ibadah puasa di bulan penuh barakah. Sehingga puasa bukan hanya sebagai jalan mencapai takwa saja tetapi lebih dari itu wasilah untuk menggugurkan dosa.

(*Dosen Perguruan Tinggi Tahfizhul Quran dan Entrepreneur Insan Karima Klaten Jateng)

Ayo tulis komentar cerdas