Home Ekonomi

Jasa Curling Zarkasi yang Laris Manis di Palu

12
CUKUR RAMBUT - Zarkasi saat mencukur rambut salah satu kliennya. (Foto: Metrosulawesi/ Faiz)

Palu, Metrosulawesi.id – Kehadiran jasa pangkas rambut di tengah masyarakat urban maupun pedesaan terasa begitu penting, demi alasan memuaskan tata penampilan diri.

Seperti ihwal dikenal ‘Pangkas Rambut Madura’ yang tentu dipelopori oleh orang Madura itu sendiri, jadi wadah andalan penataan rambut hampir di seluruh penjuru Indonesia.

Sementara di wilayah perkotaan, telah anyar ditemukan barbershop dengan menyajikan sentuhan penataan rambut yang lebih trendi. Dari situ, baik wadah cukur rambut Madura maupun barbershop, masing-masing memiliki pelanggan tetap yang datang membawa ulasan gaya rambut sesuai keinginannya.

Di Kota Palu, Sulawesi Tengah, jasa tersebut mulai bermunculan di masyarakat namun dengan konsep tak menetap atau mendatangi klien. Seperti Curling atau cukur rambut keliling yang diterapkan oleh pemuda asal Palu berusia 21 tahun, Muhammad Zarkasi.

Dengan hanya memfungsikan motor pribadi serta sebuah hardcase atau kubus berisikan peralatan lengkap mencukur rambut serta akun resmi sosmed seperti Instagram, Zaki, sapaan akrab pemuda ini begitu bersemangat menerima pesanan dari berbagai kalangan orang Palu.

“Dalam satu hari itu ee, kira-kira empat tiga sampai enam klien kalau lagi ramai-ramainya,” katanya saat berbincang dengan jurnalis Metrosulawesi beberapa waktu lalu.

Dia mengatakan, butuh waktu tiga tahun atau sejak 2018 Zaki mulai belajar hingga memutuskan untuk menjadikan Curling sebagai pekerjaan tetapnya.

Namun tepatnya sejak September 2019, Zaki memutuskan menggeluti cukur keliling usai sebelumnya ia merasa tak betah ketika bekerja sebagai barberman atau pencukur rambut di salah satu barbershop selama 6 bulan.

“Kalau mau terus terang, porsi kerjanya tinggi. Sementara saya tidak bisa juga sesuaikan waktu kerja dengan kuliahku. Itu yang saya alami,”

Zaki, yang sempat beberapa lama mendalami seni mencukur ‘Mahkota Manusia’ di pulau Jawa, tepatnya di Yogyakarta, tengah pula menjalani statusnya sebagai mahasiswa Fakultas FUAD, jurusan PMI (Pengembangan Masyarakat Islam) sejak 2017 yang telah menjadi mahasiswa pucuk di semester 8 Kampus IAIN Datokarama Palu.

Bahkan ia merasa bangga ketika pengetahuan teknik mencukur kala di Yogya yang mengutamakan kepuasan klien serta kemaslahatan para pencukur rambut.

“Makanya di sana itu sampai ada komunitas khusus pencukur rambur, malahan ada juga komunitas khusus Curling kayak saya ini,” ucapnya.

Untuk modal awal Curling, dengan santai Zaki sebutkan hampir Rp5 juta uang pribadi ia kucurkan. Dengan angka modal tersebut tentu ia mendapatkan kualitas alat yang di atas rata-rata.

Namun menariknya, peralatan yang lengkap dan modern tak ia jadikan patokan untuk memasang harga tinggi kepada setiap kliennya. Zaki hanya memasang tarif di angka Rp35 ribu. Nominal harga itu menurut Zaki sebagai cara mengenalkan dan mengembangkan karya mencukur.

“Yaa harganya sama dengan barbershop lain. Tapi keuntungan untuk saya sedikit, justru lebih banyak kepada klien,” beber lelaki berbadan ramping namun terlihat bugar ini.

Keuntungan lebih banyak kepada klien ia contohkan seperti sisi waktu dan tenaga yang sangat minim terpakai. Karena selain ia yang mendatangi klien, untuk segi waktu, setiap klien ia batasi proses pengerjaan paling lama 30 menit telah selesai.

“30 menit itu pasti tingkat kesulitan dan permintaan klien pas dicukur, biasanya klien perempuan yang sampai durasi (30 menit) itu,” tutur Zaki.

Barberman yang terima dan lihai menata rambut perempuan ini juga membuka pesanan Curling hingga ke luar Palu seperti Sigi dan Donggala, dengan hanya cukup menambahkan ongkos jarak jauh sebesar Rp5.000.

Reporter: Faiz
Editor: Yusuf Bj

Ayo tulis komentar cerdas