Home Donggala

Kasman Pastikan Hunian Penyintas Selesai 2021

14
PEMBANGUNAN DIMULAI - Bupati Donggala Kasman Lassa melakukan peletakan batu pertama untuk pembangunan 15 Huntap Relokasi Mandiri Kelompok Mosinggnani Desa Tompe Desa Balentuma, Kecamatan Sirenja, Donggala, Sabtu 10 April 2021. (Foto: Metrosulawesi/ Tahmil Burhanuddin)
  • Apresiasi ke Warga Tompe yang Memilih Relokasi Mandiri

Donggala, Metrosulawesi.id – Bupati Donggala Kasman Lassa memastikan penanganan penyintas terkait pemenuhan hunian bakal rampung seluruhnya tahun ini. Hal itu disampaikan Kasman saat ditemui di lokasi peletakan batu pertama Hunian Tetap (Huntap) Relokasi Mandiri Kelompok Mosinggani Desa Tompe di Desa Balentuma, Kecamatan Sirenja, Donggala.

Meskipun saat ini masih ada sejumlah persoalan terkait upaya penyediaan Huntap bagi penyintas bencana di Kabupaten Donggala, Kasman memastikan tahun ini semua persoalan tersebut bakal terselesaikan.

“Jadi Desember 2021 itu sudah selesai semua. Ada yang bersengketa lahan, kita bayar semua,” ungkap Kasman Lassa,” Sabtu 10 April 2021.

Kata dia, ada sebelas titik lahan Huntap di Kabupaten Donggala. Saat ini lahan tersebut sudah siap. Bahkan bagi penyintas dari Loli Raya, Kecamatan Banawa, yang sempat ribut-ribut terkait Huntap pun, menurut Kasman, juga sudah siap untuk dibangun.

“Sudah siap (Huntap bagi masyarakat Loli). Termasuk Loli relokasi, bulan Juli mereka,” kata Kasman.

Terkait penyintas dari Desa Tompe yan memilih relokasi mandiri, Bupati Donggala mengapresiasi hal itu. Kasman bahkan berharap warga di daerah lain pun mau mencontoh warga di Desa Tompe itu.

“Sirenja ini saya anggap luar biasa, komitmen mereka dengan membeli lahan dan kemudian membangun tidak terlalu membebankan pemerintah. Ini saya dukung mereka sepenuhnya. Saya apresiasi mereka. Yakin saya desa lain mengikuti seperti ini, Kecamatan Sirenja itu warganya sangat cerdas dan profesional,” kata Bupati.

“Apa yang sudah dilakukan warga setempat (Tompe) terkait dengan pembebasan lahan, apalagi mereka ikut berpartisipasi untuk membayar secara mandiri. Walaupun sebenarnya pemerintah kabupaten sudah menyiapkan anggaran sebesar Rp25 miliar dengan pola mandiri. Kita menyiapkan anggaran untuk pembebasan lahan seperti di Desa Ganti, Banawa dan Loli Raya serta kecamatan lainnya,” jelasnya.

Kasman juga menjanjikan pemerintah daerah akan membantu penyediaan fasilitas penunjang bagi warga relokasi mandiri, seperti listrik dan jalan lingkungan di sana.

“Sudah pasti kita siapkan, karena di situ ada anggaran dana desa, dana desa itu bisa disiapkan untuk listrik, termasuk nanti pemerintah daerah siapkan jalan jalan lingkungan.”

Sementara itu, Direktur Arsitek Komunitas (Arkom) Indonesia Yuli Kusworo menyebutkan ada 15 kepala keluarga yang tergabung dalam kelompok relokasi mandiri Mosinggani Desa Tompe. Mereka merupakan penyintas bencana 28 Desember 2021 yang memilih relokasi mandiri dengan difasilitasi oleh Arkom.

Relokasi warga tersebut sempat terkendala karena upaya pencarin lahan yang cukup rumit. Selain lokasi yang harus dekat dengan tempat mata pencarian, lokasi yang dibutuhkan untuk relokasi pun harus memenuhi syarat, yakni tidak berada di zona merah dan sepadan sungai.

“Jadi ini statusnya itu lahannya dibeli oleh warga. Jadi warga ini dapat bantuan Rp50 juta dari Arkom. Rp40 juta untuk biaya material dan Rp10 juta untuk biaya tukang,” kata Direktur Arkom Indonesia.

“Tapi dari Rp10 juta itu dipakai beli tanah masing-masing Rp5 juta, jadi sebagian pekerjaan dikerja secara mandiri,” jelasnya.

Arkom sendiri membantu para penyintas dengan tetap melibatkan mereka untuk menentukan seperti apa lokasi, model rumah dan sebagainya yang akan dibangun.

“Arkom hanya menjembatani masyarakat yang menolak direlokasi ke huntap oleh pemerintah karena jauh dari wilayah mata pencarian mereka yang rata-rata adalah pelaut,” tutur Yuli.

Pembangunan Huntap Relokasi Mandiri Kelompok Mosinggani Desa Tompe di Desa Balentuma telah dimulai secara simbolis dengan peletakan batu pertama oleh Bupati Kasman Lassa pada Sabtu 10 April 2021 lalu.

Warga pun berharap, pemerintah membantu fasilitas penunjang seperti listrik, air bersih dan jalan lingkungan.

Rumah yang akan dibangun merupakan rumah dengan luasan tipe 36, model rumah tapak yang juga merupakan rumah tahan gempa (RTG) serta rumah instan sederhana dan sehat (Risha).

Reporter: Tahmil Burhanuddin
Editor: Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas