Home Artikel / Opini

Bara Papua Kapan Padam?

17

BUKAN tiap tahun. Tapi tiap bulan. Mungkin tiap minggu, tragedi pembunuhan bersenjata terjadi di wilayah NKRI: Tanah Papua!

Bulan lalu dua tentara gugur ditembak. Kemarin dua guru tewas ditembak: Oktovianus Rayo dan Yonatan Renden. Entah besok berapa yang mati ditembak. Sebuah rutinitas yang terus melaju. Meski mendapat perlawanan, namun tak ada janji bara itu akan padam.

Pemerintah lebih memilih istilah KKB–Kelompok Kriminal Bersenjata–sebagai pelakunya, bukan istilah teroris seperti pelaku bom gereja Katedral Makassar dan serangan gadis cantik Zakia Aini ke Mabes Polri–meski mereka selalu mengibarkan bendera yang tak berwarna merah putih.

Terserah–apa pun namanya atau istilahnya–rakyat Papua butuh jaminan keamanan agar mereka dapat menjejakkan kehidupannya dengan aman dan damai di tanahnya sendiri.

Bila terjadi penyerangan bersenjata, yang menandakan jatuhnya korban berdarah, biasanya pihak keamanan langsung menyebut pelakunya dari kelompok tertentu. Lengkap dengan nama pimpinannya. Misalnya dua nama ini: Lekagak Telenggen dan Sabinus Waker. Termasuk ideologi dan jurus-jurus gerakan sempalannya. Sangat detail. Terkesan pihak keamanan memahami benar siapa mereka sesungguhnya. Penyebutan kelompok itu terus berulang, sehingga nama pimpinan itu pun populer. Sel-sel mereka juga diungkap dengan data transparan. Tak terkecuali lokasi persembunyiannya. Seakan mereka begitu mudah untuk dibinasakan, seketika. Dipadamkan baranya hingga tak memantik nyala api lagi. Faktanya, mereka tetap bergerilya dan tak pernah jeda untuk menodai negeri ini dengan tragedi-tragedi yang tak berujung, hingga detik ini.

Sebagai orang awam tentu berhak bertanya-tanya, ada apa pihak keamanan yang terlatih hebat itu dan sudah menghapal betul dari mana asal kelompok itu, tak mampu menghentikan rutinitas tragedi yang terus melukai rakyat dan bangsa ini.

Banyak kebijakan sudah diterapkan di Tanah Papua, sejak era dulu hingga era sekarang. Dari kebijakan keamanan militerisme, kebijakan pembangunan ekonomi, kebijakan budaya, hingga kebijakan politik. Terlepas apakah kebijakan itu dilakukan dengan sungguh-sungguh, namun tak mampu meredam tingkah-tingkah kriminal yang digerakkan oleh segelintir orang Papua yang terus mendengungkan dilakukannya referendum.

Kalau selama ini pemerintah sendiri yang berusaha memadamkan bara Papua, dan hasilnya masih terus memantik api baru di sejumlah titik, mungkin dibutuhkan paradigma baru. Siapa tahu ada tokoh kharismatik di negeri ini–bukan dari pemerintahan–yang bisa diterima oleh berbagai kalangan di Tanah Papua. Tokoh itu akan menjalin komunikasi humanis dengan saudara-saudara kita yang selama ini memiliki pandangan lain untuk tanah leluhurnya.

Aku tiba-tiba mengingat Gus Dur, mantan presiden kita itu. Dialah seorang tokoh yang dicintai dan dikagumi oleh rakyat Papua lantaran mampu memahami hati saudara-saudara kita di sana.

Gus Dur memang telah pergi untuk selamanya. Tak mungkin lagi menjalankan diplomasi perdamaian di Papua. Bagaimana kalau keluarganya–anak-anaknya–diutus oleh pemerintah untuk membawa misi humanis kepada tokoh-tokoh yang berpandangan lain, termasuk mereka yang terus mendengungkan digelarnya referendum itu.

Siapa tahu keluarga Gus Dur–tanpa senjata–mampu meredam bara Papua yang tak pernah padam itu. Ya, siapa tahu! (#)

Ayo tulis komentar cerdas