Home Sulteng

PMI Sulteng Tak Bisa Layani Pendonor Plasma Konvalesen

14
Kepala Laboratorium UTD PMI Sulteng, Uliani. (Foto: Metrosulawesi/ Michael Simanjuntak)
  • Belum Punya Alat

Palu, Metrosulawesi.id – Unit Transfusi Darah Palang Merah Indonesia (UTD PMI) Sulteng sampai saat ini tidak memiliki stok plasma konvalesen. Kepala Laboratorium UTD PMI Sulteng, Uliani, menjelaskan pihaknya belum memiliki alat untuk pelayanan donor plasma konvalesen yang bernama Apheresis. Apheresis berfungsi memisahkan antara sel darah merah, sel darah putih, trombosit, dan plasma konvalesen.

“Kami belum punya alatnya, jadi tidak bisa berbuat apa-apa,” ungkapnya kepada Metrosulawesi di Palu, Jumat, 9 April 2021.

Plasma konvalesen sendiri adalah plasma darah yang diambil dari pasien Covid-19 yang telah sembuh. Plasma dari penyintas Covid-19 diproses agar dapat diberikan kepada pasien yang terpapar virus corona. Donor darah plasma konvalesen tersebut untuk membantu pasien lain yang belum sembuh dari Covid-19.

Uliani mengatakan setelah keluarnya informasi terkait plasma konvalesen, sejumlah penyintas corona telah mendatangi pihaknya untuk mendonor. Namun karena ketiadaan alat, donor plasma konvalesen belum bisa dilaksanakan UTD PMI Sulteng.

“Banyak yang datang (penyintas corona) bertanya, tapi kami belum punya alatnya. Jadi memang yang boleh donor plasma konvalesen itu harus orang yang sembuh dari Covid-19. Itupun ada waktunya, hanya dua minggu setelah sembuh, lewat dari situ tidak bisa lagi donor plasma konvalesen,” ujar Uliani.

Dia menjelaskan selain alat ketiadaan alat, UTD PMI Sulteng juga belum memiliki kantong untuk plasma konvalesen. Sebab kantong plasma konvalesen tidak sama dengan yang digunakan untuk donor darah biasa.

Adapun untuk rangkaian pengambilan plasma konvalesen tidak jauh berbeda dengan donor darah biasa. Calon pendonor harus tetap melalui pemeriksaan seperti tekanan darah dan lainnya. Setelah darah diambil dilakukan serangkaian pemeriksaan untuk memastikan kualitasnya.

Dikatakan, ketiadaan Apheresis sudah disampaikan kepada Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Sulteng. Namun Dinkes disebut masih berupaya karena untuk pengadaan Apheresis membutuhkan biaya besar.

“Mungkin tahun depan baru ada karena alatnya memang sangat mahal. Kalau SDM kami ada, tinggal dilatih saja. Kalau untuk pengambilan darah plasma rata-rata semua sudah bisa,” tandas Uliani.

Reporter: Michael Simanjuntak
Editor: Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas