Home Donggala

Arkom dan Warga Mulai Bangun Risha

17
BERCENGKERAMA - Penyintas kelompok Relokasi Mandiri Mosinggani saat membuat miniatur Risha yang segera dibangun untuk jadi tempat tinggal mereka nantinya. (Foto: Dok. Arkom)
  • Perjuangan Penyintas Relokasi Mandiri di Tompe Segera Terwujud

Palu, Metrosulawesi.id – Setelah lebih dari dua tahun sejak bencana alam 28 September 2018 lalu, belasan kepala keluarga penyintas di Desa Tompe, Kecamatan Sirenja, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah yang kehilangan hunian akhirnya segera mendapatkan rumah.

Peristiwa bencana alam gempa bumi, tsunami dan likuefaksi di Kota Palu, Sigi dan Donggala (Pasigala) memang masih menyisakan banyak pekerjaan rumah, terutama di wilayah pesisir barat. Salah satu daerah yang sampai saat ini masih terdampak adalah Desa Tompe, Kecamatan Sirenja Kabupaten Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah.

Olehnya, atas dasar kemanusiaan relawan Arsitek Komunitas (Arkom) Palu yang berada di bawah naungan Yayasan Arsitek Indonesia (YAI) bersama masyarakat penyintas bekerja bersama merespons dampak bencana di Sulteng, dengan membentuk kelompok masyarakat sebagai Tim Pembangunan Kampung (TPK).

“Ide baik pembentukan TPK segera disambut dan didukung oleh pemerintah Desa Tompe. Upaya-upaya pemulihan segera dilakukan dalam berbagai bentuk kegiatan,” ungkap Tim Sosial Relawan Arkom, Abdi Saputra, Jumat 9 April 2021.

Kata dia, TPK ini bertugas sebagai motor penggerak dalam mengorganisir warga untuk melakukan pendataan, perencanaan dan pembangunan, termasuk kesiapsiagaan dan mitigasi bencana.

“Spirit dan semangat Mosinggani Mombangu Ngata, bersama-sama kita membangun kampung menjadi semboyan dan penyemangat bekerja,” ujar Abdi.

Bekerja bersama masyarakat dan menempatkan masalah sebagai masalah dan mencari solusi bersama adalah salah  satu cara meningkatkan kesadaran kolektif masyarakat agar dapat berdaya. Salah satu hasil dari kebersamaan tersebut adalah keberanian masyarakat memutuskan relokasi mandiri.

Di desa Tompe ada 15 keluarga memilih relokasi mandiri. Dalam proses menemukan lokasi yang cocok sebagai hunian dengan kreteria zona aman, aman dari banjir Rob, dekat dengan kegiatan ekonomi, dan terjangkau adalah sebuah perjuangan tersendiri. Setidaknya 12 kali kelompok relokasi mandiri itu mengalami kegagalan mendapatkan lokasi yang cocok.

Namun pada akhirnya mereka menemukan lokasi yang cocok dalam wilayah administrasi desa Balintuma dengan luas lokasi sekitar 2.876 m2.

“Para pejuang relokasi mandiri bersama YAI selanjutnya merancang, mendisain dan membangun huniannya,” jelasnya.

Sebagai awal pembangunan hunian relokasi mandiri, para pejuang relokasi mandiri akan mengadakan upacara peletakan batu pertama dengan mengundang para aparat pemerintah setempat dan  saudara seperjuangan relokasi mandiri dari Kelurahan Mamboro, Kota Palu pada Sabtu 10 April 2021 hari ini.

Pembangunan hunian tetap relokasi mandiri ini akan dibangun oleh para pemiliknya dengan teknologi Rumah Instan Sederhana dan Sehat (Risha). Struktur rumah tahan gempa dengan model bongkar pasang. 

“Kami berharap bisa bekerja sama dengan berbagai pihak agar proses membangun hunian segera selesai terutama infrastrukturnya,” ungkap Ferdy salah satu anggota kelompok Mosinggani desa Tompe.

Diketahui, Arkom telah mendampingi warga Desa Tompe sekitar dua tahunan. Selama itu, mereka telah banyak melakukan aktivitas pendampingan kepada para penyintas.

“Kita tau bahwa dalam masa rehabilitasi dan rekonstruksi yang ada di Kabupaten Donggala masih banyak warga yang belum terpenuhi haknya,” sebut Abdi.

Lewat program itu, Arkom turut membantu pemerintah dalam hal percepatan pembangunan huntap.

Reporter: Tahmil Burhanuddin
Editor: Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas