Home Sulteng

Pekerja Migran Sulteng Tembus 6.000 Orang

6
Firdaus Abd Karim. (Foto: Istimewa)

Palu, Metrosulawesi.id – Pekerja migran asal Sulawesi Tengah (Sulteng) sampai saat ini telah tembus 6.000 orang. Hal ini diungkapkan Kepala Bidang Pembinaan Pelatihan Perluasan Penempatan dan Produktivitas Tenaga Kerja (P5TK) Disnakertrans Provinsi Sulteng, Firdaus Abd Karim, kepada Metrosulawesi, Kamis, 8 April 2021.

“Data yang ada sama kami, pekerja migran Sulteng sejak tahun 2010 ada 6.000 lebih,” ungkapnya.

Firdaus menjelaskan pekerja migran Sulteng bekerja diberbagai negara di Asia Pasifik seperti Hongkong dan Singapura. Baru-baru ini, sebanyak enam pekerja migran asal Sulteng diberangkatkan menuju Hongkong dan Malaysia.

Dikatakan, saat ini peluang untuk menjadi pekerja migran bagi warga Sulteng masih terbuka ke sejumlah negara. Namun khusus ke Saudi untuk pekerja informal masih moratorium sejak 2016.

“Tapi perlu kami ingkatkan bagi mayarakat atau keluarga yang akan berangkat sebaiknya terlebih dahulu mendatangi Disnaker terdekat untuk informasi berkaitan pemberangkatan PMI (pekerja migran Indonesia) ke luar negeri,” tandas Firdaus.

Sebelumnya diberitakan, dua warga PMI asal Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah, jadi korban perdagangan orang. Kedua PMI tersebut berjenis kelamin wanita atas nama Masmawati bt Sapri Kasau dan Asmawani, yang sama-sama berasal dari Desa Buranga, Kecamatan Ambibabo, Parimo. Firdaus mengungkapkan keduanya diimingi kerja jadi Penata Laksana Rumah Tangga (PLRT) bergaji tinggi di Uni Emirat Arab (UEA).

“Mereka ini (Masmawati dan Asmawani) adalah korban dari perdagangan orang dan masuk kategori ilegal PMI. Aktor utama atau calo yang memberangkatkan para PMI ini harus kita telusuri untuk diproses ke jalur hukum. Saat ini keduanya telah difasilitasi pulang ke Parigi Moutong,” ungkap Firdaus kepada Metrosulawesi, Rabu, 7 April 2021.

Berdasarkan keterangan yang digali dari korban, keduanya berangkat ke Negara UEA pada Desember 2020. Keduanya mengaku diajak oleh orang yang dikenalnya dan dijanjikan untuk bekerja selama dua tahun sebagai PLRT. Masmawati dan Asmawani berangkat ke UEA melalui ‘jalur tikus’ dan tanpa dokumen resmi.

Firdaus mengatakan Masmawati dan Asmawani sekitar empat bulan di UEA dengan status yang tidak jelas. Pekerjaan yang dijanjikan oknum yang membawa kedua korban tak kunjung ada.

“Karena status yang tidak jelas selama empat bulan, mereka (Masmawati dan Asmawani) meminta pulang ke Indonesia,” ujarnya.

Firdaus menjelaskan Masmawati dan Asmawani bisa keluar dari UEA difasilitasi oleh UPT Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) Serang dan pihak terkait lainnya. Jalur pemulangan kedua korban dari UEA melalui Bandara Soekarno Hatta yang tiba pada Minggu, 4 April 2021. Selanjutnya, Masmawati dan Asmawani diterbangkan menuju Bandara Mutiara Sis Al Jufrie Palu menggunakan pesawat Batik Air ID-7585 pada Selasa, 6 April 2021.

Reporter: Michael Simanjuntak
Editor: Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas