Home Inspirasi

Kukuh Timba Ilmu dalam Belenggu Terungku

6
GIGIH BELAJAR - Tak ingin melewatkan materi kuliah, tampak kegigihan Sunardin mengamati hasil perkuliahannya ,di dalam gedung penuh besi dan tembok kawat duri, Rutan Kelas IIA Palu. (Foto: Metrosulawesi/ Faiz)
  • Sunardin, Mahasiswa IAIN Belajar di Tengah Pandemi Covid

Palu, Metrosulawesi.id – Ada kalanya bencana bukan alam wabah pagebluk virus corona sepenuhnya mengacaukan segala sisi kehidupan. Bahkan ia boleh disebut terselamatkan atas ambang tersulit kehidupan dunia akibat virus mematikan itu.

Lewat pembelajaran dalam jaringan atau daring, Sunardin, paling tidak masih bisa meluapkan antusias menimba ilmu yang ia timba dari jurusan Manajemen Pendidikan Islam (MPI), Fakultas Tarbiyah, di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Datokarama, Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah.

Sunardin, lelaki berusia 20 tahun dengan sapaan akrabnya Nardin, memasuki tahun kedua atau sebagai mahasiswa semester 4 di kampus berhadapan dengan Pantai Talise itu.

Namun lumrahnya semua kalangan pelajar dewasa ini, yang mengisi absen kelas belajarnya dari rumah atau di kedai dengan sinyal wi-fi kencang, tetapi itu tak berlaku bagi Nardin.

Bagaimana tidak, di sela optimis diri mengejar gelar sarjana, Nardin harus berpacu dengan batin lebih sabar kala ia masih terus jalani masa pidana kurungan di Rumah Tahanan (Rutan) Kelas IIA Palu, Kelurahan Lolu Selatan, Kecamatan Palu Selatan.

Sunardin ditetapkan sebagai narapidana oleh persidangan Rutan Kelas IIA Palu, usai sebelumnya dijadikan tahanan oleh Polres Palu lantaran terbukti membawa senjata tajam berupa beberapa anak busur serta busurnya, ketika berdemonstrasi menolak Undang-Undang “sapu jagat” Omnibus law atau Cipta Kerja.

Nasib apes yang didera Nardin itu bermula ketika ia diantara sekitar 200 mahasiswa IAIN Datokarama Palu lainnya kembali turun ke jalan Sam Ratulangi, Palu dalam lanjutan aksi penolakan UU Ciptaker gelombang kedua pada Senin, 12 Oktober 2020 lalu.

“Kami mulai jalan dari kampus (IAIN Datokarama) sekitar jam 8 pagi. Tapi saya berangkat dari kos teman, setelah itu dengar instruksi koorlap (koordinator lapangan) tidak lama terus kita jalan sampai ke titik aksi dikawal polisi,” ujarnya merunut kronologi penangkapannya kepada jurnalis Metrosulawesi belum lama ini.

Setibanya di titik aksi, Nardin ratusan rekannya langsung bersatu padu dengan lautan mahasiswa dari berbagai kampus di Palu sembari berorasi. Tapi ia tak menyadari, busur yang ia sembunyi dalam tas ranselnya bisa kepergok polisi. Nardi pun mengakui busur itu miliknya dan sama sekali ia tak menampik penggeledahan itu.

Masih dengan kostum identitasnya yakni almamater hijau, Nardin langsung digiring ke Mapolres Palu hingga ia diterungku selama kurang lebih dua bulan lamanya.

Hingga akhir tempat berpintu besi lengkap dengan gembok besar milik Rutan Kelas IIA Palu, jadi ruangan saban hari Nardin terhitung sejak 13 Desember 2020 hingga timpaan vonis dirinya lewat pengadilan secara online selama 1 tahun 2 bulan.
Bergeser dari topik masa kelamnya kemarin, sekalipun Nardi berstatus sebagai tahanan, ia menunjukkan keseriusannya menjadi mahasiswa patuh dan terdidik ketika saya datang ke suatu ruangan khusus dalam rutan dan tak sengaja menemui Nardi sedang fokus mencatat materi perkuliahan.

Kuliah yang sementara ia ikuti lewat ponsel pintar milik petugas rutan yang dipinjamkan, dikatakan Nardin merupakan suatu kebahagiaan kecil dirinya di masa tahanan. Bahkan sejak awal ia mendekam dalam sel nomor 22C Rutan Kelas IIA Palu hingga kini, Nardin ogah mengambil cuti kuliah.

“Iye tiap hari saya ikut (mata kuliah). Petugas kasih saya kuliah online, termasuk ruangan dan peralatan belajar seperti buku album ini,” Nardi menunjukkan suasananya berkuliah.

Ia mengungkapkan, mengikuti seluruh mata kuliah, Senin sampai Sabtu dengan mengesampingkan kesulitannya jalani hidup dalam penjara. Momen itu diperolehnya ketika ia tak muluk-muluk melakukan banding saat diadili.

Hanya saja ia meminta dua hal, agar statusnya sebagai mahasiswa aktif tak dicabut pihak kampus dan biaya SPP senilai Rp.1,1 juta dengan janji ia tunaikan.

Permohonan itu ditanggapi pihak Rutan Kelas IIA Palu dengan dua syarat pula, pertama bukti pembayaran SPP selama 4 semester yang telah dan sedanga Nardin jalani, serta bukti mata kuliah dari acuan standar jumlah Satuan Kredit Semester (SKS) yang ia program di semester berjalan, dengan IPK terakhir yang ia kantongi di angka 2,7.

Luapan rasa syukur kembali bergumam di diri Nardin, mana kala permohonan itu dibijaksanakan pihak IAIN Datokarama Palu dan diterima oleh petugas Rutan Kelas IIA Palu.

“Alhamdulillah sekali saya masih dikasih kesempatan kuliah sebagai mahasiswa aktif. Selain itu juga banyak sekali hikmah hidup yang saya dapat di dalam rutan ini,” tutur batin lelaki berusia 20 tahun ini.

Keberuntungan di pihak Nardi dalam cengkeraman pandemik Covid-19 seperti di awal tulisan ini, adalah selain gadget pinjaman yang melancarkan kuliahnya, petugas rutan pun kadang kala berikan izin Nardi gunakan komputer rutan lengkap dengan wi-fi karena alasan mencegah penularan COVID-19, asalkan hanya difungsikan sekaitan kuliahnya.

Sekalipun Nardi pernah mengalami penganiayaan oleh napi satu selnya hingga membuat paha kirinya luka karena dua tusukan paku beton, petugas rutan langsung memindahkan napi tersebut ke sel di luar Palu dan ia justru dibanjiri kepedulian antar napi lainnya.

“Kayak ditindas begitu saya waktu awal-awal dipenjara di sini, tapi dari awal (masuk sel rutan) saya sudah ikhlaskan semuanya dan sabar saja. Semua petugas juga selama ini baik kepada saya,” imbuhnya.

Sunardin yang lahir tanggal 15, bulan November 2001 di Desa Tambu, Kecamatan Balaesang Tanjung, Kabupaten Donggala ini ternyata mendapatkan beasiswa subsidi berupa potongan SPP yang melegakan hatinya dengan hanya membayar di nominal Rp.400 ribu per semesternya.

Buah keikhlasannya itu kembali menenangkan jiwa Nardin, kala petugas rutan membawa harapan sejuk dan menyambangi ia ketika berkuliah.

Sembari petugas menghitung masa tahanannya, alhasil petugas akan mengabulkan remisi kurungan Nardi selama 15 hari saat lebaran Idul Fitri tahun 2021 mendatang. Sampai nanti ketika rindu tak lagi menyesakkan Nardi menggebu temui keluarganya di kampung, walau sesaat.

Dengan terbesit secercah impian Sunardi jadi mekanik otomotif jika nanti ia menemui waktu menghirup udara bebas tahanan, di masa yang akan datang.

Reporter: Faiz
Editor: Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas