Home Sulteng

Pengelola Destinasi Harus Sosialisasikan CHSE

7
CITY TOUR - Kepala Dispar Sulteng, I Nyoman Sriadijaya (kiri), saat mengikuti City Tour yang merupakan salah satu agenda Rakornis di Morowali Utara, belum lama ini. (Foto: Istimewa)
  • Pandemi Covid-19 Ubah Perilaku Berwisata

Palu, Metrosulawesi.id – Rapat Koordinasi Teknis (Rakornis) Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Tengah, di Morowali Utara telah usai dilaksanakan. Ada beberapa penyampaian yang disampaikan oleh sejumlah narasumber diantaranya Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sulteng, I Nyoman Sriadijaya, yang membawakan materi tentang Pengembangan Pariwisata Prioritas Sulteng.

I Nyoman mengatakan, pembangunan destinasi pariwisata Provinsi Sulteng mengacu pada Permendagri 90 Tahun 2019, yang berkaitan dengan program peningkatan daya tarik destinasi pariwisata. Namun Covid-19 mengantar ke era baru dimana pilihan dan perilaku berwisata menjadi berbeda dari sebelumnya.

“Perubahan dalam berwisata dari bermaii-ramai menjadi individual itu terjadi di masa pandemi Covid-19, bahkan lebih memerhatikan Cleanliness, Health, Safety, and Environmental Sustainability (CHSE), selain itu cenderung pada pasar lokal dan regional, kemudian cenderung ke wisata alam atau kebugaran, meningkatnya tingkat kunjungan, lama kunjungan dan pengeluaran wisatawan,” ungkap I Nyoman, melalui ponselnya, Senin, 5 April 2021.

I Nyoman mengatakan, pengelola destinasi wisata perlu melakukan penyuluhan kepada warga terkait penanganan kesehatan jika terinfeksi, tanggap bencana dari virus, dan sadar wisata serta sosialisai standar pasca Covid-19 di destinasi wisata.

“Ada beberapa tantangan yang dihadapi dalam penerapan CHSE di antaranya, biaya operasional naik versus kapasitas turun, masyarakat belum terbiasa secara mandiri, untuk menjaga jarak ketika ketemu di Cafe, memakai masker ketika ngobrol, serta kurangnya pengawasan terhadap penerapan CHSE oleh Pemerintah Kabupaten/Kota,” ujarnya.

Selain itu kata I Nyoman, dampak pandemi Covid-19 terhadap pariwisata di Sulteng, yakni wisatawan mancanegara turun drastis seiring pengurangan penerbangan internasional.

“Selain itu wisatawan nusantara turun drastis sejak pandemi, dan akan semakin memburuk seiring social and physical distancing. Pandemi tidak hanya berdampak pada pariwisata, tetapi juga secara global usaha perhotelan, jasa penerbangan, angkutan dara dan laut mencatat penurunan tajam,” ungkapnya.

Olehnya itu, I Nyoman mengatakan, Dispar Sulteng terus mendukung pemulihan pariwisata tahun 2021, dukungan itu tak lepas dari peranan Kemenparekraf RI bersama Pemprov Sulteng, dalam memberikan bantuan lauk siap saji (BALASA) dan obat-obatan atau alat pelindung diri berupa masker, multivitamin, desinfektan, handsanitizer, bagi para pelaku usaha pariwisata se- Sulteng.

“Khusus BALASA di 2020 kemarin, sebanyak 12.913 paket sembako untuk pelaku atau pekerja industri pariwisata dan ekonomi kreatif kabupaten/kota di Sulteng,” pungkasnya.

Reporter: Moh. Fadel
Editor: Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas