Home Banggai Laut

Pemasaran Secara Luas Terkendala Label Paten

8
SAMBEL ROA - Rahma Saule saat membuat ikan roa di rumahnya. Jl. Pala Indah, Desa Lampa. Banggai Laut. (Foto: Metrosulawesi/ Purnomo Lamala)
  • Rahma Saule, Mencoba Peruntungan dengan Membuat Sambal Roa

Rahma Saule (50 thn) dibantu beberapa rekannya mencoba peruntungan dengan membuat sambal roa. Sejenis sambal yang bahannya terbuat dari ikan roa. Seperti apa aktivitasnya? Berikut ini laporannya.

SAAT hendak masuk ke rumah semi permanen itu terdengar bising mesin packing kemasan. Dewa surya mulai menguning bak emas terpancar di antara lubang-lubang jendela. Rahma Saule terlihat tengah sibuk berkutat mengatur kemasan sambal roa yang sedari tadi dimasak didapur rumahnya di Jalan Pala Indah, Desa Lampa, Banggai Laut. Dari ruangan sekitar 3×3 meter itu. Rahma kemudian memasukkan satu persatu sambal roa ke kemasan yang telah disiapkannya.

“Sekitar tahun 2015 kami memulai UMKM ini hanya sebatas lingkungan keluarga saja,” ujarnya.

Tangannya tampak lincah mengatur susunan kemasan sambal roa, ia mengatakan dalam usaha ini tidak ada yang merasa terbebani. Jika ada di antara anggota UMKM yang tidak bisa membantu pastinya akan dimaklumi.

“Biasanya yang dibuat kripik, abon ikan dan sambal roa,” jelasnya.

Rahma mengatakan, anggota UMKM miliknya kini memiliki 7 orang anggota.

“Tercatat 7 yang aktif 5 orang,”ucapnya.

“Yang paling banyak meminat sambal roa,” sela Sulastri anggota UMKM yang turut membantu Rahma sore itu.

Model pemasaran produk UMKM milik mereka mulai menggunakan media sosial dan dari mulut ke mulut.

“Saya share di grup WhatApps pengajian, facebook dan titip di kios-kios,” terang Sulastri.

Sebenarnya, kata Sulastri produk UMKM yang dibuat pihaknya tinggal menunggu izin edar agar bisa dipasarkan secara luas, namun terkendala karena belum memiliki label paten.

“Kami belum memiliki itu,” jelasnya.

Penjualan sambal roa dan abon ikan menurut Rahma ada perbedaan. Abon ikan misalnya, lebih lama laku dibanding roa.

“Abon biasanya yang pesan ibu-ibu yang punya anak kuliah di luar kota,” ujarnya.

Produksi sambal roa yang dibuat Rahma berkisaran 2 kg ikan roa kering ditumbuk dan dibersihkan setelah jadi sekitaran 10 kg sambal roa yang siap dikemas.

“Itu sudah termasuk dengan rempahnya dan minyak,” ucapnya.

Satu kemas sambal roa, Rahma menjualnya dengan Rp25.000/100gram dengan perhitungan sebulan bisa mencapai sekitar Rp6.000.000.

Mencari bahan baku ikan roa di Kabupaten Banggai Laut tidak sulit Pengolahan ikan roa tersebar di Kecamatan Bokan Kepulauan dan Bangkurung. Desa Bungin Luwean misalnya, nelayan rutin mengolah ikan roa, kemudian dijual ke luar daerah dan memenuhi pasar lokal. Biasanya, di pasaran dijual Rp 150 ribu hingga Rp 200 ribu per rak.

Reporter: Purnomo Lamala
Editor: Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas