Home Ekonomi

Marketing Penjualan Bawang Goreng Belum Maksimal

10
Setyo Susanto (kedua dari kanan). (Foto: Istimewa)
  • Kadis Setyo: Harus dari Hulu ke Hilir

Palu, Metrosulawesi.id – Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kota Palu, Satyo Susanto, A.Td mengungkapkan, pemerintah pusat berupaya untuk memberdayakan masyarakat di daerah dengan produk lokalnya. Menurutnya, di Kota Palu, salah satu produk lokal yang patut menjadi perhatian dari seluruh stakeholder adalah bawang goreng.

“Bagaimana suatu produk lokal bisa menjadi ikon dari suatu daerah, ketika produk tersebut massif dijual di berbagai tempat strategis di daerah itu, misalnya bandara dan sebagainya. Dan masyarakat luar harus tahu seperti apa bawang goreng Palu itu,” kata Setyo saat ditemui media ini di ruang kerjanya, Senin, 5 April 2021.

“Bawang goreng Palu itu kualitas bagus, lebih dari standar nasional, disimpan 2 bulan pun bawang goreng Palu masih renyah. Kemudian, bawang goreng Palu terkenal mahal. Apa yang kita lakukan atas dua keadaan itu, bisa tidak kita menekan harga itu. Komponen apa yang bisa ditekan harganya dari produksi bawang goreng itu,ini apakah sudah dilakukan atau belum,” tambahnya.

Setyo mengatakan, ada beberapa instansi yang harus terlibat dalam memaksimalkan produk bawang goreng Palu, yakni Dinas Pertanian, Dinas Perdagangan dan Perindustrian, serta Dinas Koperasi dan UMKM.

“Mengetahui komponen apa yang bisa ditekan harganya dalam produksi bawang adalah tugas Dinas Pertanian, konsep penjualannya dari Dinas Perdagangan dan Perindustrian , dan produksi bawang goreng sehingga bernilai jual itu Dinas Koperasi dan UMKM,” jelasnya.

“Misalnya, bisa ditekan sistem intensifikasi produksi. Ada tidak kelompok petani bawang yang bisa menerapkan intensifikasi produksi bawang. Kemudian setelah produksi atau pascapanen berarti harus ada yang tampung. Di Palu itu belum ada suatu standarisasi untuk budidaya bahan baku, dimana ditetapkan break even point-nya (BEP),” jelasnya.

Setyo mengatakan intensifikasi produk bawang yang dilakukan kelompok petani itu tidak langsung yang modern, semi manual saja sudah bagus.

“Berapa hektar kebun bawang yang diperlukan untuk mencapai BEP, harus dihitung, dan dengan pola intensifikasi itu bisa menghasilkan bawang berapa banyak, ini juga harus dihitung. Kalau BEP dalam bidang bahan pangan hitungannya petani tersebut sudah bisa makan dari hasil kebunnya, kalau ada untung, berarti petaninya sudah bisa menabung,” jelasnya.

“Terus siapa yang mau menampung bawang hasil panen petani, misalnya jika kita sepakat yang tampung BUMD, ini baru sampai di tahap pascapanen. Kemudian ketika petani ingin menanam lagi berarti mereka butuh bibit bawang, dari mana lagi mereka bisa ambil bibit bawang ini, siapa yang siapkan bibit ini, karena sekarang ini bibit bawang langka. Mungkin pengadaan bibit ini bisa kita siasati misalnya dengan menyisipkan 30 persen dari hasil panen bawang itu untuk menjadi bibit. Nah bawang yang akan menjadi bibit ini jangan dijual oleh BUMD. Dan syarat suatu bawang menjadi bibit juga harus diketahui, ditambah biaya sortir bawang yang bisa menjadi bibit itu harus diperhitungkan juga oleh BUMD. Petani tinggal ambilbibit siap tanam dari BUMD,” jelasnya.

Setyo mengungkapkan, masalah produk bawang Palu ini adalah permasalahan dari hulu ke hilir.

“BUMD itu siapkan bahan baku dan bibit saja, untung-untung kalau bisa sediakan pupuk. Nah sekarang sudah untung BUMD dan petani, namun di satu sisi misalnya harga bawang masih mahal. Nah ini bisa disikapi dengan umpanya produk bawang goreng itu bisa dijadikan cemilan. Tugasnya UMKM-lah bagaimana bawang goreng itu dikemas menjadi cemilan yang memiliki nilai jual yang bagus, mungkin dari segi kemasan, rasa, disinilah kami lakukan pelatihan-pelatihan,” katanya.

Selanjutnya, pemerintah harus melakukan edukasi kepada customer mengapa harga bawang goreng Palu mahal.

“Ini tugas Dinas Kominfo dan Dinas Pariwisata untuk membuat konten-kontennya, konten edukasinya. Diceritakan di konten itu bagaimana menanam bawang Palu, bagaimana sistem pengairannya, bagaimana cara memotongnya sehingga menjadi bawang goreng, dipotong tidak bisa menggunakan mesin harus manual dan sudut potongnya pun harus diketahui, jika tidak bawangnya hancur.Jika hal ini diceritakan di konten itu, masyarakat Indonesia bisa tahu seperti apa sulitnya memproduksi bawang Palu. Oh ternyata bawang Palu itu manja memang , makanya harganya mahal. Edukasi ini yang penting diketahui masyarakat,” jelasnya.

Reporter: Yusuf Bj

Ayo tulis komentar cerdas