BUKAN hanya namamu cantik, Zakiah Aini, tapi juga wajahmu. Berulang kali kutatap fotomu yang beredar luas di media, keyakinanku selalu sama, kau gadis cantik dan lembut. Lantaran itu, Zakiah, aku hampir tak percaya bila engkau gadis yang menawan dan memesona itu memiliki “kehebatan” luar biasa berhasil menembus Mabes (Markas Besar) Polri dengan pistol di tangan mungilmu.

Mengapa bisa, Zakiah? Bukankah di mall saja betapa beratnya menembus masuk bila membawa hal-hal yang mencurigakan, apalagi berupa pistol maupun berupa senjata tajam. Tapi kau, gadis lembut itu, gadis lemah itu, mampu–dengan bebasnya–menembus penjagaan polisi bersenjata, bukan penjagaan satpam berpentungan seperti di mall, Zakiah.

Tak keliru bila aku menyebutmu gadis lembut dan gemulai. Hal itu terlihat jelas di pekarangan Mabes Polri. Dengan pistol di tanganmu, engkau hanya menari-nari mengelilingi taman rumput dengan letusan-letusan pistolmu, seakan engkau latihan dan sedang bermain drama. Entah dengan siapa.

Ketidakpercayaanku itu kini luluh. Benar engkau gadis lemah, tapi sikapmu keras. Bukan hanya masalah prinsip hidupmu yang hitam-putih, tapi juga melawan akal sehat dan ajaran agamamu. Karena itu di saat engkau pergi untuk selamanya dengan cara mengenaskan, banyak pihak menuduhmu sebagai orang korban. Korban keyakinan yang dibangun oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab yang bertujuan merusak nilai agama dan menghancurkan kedamaian di dunia ini.


Kepergianmu Zakiah menyisakan luka untuk negerimu. Selain menumbuhkan kekhawatiran tentang jalan hitam yang kau pilih menjadi pilihan bagi orang-orang sesat, juga di negerimu kini telah tercipta saling menyalahkan.

Dari Pak RT hingga Presiden mengutuk keras tindakan teroris yang akhir-akhir ini menampakkan wajahnya secara terang-benderang. Lontaran kutukan-kutukan itu pun bersahut-sahutan ke udara. Satu sama lain tak mau kalah untuk membuktikan kalau mereka mengutuk tindakan-tindakan teroris. Maka jangan heran, Zakiah, akibat ulahmu, di negeri ini pun seakan tercipta sebuah musim baru bernama “musim kutukan.”

Seperti biasa, musim itu akan meredup seiring diamnya para aktivitas teroris. Bila suatu hari nanti–semoga tak terulang–ternyata teroris bangkit lagi dari “peristirahatannya”, maka musim kutukan itu pun muncul lagi. Begitulah rutinitas di negeri ini. Entah sampai kapan.

Kemunculannya tak terduga yang membawa luka parah itu, biasanya negara menolak disebut kalah. Ok, tapi rakyatmu berharap, penolakan kalah itu tidak hanya berakhir pada: kata-kata! (#)

Ayo tulis komentar cerdas