Home Hukum & Kriminal

Diorder lewat Mucikari, Diajak Belanja, Berakhir di Kamar

20
TERSANGKA PROSTITUSI - Dua dari empat tersangka kasus prostitusi online di Kota Palu yang berhasil diamankan Polda Sulteng, Jumat 26 Maret 2021. (Foto: Metrosulawesi/ Djunaedi)
  • Belasan Anak di Kota Palu Jadi Korban Prostitusi Online

Palu, Metrosulawesi.id – Polda Sulteng membongkar praktik prostitusi online yang beraktivitas di Kota Palu, Jumat 26 Maret 2021. Polisi menangkap tersangka mucikari dan mengamankan belasan korban dari dua lokasi berbeda.

Penggerebekan pertama dilakukan di salah satu home stay pada Selasa 26 Maret 2021. Di sini polisi mengamankan sebanyak 22 orang. “Dari 22 orang yang diamankan itu, ada 17 orang sebagai korban, dan empat orang lainnya yang bertindak sebagai mucikari. Empat orang ini sudah ditetapkan sebagai tersangka,” kata Kabid Humas Polda Sulteng, Kombes Pol Didik Supranoto SIK kepada wartawan, Selasa 30 Maret 2021.

Korbannya hampir keseluruhannya masih anak di bawah umur. Yakni: AN (16), MR (17), NM (17), BR (14), EE (23), SN (19) dan RS (19). Mereka semua warga Kota Palu dan masih berstatus pelajar, kecuali satu dia ntaranya berasal dari luar kota Palu.

Sedangkan empat orang ditetapkan tersangka yaitu dua pria berinisial WS (22) dan HG (26), serta dua wanita yang brinisial VR (17) serta MR (17), yang kesemuanya warga Kota Palu.

“Untuk para tersangka yang kami lakukan penahanan, yakni kedua orang pria, WS dan HG, sementara dua tersangka lainnya dikarenakan masih di bawah umur, tidak kami lakukan penahanan,” ucapnya.

Didik juga mengatakan bahwa, para tersangka beserta korbannya itu diamankan di Home Stay CI, yang berada di Jalan Basuki Rahmat, Kota Palu, dan di dua kamar di Home Stay tersebut berhasil mengamankan 15 muda-mudi.

Sementara di lokasi yang kedua yakni di Home Stay RJ di Jalan Anoa Kota Palu. Di sini polisi mengamankan tujuh muda-mudi.

Dari kasus ini, polisi mengamankan barang bukti berupa sejumlah Handphone milik tersangka mucikari dan korbannya, uang tunai, alat kontrasepsi (Kondom) yang belum terpakai dan yang sudah bekas terpakai, KTP, serta beberapa barang bukti lainnya.

Para tersangka mucikari menggunakan aplikasi Whatshap (WA) maupun MeChat, dengan modus yang digunakan para pelaku adalah korban menerima booking order (BO) untuk pelayanan jasa prostitusi melalui dua aplikasi, dengan tarif dari Rp300.000 hingga Rp1.500.000.

Polisi menjerat tersangka Pasal 88 Jo pasal 76 huruf (i) UU N0 35 Tahun 2014 Tentang perubahan kedua atas Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan atau Pasal 296 KUHPidana, dengan ancaman pidana maksimal 10 tahun dan denda paling banyak Rp200 juta.

Sementara itu, salah satu tersangka WS yang merupakan Mucikari, mengatakan bahwa dirinya menjalani profesi sebagai mucikari online itu, sejak tiga bulan terakhir dan memang sebagian besar pelanggan mencari anak di bawah umur ataupun yang masih remaja.

“Dalam sehari orderan itu lumayan banyak, malahan ada yang bisa melayani Delapan hingga 10 tamu, dan bukan hanya di satu lokasi, tergantung dari pemesan dimana lokasi mereka nginap,” ujarnya.

“Para pelanggan dari dalam Kota Palu serta luar Kota Palu, dan biasanya mereka (protitusi anak_red) diajak jalan oleh yang mengorder sembari berbelanja, dan nantinya akan berakhir di kamar, sesuai dengan kesepakatan,” ungkapnya.

Kabid Humas Polda Sulteng mengimbau orangtua, untuk melakukan pengawasan terhadap pergaulan yang dilakukan anaknya.

“Jangan biarkan anak-anak terjerumus dalam pergaulan seks bebas, narkoba, minuman keras. Anak adalah titipan Tuhan yang patut kita jaga,” imbaunya.

Reporter: Djunaedi
Editor: Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas