Home Morowali Utara

Rakornis Dispar Sulteng Bahas Penerapan CHSE di Sektor Pariwisata

10
PEMASANGAN SIGA - Wagub Sulteng, Rusli Baco Dg Palabbi didampingi Kadispar Sulteng I Nyoman Sriadijaya (kiri) disambut dengan pemasangan siga dari dua wanita saat tiba di tempat Rakornis Dispar Sulteng, di Aula Kantor Bupati Morut, Senin, 29 Maret 2021. (Foto: Istimewa)

Morut, Metrosulawesi.id – Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Tengah menggelar Rapat Koordinasi Teknis (Rakornis) Pariwisata se- Sulteng, dengan mengusung tema “Penerapan CHSE (Clean, Healthy, Safety dan Environment) bagi Industri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, serta Pengembangan Pariwisata Melalui Promosi Digital untuk Tingkatkan Kunjungan Wisatawan Di Sulteng”.

Kegiatan itu dilaksanakan secara hybrid atau secara offline dan online, di Aula Kantor Bupati Morowali Utara, Senin, 29 Maret 2021.

Wakil Gubernur Sulteng, Rusli Baco Dg Palabbi mengatakan, pariwisata ditetapkan sebagai salah satu sektor prioritas yang perlu dikembangkan dalam meningkatkan perekonomian Indonesia. Mengigat sektor ini memberikan dampak langsung bagi peningkatan pendapatan masyarakat dan menyerap tenaga kerja sekitar 10 persen atau 13 juta orang.

“Namun pandemi Covid-19 tidak dapat dipungkiri telah membawa pengaruh signifikan perekonomian Indonesia, termasuk turunya angka kunjungan wisatawan di sektor pariwisata. Bedasarkan data BPS di Januari-Mei 2020 tercatat perjalanan wisatawan mancanegara turun 53,36 persen,” kata Rusli.

Rusli mengatakan, tentu saja hal ini sangat memprihatinkan mengingat kunjungan wisawatan di Indonesia khusus di Sulteng cukup tinggi, tetapi pada akhirnya harus memudar dalam kurun waktu yang cukup lama.

“Untuk itu protokol kesehatan harus diterapkan oleh pengelola wisata dengan melakukan kebersihan, serta menyemprot disinfektan secara berkala. Utamanya pada area sarana dan peralatan yang digunakan secara bersama-sama dan juga fasilitas umum lainya,” ujarnya.

Menurutnya, Sulteng memiliki keunggulan besar dalam pengembangan pariwisata yakni sektor dan budaya yang tidak dimiliki oleh daerah lain. Tidak hanya itu Sulteng juga memiliki ragam budaya yang sangat unik sehingga menambah keindahan wisata alam dan bahari.

“Maka bangkitnya kembali pariwisata di era new normal ini dianggap waktu yang paling tepat, karena ekonomi pariwisata dan kesehatan saat pandemi adalah dua sisi yang tidak dapat dipisahkan,” katanya.

Kata Rusli, sektor pariwisata harus beradaptasi dengan kebiasaan baru, dan yang terpenting adalah menjaga kepercayaan para wisatawan bahwa mereka aman berkunjung ke Sulteng. Olehnya itu implementasi prokes di semua sektor menjadi fokus bersama.

“Sehingga dapat mendorong para pelaku usaha pariwisata mendapatkan sertifikasi secara gratis, yang menjadi trobosan untuk membangkitkan pariwisata dan membuka lapangan kerja seluas-luasya,” katanya.

Rusli berharap, Rakornis ini dapat menghasilkan suatu komitmen bersama antara pelaku pariwisata Sulteng, dalam menghasilkan kebijakan yang bisa mempercepat akselerasi, revitalisasi, dan pemulihan sektor parekraf di Sulteng, sehingga dapat dijadikan acuan dalam pengembangan parekraf agar dapat bangkit dan bertahan di tengah pandemi Covid-19.

Kegiatan ini diakhiri dengan kegiatan City Tour bersama untuk menjalin silahturahmi dengan sesama peserta dan promosi destinasi pariwisata di Kab. Morowali Utara.

Reporter: Moh. Fadel
Editor: Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas