Home Artikel / Opini

Peluru-Peluru Arbi Sanit

11

ARBI SANIT, manusia merdeka. Bila dia ingin berbicara tentang tingkah penguasa politik di negerinya, maka meluncurlah kata-kata bak desingan peluru-peluru tajam. Tak ada kekuatan yang mampu menghalau arah pelurunya. Keyakinan kebenaran mendasari bidikan-bidikannya yang selalu tepat sasaran. Tak peduli bombardirnya itu akan terbalaskan ketersinggungan atau kemarahan. Ada rasa bahagia tak berbeban saat dia melontarkannya, dan memantulkan gema-gema dari jantung-jantung penguasa, termasuk dari markas militer. Lantaran peluru-peluru tajamnya didasari kecintaan terhadap negerinya, hampir semua kritiknya dapat dipahami, bahkan diterima oleh sasaran tembaknya, lawannya bila hendak disebut lawan.

Marahkah Jokowi saat Arbi Sanit menyimpulkan putra Solo itu sebagai “presiden kebetulan”? Sepertinya tidak. Ya, sepertinya.

Dalam diskusi ILC TVone, pengamat politik dari Universitas Indonesia ini mengatakan, Jokowi terlalu minim pengalaman untuk memimpin negara sebesar dan serumit Indonesia.

“Tetapi masalahnya dia bernasib baik. Tidak ada lagi orang lain. Jadi ini presiden kebetulan,” tegasnya.

Jokowi, kata Arbi Sanit, presiden terlemah dalam sejarah Indonesia. Dia tidak sebanding dengan pemimpin negara ini setelah era reformasi, seperti Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputra, dan Susilo Bambang Yudhoyono.

“Jokowi hanya bisa mengandalkan otoritas hak prerogatif presiden.”

Itulah Arbi Sanit. Bila bicara, tak suka “muter-muter” seperti ular. Tak ada niat berharap buah dari dengung kritiknya yang tajam, selain nilai kemanfaatan perubahan pada objek kritiknya. Boleh jadi dia sepaham dengan penyair si burung merak, WS Rendra. Ketika sudah menyampaikan kritiknya kepada penguasa, dia kembali ke rumahnya, di atas angin.


Arbi Sanit telah pergi untuk selamanya, Kamis 25 Maret 2021. Tentu, karya-karya intelektualnya–puluhan buku–yang berbasis riset kritis untuk negerinya akan terus bermanfaat.

Dia dilahirkan di Sumatera Barat, 4 Juni 1939. Selain dosen ilmu politik di Universitas Indonesai, juga mengajar di Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka.

Meraih gelar sarjana di FISIP UI pada 1969 dengan hasil penelitiannya berupa skripsi tentang Partai Komunis Indonesia (PKI). Mengambil program nongelar Sistem Politik Indonesia di Universitas Wisconsin, Amerika Serikat pada 1973-1974.

Arbi Sanit, boleh meninggalkan hidup ini, namun warisan integritasnya sebagai manusia merdeka akan terus hidup. Semoga peluru-pelurumu tak ikut terkubur bersamamu, tetapi muncul generasi yang terus mendesingkannya. Selamat jalan, Bung. (#)

Ayo tulis komentar cerdas