Home Palu

Vaino, Tradisi Kaili yang Diwariskan ke Generasi Muda

14
LATIHAN VAINO - Dua kelompok siswa mempraktikkan tradisi Vaino dalam pelatihan yang digelar Dinas Dikbud Sulteng, Selasa 23 Maret 2021. (Foto: Metrosulawesi/ Syahril Hantono)

Palu, Metrosulawesi.id – Vaino, sebuah karya budaya masa silam masyarakat suku Kaili ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Nasional oleh Kemendikbud RI tahun 2019 lalu. Pemerintah Provinsi Sulteng melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Sulteng selanjutnya melestarikan tradisi Vaino kepada generasi muda.

Pelestarian dilakukan dengan melatih para siswa SMA dan SMK di Kota Palu yang dimulai Selasa 23 Maret 2021. Berlokasi di Auditorium Dinas Dikbud Sulteng pelatihan diikuti sebanyak 28 siswa dari tujuh sekolah, masing-masing SMAN 1, SMAN 2, SMAN3, SMA Lab School, MAN II, SMKN 1, dan SMKN 2.

Menurut Azmi Anwar, penanggung jawab kesenian, pelatihan ini melibatkan empat orang pelatih yakni Sudarmin, Jho, Vani, dan Kalsum. Keempat orang inilah yang sebagai penutur Vaino yang mengenalkan tradisi itu ke tingkat nasional.

Dikutip dari WBTB Kemendikbud, Vaino ialah satu jenis pertunjukan yang telah ada sejak pertengahan abad ke -17 setelah masuk agama Islam di negeri ini. Vaino salah satu kesenian tradisional orang Kaili yang merupakan pantun dinyanyikan secara berkelompok pria dan wanita. Vaino terdiri dari 2 (dua) kata yaitu Vae (melantunkan syair secara bersahutan) dan Ino (syahdu atau merdu). Vaino sebagai pantun yang dinyanyikan di masyarakat Kaili dipengaruhi pantun melayu yang digunakan sebagai media dakwah dalam syiar Islam.

Nyanyian ini merupakan salah satu kesenian tradisional yang hidup dan berkembang dengan baik di masyarakat kaili , sejak tahun 1950 sehingga sekarang. Perkemabangan vaino dalam pelaksanaan memiliki ciri khas tersendiri, jika dibandingkan dengan kesenian tradisional lainnya.

Hal ini dapat dilihat pada syair-syairnya yang mengandung makna bernilai tinggi. Adapun fungsi Vaino sebagai penghibur duka dan media komunikasi. Isi Vaino berisikan nasehat dan teguran, berkasih-kasihan /perceraian dan cemohan/rasa humor. Vaino juga dijadikan sebagai sarana komunikasi untuk menyatakan baerbagai ungkapan perasaan hati yang syahdu bagi rakyat.

Siswa yang Dilatih dibagi dalam empat kelompok, sesuai jumlah pelatih. Pengenalan Vaino diawali dengan cara melantunkan syair dalam bahasa Kaili. Ada beberapa lembar syair Vaino yang diajarkan kepada siswa, baik irama maupun cara pengucapannya. Nyanyian pantun pada Vaino bersajak a-a yang terdiri dari 4 baris, dimana 2 baris di atas merupakan khiasan dan 2 baris di bawah merupakan arti dari Vaino itu sendiri.

Kepala Bidang Kebudayaan, Dinas Dikbud Sulteng, Dr Rachman Ansyari mengatakan pelatihan Vaino sebagai upaya pelestarian kepada masyarakat.

‘’Vaino telah ditetapkan oleh pemerintah pusat sebagai Warisan Budaya Tak Benda Nasional pada tahun 2019. Nah, tugas pemerintah provinsi melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan adalah melestarikan tradisi Vaino kepada masyarakat khususnya generasi muda,’’ kata Rachman kepada Metrosulawesi, kemarin.

Rachman mengatakan yang diharapkan melalui pelatihan itu adalah siswa mendapat pengetahuan dan pengalaman tentang tradisi Vaino. ‘’Karena itu saya minta tidak berhenti setelah pelatihan ini, tetapi perlu dikembangkan oleh siswa,’’ katanya.

Pengembangan itu sebagai upaya mengenalkan kepada masyarakat, dengan memanfaatkan teknologi informasi. Karena itu Rachman mendorong siswa mengembangkan dan mengenalkan tradisi Vaino melalui media sosial yang sedang tren saat ini.

‘’Bisa kalian kenalkan tradisi Vaino ini melalui media sosial, jadi tidak berhenti setelah pelatihan ini,’’ kata Rachman didampingi Ela Yudhita, kepala Seksi Pembinaan Kesenian dan Kepercayaan Terhadap Tuhan YME.

Reporter: Syahril Hantono
Editor: Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas