Home Artikel / Opini

Kades 3 Periode dan Machiavelli

11

KEMARIN aku ke kampung. Ketemu teman lama. Berbagai cerita dan pengalaman disampaikan. Tentang wabah corona yang membuat warga kampung saling mencurigai. Tentang padi yang tak lagi menguning karena pemerintah tak mengurus pengadaan pupuk murah. Tentang masjid-masjid makin cantik dan megah, namun sepi jemaah. Termasuk tentang ditangkapnya Gubernur Sulawesi Selatan, Prof Nurdin Abdullah oleh KPK. Tampaknya warga kampung pun merasa prihatin dengan ditangkapnya pimpinannya yang bergelar “Prof Andalan” itu. Dari berbagai informasi yang disampaikan itu paling menarik bagiku adalah kisah seorang kepala desa. Masa jabatan kepala desa itu segera berakhir. Menarik, adanya pihak-pihak tertentu berniat mengubah aturan periode pemilihan.

Di desa ini sejumlah tokoh–terang-terangan–ingin mencalonkan diri menjadi kepala desa seiring akan berakhirnya masa jabatan yang kedua kalinya sang kades yang kini masih berkuasa. Sesuai kemufakatan yang tercantum dalam undang-undang di desa itu seorang kepala desa hanya menjabat dua periode, paling lama.

“Di desa ini kini mulai ribut,” ujar teman itu.

“Maksudnya ribut bagaimana?” aku balik bertanya.

“Mungkin pihak-pihak tertentu itu merasa menikmati kekuasaan dengan kepemimpinan kepala desa, maksudnya sang kades bisa diatur-atur, sehingga mereka berjuang untuk mengubah aturan itu.”

“Maksudnya, ingin mengubah aturan itu, sehingga seorang kepala desa bisa menjabat seumur hidup selama warga desa menginginkan, begitu?”

“Dengar-dengar sih, bukan seumur hidup, tapi cukup tiga periode.”

“Ah, jangan-jangan itu hanya isu. Tapi apa memang sang kades berminat lagi melanjutkan kepemimpinannya hingga lebih dua periode?”

“Itulah masalahnya. Kalau bicara sih sepertinya tak berminat, entahlah di hatinya.”

“Berbicara soal hati, itu susah ditebak.”

“Bisa saja kan nanti sang kades mengatakan, dirinya tak berminat menjadi kepala desa lagi, tapi karena pihak-pihak tertentu itu telah mengubah aturan dengan kekuasaan yang digenggamnya, dan diminta lagi mencalonkan diri, akhirnya–dengan pura-pura–sang kades terpaksa menerima permintaan itu. Bisa saja kan begitu, ya ambisi dan siasat bisanya menemukan jalannya, meski jalan itu tak beretika‚Ķ.”


Tiba di kota saya membuka buku berjudul Sang Pangeran. Ditulis oleh seorang filsuf, Nicollo Machiavelli (1469 – 1527). Berkisah tentang bagaimana cara menggapai dan mempertahankan kekuasaan. Jika sebelumnya banyak pemikiran yang memadukan politik dan etika, Machiavelli justru memisahkannya secara tegas.

Dia membuang etika ke comberan sejarah. Bagi Machiavelli: kekuasaan harus direbut dengan berbagai cara. Tak peduli harus memakai trik yang paling kotor. Jika kekuasaan sudah dalam genggaman, maka wajib dipertahankan. Bukankah kekuasaan itu candu! (#)

Ayo tulis komentar cerdas