Home Ekonomi

Petani Sawah di Poso Resah

24
Dinas Pertanian Kabupaten Poso mengimbau para petani yang akan panen untuk tetap menjaga kebersihan dan keselamatan diri. (Foto: Ist)
  • Ribuan Ton Hasil Panen Tak Terserap Pasar

Poso, Metrosulawesi.id – Sejumlah petani sawah di wilayah Kecamatan Poso Pesisir, Kabupaten Poso resah dan mengeluhkan hasil panen mereka yang tak terserap pasar. Pemerintah daerah setempat diminta segera mencarikan solusi untuk menyelesaikan masalah ini.

Arfah, ketua Kelompok Tani Poso Pesisir mengatakan, penyebab beras petani tidak terjual, yakni pembeli dari wilayah Sulawesi Utara, Manado tidak lagi membeli hasil panen di wilayah Poso Pesisir.

“Kalau biasanya kan dari Manado yang beli di sini, tapi sekarang sudah tidak lagi informasi pembeli yang dari Manado malah mengambil hasil panen beras di Kabupaten Parigi,” ucap Arfah.

Keluhan yang sama juga disampaikan petani lainnya yakni Muhdin. Kata dia sudah hampir tiga bulan hasil panen beras tidak tersalurkan ke pembeli karena permasalahan yang sama. Petani kata dia, bingung harus menjual kemana hasil panen mereka.

“Kami tidak tahu mau menyampaikan ini kemana, sementara kami harus lagi untuk mulai turun mengolah lahan pertanian. Kondisi ini kami tidak memiliki modal karena modal kami dari hasil penjualan,” keluhnya.

Bahkan para petani lanjutnya, tidak hanya mengeluhkan biaya modal untuk tanam, namun juga mengeluhkan tak punya uang untuk membiayai hidup keluarga mereka setiap harinya.

Oleh sebab itu permasalahan ini diminta oleh salah satu anggota DPRD Poso dari Fraksi Golkar, Ma’mur Lapido segera dicarikan solusi oleh pemerintah daerah setempat. Pihaknya kata dia juga akan turut berusaha untuk menyelesaikan problem yang dialami warga Poso Pesisir.

“Kami dari dewan akan mendorong dan meminta kepada pemda agar bisa menyelesaikan masyarakat petani sawah terkait hasil panen sawah mereka yang belum dapat terjual yang jumlahnya sangat besar demi kelangsungan hidup masyarakat petani,” ucapnya usai menemui petani Poso Pesisir, Rabu 17 Maret 2021.

Rencananya kata Ma’mur, jika permasalahan ini belum mendapat titik terang, DPRD Poso akan memanggil Pemda Poso dan Bulog serta pihak terkait lainnya untuk membantu menyelesaikan permasalahan petani sawah, sebab berhubungan dengan kondisi ekonomi warga.

Apalagi menurut anggota Komisi II DPRD Poso itu, dari data hasil penyampaian masyarakat kurang lebih 4.000 ton beras hasil panen di beberapa desa Kecamatan Poso Pesisir sama sekali belum dijamah oleh pembeli.

“Saat saya turun lapangan petani mengeluh ada 4.000 ton beras hanya tersimpan tidak terjual, Bulog dan Pemda harus sama-sama kita selesaikan masalah ini secepatnya. Dan permasalahan ini bukan untuk hari ini saja diselesaikan namun ini untuk jangkauan panjang ke depan,” tegas Ma’mur.

Sementara itu, Kadis Pertanian Poso, Suratno mengatakan, beras petani yang tertumpuk di gudang tersebut, sudah berlangsung sejak awal Februari 2021 atau saat masa panen raya pada lahan petani seluas 1.400 hektare lebih.

“Saat ini kami telah berkoordinasi dengan Bulog Poso guna mencari solusi agar beras tersebut dapat terserap di pasaran,” ujar Suratno seperti dikutip dari Antara.

Kepala Cabang Perum Bulog Poso Irfan Faisal mengatakan pihaknya telah turun lapangan melakukan peninjauan sekaligus menyosialisasikan pembelian beras kepada pengumpul dan distributor.

Dia mengatakan Bulog akan membeli beras petani sesuai peraturan harga pembelian pemerintah (HPP) senilai Rp8.300 per kilogram di gudang penyimpanan logistik dengan kualitas medium dan kerusakan di bawah 20 persen.

“Meskipun begitu, tidak semua beras petani dapat dibeli, karena berbagai pertimbangan, di antaranya memperhatikan kualitas produksi sesuai standar medium, atau kerusakan di bawah 20 persen,” ucap Irfan.

Ia mengemukakan pihaknya saat ini sudah membeli sebanyak 100 ton lebih beras petani di Kecamatan Poso Pesisir dan telah berada di gudang logistik.

“Sudah ada beras yang diantar langsung petani di gudang kami, sesuai standar medium dan harga, sebanyak 100 ton lebih yang akan kami bayar,” kata Irfan menambahkan.

Reporter: Saiful Sulayapi
Editor: Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas