Home Ekonomi

Restrukturisasi Kredit Perbankan di Sulteng Menurun

14
Gamal Abdul Kahar. (Foto: Metrosulawesi/ Tahmil Burhanuddin)

Palu, Metrosulawesi.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperpanjang kebijakan restrukturisasi kredit untuk menstimulus perekonomian yang diguncang pandemi. Namun begitu, di Sulawesi Tengah tahun ini jumlah debitur perbankan yang memanfaatkan fasilitas tersebut justru menurun.

Berdasarkan data OJK Sulawesi Tengah, sektor perbankan (bank umum) terjadi penurunan jumlah debitur di tahun 2021 sebanyak 522 debitur dan pada BPR terjadi penurunan sebanyak 414 debitur.

Sementara perusahaan pembiayaan terjadi peningkatan jumlah debitur di tahun 2021 sebanyak 1.282 debitur.

Realisasi restrukturisasi per 26 Februari 2021 pada sektor perbankan, yakni bank umum sebesar Rp2,665 triliun kepada 40.247 Debitur, Bank Pemerintah Daerah (BPD) Sulteng sebesar Rp79,1 miliar kepada 276 debitur, Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Se-Sulteng sebesar Rp18,1 miliar kepada 182 Debitur.

“Realisasi restrukturisasi per 26 Februari 2021 pada perusahaan pembiayaan sebesar Rp2,464 triliun kepada 70.001 debitur,” ungkap Kepala OJK Sulawesi Tengah Gamal Abdul Kahar, Selasa 16 Maret 2021.

Tahun lalu, pada Desember 2020 realisasi bank umum sebesar Rp2,611 triliun kepada 40.769 debitur, BDP Sulteng sebesar Rp79,1 miliar kepada 276 debitur dan BPR se-Sulteng sebesar Rp39,7 mliar kepada 596 debitur.

“IJK (Industri jasa keuangan) lainnya sebesar Rp28,4 miliar kepada 744 debitur. Perusahaan pembiayaan sebesar Rp2,402 triliun kepada 68,719 debitur,” jelas Gamal.

Kata dia, mencermati penyebaran Covid-19 yang masih berlanjut secara global maupun domestik diperkirakan akan berdampak terhadap kinerja dan kapasitas debitur serta meningkatkan risiko kredit perbankan, sehingga perlu diambil kebijakan stimulus perekonomian sebagai countercyclical dampak penyebaran Covid-19. Olehnya, pihak OJK memperpanjang kebijakan tersebut dari yang seharusnya hingga Maret 2021 menjadi Maret 2022.

“Selain itu, kebijakan perpanjangan ini sebagai langkah antisipatif dan lanjutan untuk mendorong optimalisasi kinerja perbankan, menjaga stabilitas sistem keuangan, dan mendukung pertumbuhan ekonomi dengan tetap menerapkan prinsip kehati-hatian dan menghindari terjadinya moral hazard,” katanya.

Menurut dia, debitur yang mengalami kesulitan dapat melakukan pembayaran kreditnya dengan mengajukan permohonan restrukturisasi kredit kepada IJK. Adapun skema restrukturisasi kredit yang dapat dilakukan antara lain, penurunan suku bunga, perpanjangan jangka waktu, pengurangan tunggakan pokok, pengurangan tunggakan bunga, penambahan fasilitas kredit/pembiayaan dan konversi kredit/pembiayaan menjadi Penyertaan Modal Sementara.

“Pemberian restrukturisasi kredit berdasarkan analisa dan evaluasi IJK yang bersangkutan dengan melihat track record atau rekam jejak debitur dan usahanya yang terdampak,” katanya.

Berdasarkan ketentuan pada Pasal 2 POJK 48/POJK.03/2020 Tentang Perubahan Atas Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 11/POJK.03/2020 Tentang Stimulus Perekonomian Nasional, Sebagai Kebijakan Countercyclical Dampak Penyebaran Coronavirus Disease 2019, bank dapat memberikan stimulus terhadap debitur yang terkena dampak penyebaran coronavirus disease 2019 (Covid-19) termasuk debitur usaha mikro, kecil, dan menengah baik secara langsung ataupun tidak langsung pada sektor ekonomi antara lain pariwisata, transportasi, perhotelan, perdagangan, pengolahan, pertanian, dan pertambangan.

OJK menyebut sektor pariwisata, konstruksi, transportasi darat laut udara, pertambangan, keuangan, dan otomotif merupakan sektor yang paling terdampak.

“Sektor pariwisata dan pendukungnya seperti hotel, restoran, dan transportasi akan terdampak demi menghindari penyebaran wabah Covid-19.S ektor konstruksi terdampak karena pekerjaan yang tertunda, termasuk ongoing project yang dapat mengalami biaya pembangunan yang lebih besar. Bahkan bangunan dapat menyusut,” jelasnya.

Sementara sektor transportasi darat, laut, dan udara terdampak karena turunnya mobilitas manusia di tengah penyebaran Covid-19 dan pembatasan wilayah.

Sektor pertambangan terdampak karena ancaman gejolak harga yang disebabkan oleh ketegangan tensi produsen dan ancaman produksi.

“Sektor keuangan terdampak karena adanya ancaman turunnya permintaan masyarakat di tengah penyebaran Covid-19 dan ancaman kepailitan bisnis usaha dan ketidakmampuan membayar pinjaman. Jasa keuangan digital payment berpeluang untuk gains.”

Sektor otomotif terdampak karena ancaman turunnya permintaan masyarakat dengan tendensi untuk menabung di tengah pandemi Covid-19.

Reporter: Tahmil Burhanuddin
Editor: Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas