Home Palu

Wali Kota akan Manfaatkan Lahan Eks Likuefaksi Petobo

16
BERI PLAKAT - Wali Kota Palu, Hadianto Rasyid saat menyerahkan plakat kepada Wali Kota Singkawang, Kalimantan Barat, Ibu Tjhai Chui Mie, di Ruang Rapat Bantaya Kantor Wali Kota Palu, Senin, 15 Maret 2021. (Foto: Metrosulawesi/ Yusuf Bj)

Palu, Metrosulawesi.id – Wali Kota Palu, Hadianto Rasyid menerima kunjungan kerja Wali Kota Singkawang, Kalimantan Barat, Ibu Tjhai Chui Mie beserta rombongan, di Ruang Rapat Bantaya Kantor Wali Kota Palu, Senin, 15 Maret 2021. Pada kesempatan itu Wali Kota Hadianto memaparkan visi misi serta program kerja Pemerintah Kota Palu di bawah kepemimpinannya.

Pada kesempatan itu, Wali Kota Hadianto Rasyid juga memaparkan gambar dari slide in focus tentang rencananya membangun beberapa fasilitas sosial kemasyarakatan di lahan eks (bekas) likuefaksi Petobo.

“Ini adalah kawasan likuefaksi di Kelurahan Petobo. Kawasan likuefaksi yang kami sebut kawasan bergerak ini, dan banyak orang mengasumsikan bahwa ini adalah tsunami darat. Luas lahan likuefaksi ini adalah 187 hektar, yang hari ini sudah ditetapkan oleh pemerintah sebagai zona merah. Tapi bagi kami Pemerintah Kota Palu, kawasan ini tidak bisa dibiarkan teronggok (terbengkalai) begitu saja. Apalagi setelah dua tahun pascabencana,” ungkap Hadianto.

“Kita tahu kawasan Kalimantan Barat termasuk kawasan rawa, dan cara-cara penguatan struktur tanahnya hampir sama sesungguhnya dengan di Kota Palu. Oleh karena itu, kami akan usulkan kepada pemerintah untuk menjadikan kawasan eks likuefaksi Petobo ini menjadi konsep pengembangan agrowisata Petobo,” jelasnya.

Dengan begitu, kata Hadianto, kawasan tersebut bisa dimanfaatkan masyarakat sebagai kawasan yang produktif lagi.

“Bisa menjadi kawasan ekonomi dan kawasan bisnis masyarakat,” jelasnya.

“Memang akan menjadi straight prohibited (pelarangan langsung) bahwa kawasan ini memang tidak akan bisa dimanfaatkan untuk pemukiman,” jelasnya.

Untuk hal ini, Hadianto mengungkapkan pihaknya akan tetap melakukan kajian-kajian komprehensif untuk memastikan bagian dari kawasan likuefaksi yang bisa dilakukan pembangunan di atasnya.

“Karena saat ini kita juga masih terkendala dengan penyelesaian masalah Hunian Tetap (Huntap). Karena Pemerintah Kota Palu ini miskin lahan. Kita mekar kira-kira tahun 90-an dari Kabupaten Donggala, sehingga banyak penguasaan lahan di Kota Palu ini masih dikuasai oleh provinsi atau kabupaten induk sebelumnya,” ungkapnya.

“Karena kami miskin lahan, maka kemudian kami ingin memanfaatkan ini (lahan eks likuefaksi Petobo) untuk betul-betul bisa menjadi jawaban atas masalah Huntap,” jelasnya lagi.

Pantauan metrosulawesi dari slide yang ditampilkan pada pemaparan Wali Kota Hadianto itu, ada beberapa fasilitas yang akan dibangun pada kawasan eks likuefaksi, yakni budidaya hortikultura, perkebunan dan peternakan ikan, kambing, dan sapi, kawasan botanical expo, solar power plant, dan Taman Plaza.

2023, Pemkot Target Raih Adipura

WALI Kota Palu, Hadianto Rasyid mengungkapkan, pihaknya menargetkan pada 2023 Kota Palu dapat meraih Adipura.

“Dalam program kerja kami ada program Kelurahan Mantap Rp2 miliar, adalah lomba kebersihan antar kelurahan. Kelurahan yang terbaik bonusnya Rp2 miliar, terbaik kedua Rp600 juta, dan terbaik ketiga Rp400 juta. Tujuannya untuk menjadi stimulan meraih Adipura pada 2023,” kata Wali Kota Hadianto saat memaparkan visi misi dan program kerja saat kunjungan kerja Wali Kota Singkawang, Kalimantan Barat, Ibu Tjhai Chui Mie beserta rombongan, di Ruang Rapat Bantaya Kantor Wali Kota Palu, Senin, 15 Maret 2021.

Menurutnya, masyarakat harus diberikan stimulus untuk meraih Adipura tersebut.

“Jika masyarakat tidak distimulus, lingkungan tidak stimulus, nanti misalnya jika lomba kebersihan hadiahnya hanya Rp20 juta, ketika masyarakat diajak bersih-bersih jawabannya belakang saya sakit,” kata Hadianto.

Reporter: Yusuf Bj

Ayo tulis komentar cerdas