Home Pendidikan

Sulteng Dapat Kuota Lima SMK-PK

18
Dr. Hatija Yahya. (Foto: Metrosulawesi/ Moh Fadel)
  • Hatija: Nama SMKnya Belum Bisa Disebutkan

Palu, Metrosulawesi.id – Kepala Bidang Pembinaan SMK Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Tengah, Dr. Hatija Yahya mengungkapkan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud RI), memberikan kuota ke Sulteng sebanyak lima Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) untuk disiapkan menjadi sekolah pusat keunggulan (SMK-PK).

“Kami belum bisa menyebutkan SMK mana saja, karena belum dapat persetujuan. Yang jelas ada beberapa SMK yang akan diseleksi, karena kuota yang diberikan ke Sulteng hanya lima SMK,” kata Hatija, di ruang kerjanya, Senin, 15 Maret 2021.

Menurut Hatija, yang ditunjuk menjadi SMK pusat keunggalan itu tentu saja sekolah-sekolah yang besar. Hanya saja pihaknya belum bisa menyebutkan sekolah mana saja yang terpilih, sebab harus melalui proses seleksi dari Kemendikbud RI.

“Yang jelas SMK Pusat Keunggulan diharapkan menjadi pusat studi untuk SMK-SMK yang ada di sekitarnya, kalau saya melihatnya namanya saja yang berubah tetapi program ini yang berkelanjutan,” ujarnya.

Kata Hatija, jika dulu namanya SMK unggulan dan tunya program tersebut sejenis itu juga, yang diharapkan memang menjadi SMK percontohan di wilayah tersebut.

“Kita sebenarnya di Sulteng mengharapkan disetiap Kabupaten/Kota ada SMK-PK, sehingga menjadi unggulan di semua Kab/Kota itu,” katanya.

Olehnya itu, Hatija berharap, kedepanya kuota yang diberikan lebih banyak bukan hanya lima untuk Sulteng. Tetapi disetiap Kab/Kota minimal satu ada SMK pusat keunggulan.

“Kita berharap bahwa setiap kompetensi keahlian yang ada minimal sembilan kompetensi di Indonesia, semuanya ada di Sulteng. Sehingga nanti SMK yang tersebar di Kab/Kota bisa mereka belajar di sekolah itu, yang jelas semuanya dipersiapkan baik dari sisi infrastruktur dan sumber dayanya,” ungkapnya.

Kata Hatija, SMK pusat keunggulan dipersiapkan untuk menjadi pusat industri, artinya di dalam sekolah itu memiliki kelas industri. Karena diharapkan penerapan pembelajaran di SMK unggulan itu bisa bersanding dengan industri.

“Jangan sampai kita salah menetapkan SMK pusat unggulan, karena bukan persoalan siapa yang tempati SMK itu, tetapi bagaimana harus memenuhi syarat dari sisi sumber daya manusianya, maupuan ketersedian sarana prasarananya, karena diharapkan menjadi SMK pembelajar untuk SMK lainnya,” katanya.

Reporter: Moh. Fadel
Editor: Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas