Home Artikel / Opini

Mimpi Pak Moel

23

TAK ada yang boleh melarang Pak Moel– maksudnya Moeldoko–bercita-cita atau bermimpi. Seperti kata Bung Karno: gantungkan cita-citamu setinggi langit. Namun dalam menggapai cita-cita itu pasti butuh perjuangan sesuai tingkatan cita-citanya. Tak pantas memakai cara-cara “menerabas”: nafsu mencapai tujuan secepat-cepatnya tanpa banyak berusaha secara bertahap dari awal hingga akhir.

Nasihat ini pernah disampaikan oleh seorang Begawan Antropolog, Prof Koentjaraningrat dalam buku klasiknya berjudul “Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan.” Dalam buku tipis dengan bahasa yang enak dibaca ini, diterbitkan pada 1974. Mengupas tuntas tentang mentalitas menerabas. Mereka yang suka memakai cara-cara potong kompas dalam mencapai cita-citanya.

Pada mulanya hanya riak kecil terjadi pada tubuh Partai Demokrat. Tak ada yang menyangka riak itu membesar menjadi badai. Gemuruhnya tiba-tiba mendengung ke seantero negeri bersamaan digelarnya KLB, Kongres Luar Biasa, Partai Demokrat di Hotel The Hill Sibolangit, Deli Serdang, Sumatera Utara, 5 Maret 2021. Hasilnya, mengangkat KSP Moeldoko–bukan kader Partai Demokrat–menjadi katua umum, “mengkudeta” ketua umum yang sah, Agus Harimurti Yodhoyono atau AHY. Sampai di sini, apakah Moeldoko, seorang tokoh bermental menerabas dalam meraih mimpinya untuk menjadi ketua umum partai?

Banyak yang menuduhnya demikian. Seorang mantan Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo menilainya tidak kesatria. Andaikan dia kesatria, kata Gatot, tentu memilih jalan seperti jalan yang dipilih oleh jenderal-jenderal purnawairawan lainnya dalam mendirikan partai. Sebutlah itu: Jenderal Wiranto dengan Partai Hanura, Jenderal Prabowo dengan Partai Gerindra, Jenderal Susilo Bambang Yudhoyono dengan Partai Demokrat, dan Jenderal Sutiyoso dengan PKPI (Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia).

Moeldoko korban ajakan dari orang-orang “buangan” Partai Demokrat. Diketahui sejumlah penginisiatif KLB Deli Serdang adalah mereka yang sudah dipecat dalam kepengurusan dan keanggotaan partai. Mereka dinilai telah melanggar aturan partai. Mereka pun kini terpinggirkan. Agar dapat bangkit kembali, orang-orang yang selalu mengklaim diri sebagai pejuang partai di masa awal itu–mereka pun bersiasat dengan jalan apa saja–termasuk mengajak orang luar partai yang bukan kader menjadi pemimpin partai.

Boleh jadi Moeldoko kini menyadari diri sebagai orang korban atau menyadari kekeliruan pilihan menerabasnya, sehingga akhir-akhir ini tokoh penting pemerintahan ini tidak pernah lagi muncul di hadapan publik. Termasuk ketika penginisiatif KLB menggelar jumpa pers di rumah pribadi Kepala Staf Presiden itu.

Korban, lantaran persiapan KLB tidak matang. Hanya dihadiri puluhan Ketua DPC. Tak dihadiri seorang pun Ketua DPD. Tak memenuhi unsur digelarnya KLB yang sah. Kongres ini pun disebut abal-abal karena semua unsur yang dihadirkan melanggar AD/ART Partai Demokrat.

Menerabas, lantaran Moeldoko hanya berjalan di atas rel potong kompas tanpa memerhitungkan tahapan bahwa hidup ini memiliki ketentuan yang disebut hukum alam. Merangkak dari bawah, berdiri, berjalan, lalu berlari.

Ah, bukankah Moeldoko seorang jenderal dan bergelar doktor. Tak mungkin menjadi korban dan memilih jalan menerabas? (#)

Ayo tulis komentar cerdas