Home Hukum & Kriminal

Polisi Buru Pemodal PETI Buranga

BARANG BUKTI - Empat alat berat yang disita Polres Parigi Moutong dari aktivitas PETI di desa Buranga, Kecamatan Ampibabo. Polisi masih memburu pemodal tambang tersebut. (Foto: Metrosulawesi/ Zulfikar)
  • Baru Tetapkan Satu Tersangka dan Sita Empat Ekskavator

Parigi, Metrosulawesi.id – Polisi baru menetapkan satu tersangka kasus Pertambangan Tanpa Izin (PETI) di desa Buranga Kecamatan Ampibabo, yang menelan tujuh korban jiwa. Sementara pemodalnya masih diburu.

Satu orang yang ditetapkan tersangka itu adalah ML (23 thn), warga Desa Maleali Kecamatan Sausu yang menjadi operator ekskavator di lokasi tambang tersebut.

“Untuk diketahui, bahwa saat ini tersangka ML telah ditahan dalam rumah tahanan Negara Polres Parimo berdasarkan surat perintah Kepolisian bernomor: SP. Han/22/III/2021/Sat Reskrim,” tutur Kapolres Parimo AKBP. Andi Batara Purwacaraka SH SIK pada sejumlah wartawan di ruang kerjanya, Rabu 10 Maret 2021.

Selain menetapkan tersangka, polisi juga sudah menyita sebanyak empat ekskavator yang digunakan dalam kegiatan PETI tersebut.

Kapolres juga mengatakan, dalam penanganan perkara PETI Buranga, pihaknya tengah melibatkan beberapa pihak, diantaranya Bareskrim dan keterangan ahli dari IPB yang khusus menerangkan terkait lingkungan.

“Sebab, penetapan sanksi hukum perkara ini menggunakan Undang-Undang RI Nomor 3 Tahun 2020 tetang Perubahan atas Undang- Undang RI Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara dan Pasal 98 Ayat (1) dan (3) Undang- Undang RI Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Sedangkan, soal pelanggaran UU Kehutanan tidak bisa digunakan dalam perkara PETI Buranga, dikarenakan lahan pertambangan itu berstatus Areal Penggunaan Lain (APL), dan tidak masuk kawasan hutan lindung,” terang Kapolres.

Kapolres mengaku, bahwa saat ini dirinya tengah memerintahkan tim untuk melakukan pencarian dan pengejaran terhadap para oknum yang diindikasikan terlibat, baik itu dengan peranan sebagai pemodal maupun selaku operator alat berat. Sebab, saat longsor terjadi di PETI Buranga semua oknum yang harus bertanggungjawab atas tragedi longsor itu, sudah melarikan diri.

“Sehingga, selama proses pengincaran kami dari kepolisian belum ingin memberikan keterangan terkait inisial maupun jumlah para oknum yang sudah menjadi target penangkapan, sebab hal itu akan semakin mempersulit proses pencarian yang kini sedang dilakukan tim Sat Reskrim Polres Parimo saat ini,” akunya.

Kapolres menambahkan, pihaknya serius menangani kasus PETI Buranga, sesuai perintah Kepolisian Daerah (Polda) Sulteng dan Mabes Polri.

“Karena kita ketahui bersama bahwa persoalan PETI Buranga ini sudah menjadi perkara nasional,” pungkas Kapolres.

Sebelumnya, Pengkampanye Walhi Sulteng Khairul Syaputra Laadjim mengatakan, dari hasil temuan Walhi di lapangan, diduga kuat ada keterlibatan sejumlah oknum dalam aktivitas PETI di Desa Buranga, baik dari oknum pemerintahan di tingkat desa, kecamatan, oknum keamanan berpangkat hingga pemodal yang memang sudah malang melintang di bisnis pertambangan ilegal.

Bukan hanya itu oknum yang terlibat langsung dalam aktivitas pertambangan ilegal tersebut, oknum pemerintahan di tingkat kabupaten pun diduga terlibat karena melakukan pembiaran. Sebab, di lokasi terjadi aktivitas pertambangan menggunakan alat berat secara masif.

“Oknum yang terkait ini kalau kita lihat dari keterangan masyarakat itu, misalnya dari aparat desa, kemudian yang diduga juga memberikan izin atas kegiatan pertambangan yang ada di Desa Buranga, pembiaran dari Kecamatan, itu juga dapat dipidana,” ujar Khairul kepada Metrosulawesi, Rabu 3 Maret 2021 lalu.

Menurut data Walhi, ada beberapa lokasi PETI di Sulawesi Tengah, tapi yang dampaknya paling berimplikasi yakni pertambangan di Desa Dongi-dongi, Kelurahan Poboya serta Desa Kayuboko dan Desa Buranga.

Masih di Pagi Moutong, selain di Buranga, ada juga PETI di Kayuboko. Sumber Metrosulawesi menyebutkan tambang di Kayuboko dikelola oknum pengusaha asal Kota Palu berinisial “J”. ‘J’ tidak sendiri dia dibantu temannya yang juga pengusaha dari Sulawesi Selatan berinisial ‘G’,” kata sumber Metrosulawesi.

“Keduanya sudah berbagi tugas masing-masing. Sebagai pemilik bendera, ‘J’ bertugas sebagai orang yang meredam permasalahan di tingkat pejabat tinggi Provinsi. Sedangkan ‘G’, bertugas mengawal proses penambangan emas di Kayuboko, sekaligus melakukan koordinasi dan meredam kicauan pejabat-pejabat di Kabupaten Parimo,” jelas sumber itu.

Untuk diketahui, longsor di lokasi tambang Desa Buranga beberapa waktu lalu menelan korban jiwa sebanyak tujuh orang, sementara puluhan lainnya mengalami luka-luka dan selamat.

Reporter: Zulfikar
Editor: Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas