Home Donggala

PT PMB Kantongi Izin, Tak Tahu Zona Hijau

21
Irwan. (Foto: Metrosulawesi/ Tamsyir Ramli)
  • Penambangan di Kabonga Besar

Donggala, Metrosulawesi.id – Kepala Teknik Tambang PT PMB, Irwan menegaskan pihaknya melakukan aktivitas pertambanagan di Dusun Pangga, Kelurahan Kabonga Besar Kecamatan Banawa berdasarkan ijin operasional dari Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sulteng.

“Izin operasional tidak mungkin diterbitkan ESDM jika area atau lokasi tambang kami masuk kawasan hijau,” katanya kepada wartawan, Sabtu (6/3/2021).

Dia katakan, persoalan Kawasan Hijau tidak diketahuinya. Tapi, menurutnya kawasan pertambangannya masuk wilayah APL (area penggunaan lain).

“Kawasan kami masuk area APL (area penggunaan lain) yang dikeluarkan oleh Kehutanan Provinsi. Jadi dasar kami lakukan aktivitas penambangan adalah APL (area penggunaan lain) dan izin operasional dari ESDM,” sebutnya.

Disinggung dokumen Doklin (dokumen lingkungan) yang tidak bersesuaian di lapangan, Irwan menjelaskan pihaknya tetap berpatokan pada izin operasional ESDM. Persoalan dokumen lingkungan, kata dia yang dikantongi DLH yang menyangkut TUKS (terminal  untuk kepentingan sendiri). Soal ukuran 40X50  tidak seperti itu penjelasannya.

DLH, kata dia mungkin lupa bahwa ada UU Nomor 3 Tahun 2020 atas Perubahan UU Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan. Katanya lagi untuk persoalan jarak jalan raya yang termuat di dokumen lingkungan, DLH harus 200 meter dari lokasi tambang, tidak seharusnya seperti itu.

Kata Irwan dalam Kepmen Nomor 1827 tentang Kaidah Tehnis Pertambangan tidak ada aturan soal jarak lokasi tambang dengan jalan raya.

Pihaknya hanya melihat kajian teknis saja, apakah aman atau tidak, artinya tidak ada aturan mengikat hanya lebih pada anjuran.

“Kalau di ESDM lokasi TUKS (terminal  untuk kepentingan sendiri) namanya wilayah project area, bukan IUP, nanti ada pengurusan project area di luar IUP, ada juga wilayah area operasional lebih dari pada itu ukurannya. DLH berpatokan pada 40X50, TUKS (terminal  untuk kepentingan sendiri) bukan permanen, bisa diperkecil lagi areanya,” jawabnya.

“Untuk persoalan jarak tambang dari jalan raya tidak ada aturan 200 meter, kita berdasarkan kajian teknis saja,” bebernya.

Dia menambahkan polemik tambang yang dialaminya diserahkan sepenuhnya ke Inspektur Tambanag Kementrian ESDM membuat keputusan apakah melakukan penambangan yang baik atau belum sempurna.

“Ada beberapa poin rekomendasi yang dikeluarkan Inspektur Tambang ke perusahaan kami, salah satunya kami diperintahkan berhenti produksi dan itu sudah kami lakukan. Kami akan lakukan kajian rekomendasi dari inspektur tambang tersebut,” tuturnya.

Hermanto. (Foto: Metrosulawesi/ Tamsyir Ramli)

Sebelumnya Kepala Dinas Lingkungan Hidup Hermanto menegaskan ada kegiatan yang dilakukan perusahaan itu tidak sesuai dokumen lingkungan (doklin). Contoh, kata dia jarak badan jalan ke lokasi tambang harus 200 meter, tetapi tidak sesuai faktanya. Kemudian TUKS (terminal untuk kepentingan sendiri) jika merujuk ke dokumen harusnya, 25X 40 meter, tapi fakatanya hampir 100 meter.

Hanya saja DLH tidak memiliki wewenang untuk memberikan sanksi terhadap perusahaan tersebut.

“Tapi kami sudah memberitahukan ke ESDM provinsi terkait persoalan ini,” katanya beberapa waktu lalu.

“Melanggar semua, waktu longsor besar saya di TKP, ada dugaan PT PMB melakukan kegiatan tidak berdasarkan dokumen lingkungan yang ada, kami sudah melaporkan hal ini ke ESDM provinsi, dan pihak ESDM sudah keluarkan rekomendasi salah satunya itu menghentikan aktivitas tambang PT PMB,” jelasnya.

Hermanto menegaskan, jika merujuk pada Peraturan Daerah (Perda) Nomor 1 tahun 2012 tentang RTRW, lokasi PT PMB masuk dalam kawasan Ruang Terbuka Hijau (RTH).

“Iya benar, Kelurahan Kabongan besar itu masuk dalam kawasan RTH. Dalam aturannya kawasan RTH tidak boleh ada aktivitas tambang,” tegasnya.

Diketahui, beberapa hari lalu longsor besar terjadi di wilayah Dusun Pangga Kelurahan Kabonga Besar, atau tepatnya di lokasi galian C milik PT Perdana Matra Bumi (PMB). Longsor menyebabkan seluruh badan jalan Trans Palu-Donggala tertutup material.

Reporter: Tamsyir Ramli
Editor: Syamsu Rizal

Ayo tulis komentar cerdas