Home Palu

Mempertaruhkan Nyawa demi Sebuah Hobi

17
AWAS ADA BUAYA - Dua orang ibu-ibu sedang memancing di lokasi reklamasi penggaraman Talise, Ahad 2 Maret 2021. (Foto: Metrosulawesi/ Yusuf Bj)
  • Memancing Lamotu di Pesisir Pantai Talise

PANTAI lokasi reklamasi penggaraman Talise kini menjadi tempat berlabuhnya kapal para nelayan. Tak jarang, pesisir pantai ini juga menjadi spot alternatif bagi warga untuk memancing ikan ala kadarnya, sekadar mencukupi kebutuhan lauk sehari-hari. Uniknya, sesekali mereka harus extra waspada terhadap ancaman buaya yang kadang lalu lalang sekitar 30 meter di depan mereka.

“Tadi ada buaya lewat sini, sekitar 30 meter, agak jauhlah. Kami lihat semua tadi,” ungkap Haris, seorang petani garam asal Jalan Tombolotutu saat ditemui wartawan Metrosulawesi, Ahad, 7 Maret 2021.

Hampir tiap hari, dari pagi hingga siang, Haris datang ke lokasi itu salurkan kegemarannya memancing. Pria dengan empat cucu ini mengaku ikan yang dipancingnya tidak untuk dijual.

“Kita pancing ikannya orang Kaili disini, ikan lamotu, ikannya kecil-kecil, enak dimakan dengan dabu-dabu. Ini ikan cuma untuk makan sehari-hari di rumah, karena ikan sekarang mahal pak,” kata Haris sambil memperlihatkan hasil tangkapannya yang terbilang belum banyak.

“Hari ini saya mulai agak lambat, karena air laut tadi surut, kita tunggu agak pasang baru memancing. Cuma di sini juga tempatnya ini ikan bermain. Kemarin hampir 200 ikan lamotu saya dapat Pak. Cumahari ini masih sedikit, mungkin karena kondisi cuaca. Tapi yang pasti, kita juga ba pancing disini harus waspada Pak, kadang buaya lewat-lewat sini,” ungkapnya.

Dari beberapa pemancing di hari itu, tampak juga dua orang ibu paruh baya. Keduanya pun tampak sigap mengaitkan umpan di kail, kemudian melemparkannya ke pantai.

“Oh iya, sering ada perempuan memancing di sini. Sama juga dengan saya, mereka dapat ikan untuk kebutuhan di rumah. Kalau saya kan bukan PNS pak, jadi saya bisa isi waktu luang di sini. Dari pada menganggur di rumah,” ungkapnya.

Namun Haris mengaku, kegemarannya memancing tidak menjadi halangan untuk tetap menjalankan profesinya sebagai petani garam.

“Saya tetap menjalankan aktivitas sebagai petani garam. Saya jual garam Talise. Alhamdulillah ada lahan penggaraman yang diwariskan orang tua saya, itu yang saya kelolah,” ungkapnya.

Di kepemimpinan Kota Palu yang baru ini, Haris pun berharap Wali Kota baru bisa memenuhi janjinya kepada warga nelayan sekitar penggaraman Talise.

“Kemarin saya juga salah satu yang mendukung Hadianto Rasyid sebagai Wali Kota Palu. Pada salah satu kesempatan, beliau berjanji untuk membantu perahu bagi nelayan disini, insyaallah beliau tidak lupa dengan itu, biar nelayan disini juga bisa berkembang. Kalau perahunya bagus, insyaallah hasil tangkapan juga bagus,” kata Haris.

Haris pun berharap jalan yang putus di wilayah penggaraman itu bisa tersambung lagi, sehingga akses ekonomi buat para petani garam bisa lebih baik.

“Kemarin sudah di bangun ini tanggul, akhirnya disini bisa jadi lokasi untuk memancing, tapi jalan disini masih putus Pak. Makanya kami petani garam akhirnya ba jual di pinggir jalan sana (Jalan Yos Sudarso). Kalau jualan di jalan ini, sepi pembeli. Jadi kalau bisa, jalan disini segera diperbaiki,” jelasnya.

Waspada dalam menyalurkan hobi, seakan menjadi slogan tak resmi para pemancing di pesisir pantai penggaraman Talise. Namun bagi mereka, memilih spot memancing disitu, bercengkrama dengan kawan pemancing lainnya, ditunjang dengan kondisi sekitar yang jauh dari hiruk pikuk kendaraan, adalah obat stres paling ampuh di tengah kondisi ekonomi yang labil di masa pandemi ini.

Reporter: Yusuf Bj
Editor: Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas