Home Artikel / Opini

Duka Cikeas

18

HAROLD LASWEEL–ilmuwan politik asal Amerika–mengatakan, politik adalah siapa mendapatkan apa dan bagaimana mendapatkannya. Prinsip, nilai, dan etika bukan variabel yang dipertimbangkan untuk meraih kekuasaan. “… dalam politik tidak ada teman atau musuh yang abadi. Kepentinganlah yang abadi,” kata mantan menteri luar negeri Inggris, Lord Henry John Temple Palmerston, suatu hari, entah tahun berapa.

Hari itu, Jumat, 5 Maret 2021. Di sebuah hotel di Deli Serdang, Sumatera Utara, sejumlah orang mengaku kader Partai Demokrat mengadakan pertemuan. Beberapa saat kemudian, kita pun paham, pertemuan itu bukan pertemuan biasa. Mereka–para kader dan mantan kader–itu ternyata menggelar KLB, Kongres Luar Biasa.

Dengan cepat dan tergesa, mereka pun memutuskan Moeldoko–jenderal yang dulu diangkat oleh Presiden SBY sebagai Panglima TNI–menjadi Ketua Umum Partai Demokrat. AHY (Agus Harimurti Yudhoyono), Ketua Umum Partai Demokrat yang sah, anak sulung SBY, telah digulingkan oleh seorang jenderal pensiunan yang kini menjabat KSP, Kepala Staf Kepresidenan, dalam pemerintahan Joko Widodo.

Bagaikan guntur di siang hari. Kira-kira begitulah kehidupan di Cikeas. Sebuah kudeta berdarah dingin telah terjadi. Menerpa kesejukan Cikeas, sebuah simbol kelahiran dan kebangkitan Partai Demokrat.

Tak lama kemudian, SBY menggelar jumpa pers. Tentu di Cikeas. Raut wajahnya marah bercampur sedih. Tak pernah dia bayangkan partai yang didirikannya itu akan diobok-obok oleh orang dalam dan orang luar yang pernah dia besarkan. Marzuki Ali–sang orang dalam itu–diberi kesempatan menjadi Ketua DPR RI. Sejak saat itu dia pun menjadi orang penting di republik ini. Lalu siapa orang luar itu? Dialah Moeldoko, seorang jenderal TNI Angkatan Darat, yang dibesarkan oleh SBY, dengan menjadikannya sebagai Panglima TNI. Jabatan tertinggi dalam dunia ketentaraan di negeri ini.

Mengapa orang dalam dan orang luar yang dulu sangat menghormati SBY, hatinya tiba-tiba terbalik memusuhinya dengan cara merebut paksa kepemimpinan Partai Demokrat yang masih dalam genggaman SBY? Syahwat kekuasaan!

Boleh jadi, mereka yang hadir di KLB Deli Serdang, terutama Marzuki Ali dan Moeldoko, sepaham dengan tarekat politik asal Amerika, Harold Ladwel dan mantan menteri luar negeri Inggris, Lord Hendry John Temple Palmerston.

Bila benar, maka mereka lupa bahwa ini bukan barat, tapi timur yang mengedepankan etika, termasuk di dunia politik.

Semoga saja Duka Cikeas yang kini dibanjiri rasa simpati, tak berlarut. Mengalir bersama badai yang sengaja diciptakan. Tentu saja bila orang dalam dan orang luar itu cepat bertobat. (#)

Ayo tulis komentar cerdas