Home Ekonomi

Subsektor Perikanan Sulteng Turun 1,29 Persen

18
Menteri Kelautan dan Perikanan RI, Edhy Prabowo meresmikan ekspor perdana tuna sirip kuning (yellowfin) asal Sulteng menuju negeri sakura Jepang, lewat Bandara Mutiara Sis Aljufri, pada Selasa pagi (9/6) bertempat di halaman kantor Badan Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Palu. (Foto: Humas Pemprov Sulteng)

Palu, Metrosulawesi.id – Selama Februari 2021, subsektor perikanan di Provinsi Sulawesi Tengah mengalami penurunan indeks nilai tukar sebesar 1,29 persen atau berubah dari 100,53 pada Januari 2021 turun menjadi 99,23 pada Februari 2021.

“Kondisi ini disebabkan oleh penurunan indeks harga yang diterima petani (It) sebesar 1,40 persen lebih besar dari penurunan indeks harga yang dibayarkan petani (Ib) sebesar 0,11 persen,” ungkap Kepala BPS Sulteng Dumangar Hutauruk.

Pada kelompok perikanan tangkap (NTN), ia menyebutkan terjadi penurunan nilai tukar petani sebesar 1,48 persen yakni dari 100,75 pada Januari 2021 menjadi 99,26 pada Februari 2021.

“Penurunan nilai tukar pada subkelompok perikanan tangkap disebabkan oleh indeks harga yang diterima petani (It) turun sebesar 1,60 persen lebih tinggi dari penurunan indeks harga yang dibayar petani sebesar 0,12 persen,” sebutnya.

Selain itu, kata Dumangar, pada kelompok perikanan budidaya (NTPi) mengalami kenaikan indeks nilai tukar sebesar 1,04 persen yakni dari 97,92 pada Januari 2021 menjadi 98,94 pada Februari 2021. Menurutnya, hal ini disebabkan oleh naiknya It sebesar 1,00 persen sementara indeks harga yang dibayar petani turun sebesar 0,04 persen.

“Kenaikan It pada kelompok perikanan budidaya disebabkan oleh naiknya indeks harga pada subkelompok budidaya air laut sebesar 1,90 persen dan subkelompok budidaya air tawar sebesar 0,58 persen, sementara budidaya air payau mengalami penurunan indeks sebesar 1,36 persen,” tuturnya.

Secara keseluruhan, dirinya menyatakan Ib subsektor perikanan turun sebesar 0,11 persen yang dipengaruhi dari turunnya indeks harga konsumsi rumahtangga sebesar 0,21 persen sedangkan indeks biaya produksi dan penambahan barang modal naik sebesar 0,06 persen.

“Pada kelompok perikanan tangkap (NTN) terjadi penurunan indeks harga konsumsi rumah tangga sebesar 0,21 persen, sedangkan indeks biaya produksi dan penambahan barang modal naik sebesar 0,05 persen,” ucapnya.

Hal yang berbeda ditunjukan pada kelompok perikanan budidaya (NTPi) indeks harga yang dibayarkan menurun sebesar 0,04 persen yang disebabkan oleh turunnya indeks harga untuk konsumsi rumah tangga sebesar 0,18persen. Sedangkan, indeks biaya produksi dan penambahan barang modal mengalami kenaikan sebesar 0,19 persen.

Reporter: Fikri Alihana
Editor: Pataruddin

Ayo tulis komentar cerdas